Jakarta, CNBC Indonesia - Penjualan kondom di Indonesia mencatat pertumbuhan dua digit dalam beberapa tahun terakhir, menurut DKT Indonesia, penyedia utama alat kontrasepsi termasuk kondom. Peningkatan penjualan kondom ini terjadi di tengah tren pasangan muda yang menunda atau tidak mau punya anak.
Group Brand Manager DKT Indonesia, Michael Suwito menyebut pertumbuhan penjualan tetap konsisten, meski penetrasi pasar dinilai masih rendah.
"Selama beberapa tahun terakhir kami masih menikmati double digit growth," ujarnya dalam diskusi kampanye 'Mau Kalau Pakai Kondom' di Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Meski demikian, ia menegaskan tingkat penggunaan kondom secara nasional masih tergolong kecil. Menurutnya, berbagai faktor seperti budaya, agama, tekanan sosial, hingga stigma seks bebas masih menjadi penghambat utama edukasi dan pembelian kondom.
Ia bahkan menyoroti fenomena konsumen yang masih merasa malu saat membeli kondom di toko. "Beli saja masih malu-malu. Tunggu toko sepi dulu, ditutup pakai snack supaya tidak terlihat," katanya.
Penjualan kondom di Hari Valentine
DKT juga tidak menemukan lonjakan signifikan saat momen Valentine di Indonesia, berbeda dengan negara Barat yang identik dengan peningkatan aktivitas seksual saat hari kasih sayang. Di tengah pertumbuhan tersebut, edukasi seks yang aman dinilai mulai meningkat seiring keterbukaan informasi di media sosial.
"Jadi, sekarang ini perusahaan menilai upaya edukasi masih perlu diperluas agar angka kehamilan tidak direncanakan dan infeksi menular seksual bisa ditekan," ujar Michael.
Di kesempatan yang sama, Clinical Training Manager DKT Indonesia, dr. Erika Indrajaya, menegaskan penggunaan kondom punya nilai penting dari sisi kesehatan masyarakat karena fungsinya tidak hanya untuk kontrasepsi.
"Kondom itu ada tiga fungsi. Pertama untuk mencegah kehamilan, kedua melindungi dari infeksi menular seksual termasuk HIV, dan ketiga bisa membantu meningkatkan kenikmatan seksual karena teknologi kondom sudah berkembang dengan banyak varian," jelas dr. Erika.
Ia juga menyinggung kebiasaan sebagian pasangan yang mengandalkan metode "keluar di luar" (withdrawal) untuk mencegah kehamilan. Menurut dr. Erika, metode tersebut punya risiko kegagalan yang tidak kecil.
"Kalau tidak dilakukan dengan benar, gampang banget gagal. Karena 18-20% keluar di luar itu bisa menyebabkan kehamilan. Anggapannya 1 dari 5," ujarnya.
(hsy/hsy)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
2

















































