Jakarta, CNBC Indonesia - Bahaya media sosial bagi kesehatan mental anak terus menjadi perhatian pemerintah di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Raksasa media sosial seperti Meta Platforms (Instagram, Facebook, WhatsApp, Threads) mendapat tekanan hukum di mana-mana.
Meta Platforms diminta berupaya lebih kuat dalam memastikan platform-nya aman bagi pengguna. Namun, beberapa pihak menilai Meta lebih memprioritaskan keuntungan ketimbang menjaga platform-nya tetap aman digunakan anak muda.
Terbaru, pengacara untuk negara bagian Tennessee menyampaikan kepada juri di Nashville pada awal pekan ini bahwa jajaran pimpinan Meta Platforms mengabaikan riset internal mengenai dampak Instagram terhadap remaja, demi mengejar keuntungan maksimal dari pengguna muda.
Dalam pernyataan pembuka pada persidangan tujuh minggu di pengadilan negara bagian Tennessee, pengacara pemerintah menyebutkan para peneliti Meta berulang kali memperingatkan adanya remaja yang menggunakan platform tersebut secara kompulsif.
Hal ini memicu gangguan makan, depresi, hingga aksi melukai diri sendiri. Namun, terlepas dari peringatan tersebut, Meta tidak mematikan fitur-fitur seperti pemutar otomatis (autoplay), notifikasi, dan gulir tanpa batas (infinite scroll) yang, menurut pengacara, dirancang untuk menahan remaja di Instagram selamanya sekaligus meningkatkan jumlah iklan yang mereka lihat.
Seorang pengacara Meta membantah hal tersebut dan menyatakan bahwa perusahaan telah bersikap transparan mengenai risiko yang dihadapi remaja di Instagram serta jumlah konten berbahaya yang ditemukannya. Perusahaan bekerja keras untuk menemukan masalah dan memperbaikinya, ujarnya.
Instagram Diminta Berubah Total
Gugatan yang diajukan oleh kantor Jaksa Agung Tennessee, Jonathan Skrmetti, menuntut sanksi finansial serta perintah pengadilan yang mewajibkan Instagram mengubah sejumlah aspek platform yang dinilai merusak kesehatan mental remaja, dikutip dari Reuters, Selasa (28/7/2026).
Jika juri menyatakan perusahaan bersalah, persidangan akan berlanjut ke tahap kedua di hadapan Hakim Russell Perkins, yang memimpin persidangan, untuk memutuskan apakah perusahaan harus membayar denda finansial dan melakukan perubahan pada Instagram agar lebih aman bagi remaja.
Selama pernyataan pembuka, yang disaksikan Reuters melalui Courtroom View Network, Tom Cartmell, pengacara mewakili negara bagian, memutar suara "denting" khas dari notifikasi yang masuk ke ponsel pintar. Imbalan tak terduga seperti notifikasi memicu lonjakan dopamin yang mendorong kecanduan, yang berdampak sangat kuat pada otak anak-anak, ujar Cartmell.
Meta memahami ilmu saraf di balik alasan mengapa para remaja begitu sulit lepas dari platformnya, kata Cartmell.
Cartmell menunjukkan dokumen internal tahun 2017 kepada juri, di mana manajer produk Meta menulis bahwa fitur seperti notifikasi dan infinite scroll "pada dasarnya bertolak belakang dengan kesejahteraan pengguna" dan menyatakan bahwa perusahaan perlu memperingatkan publik.
"Peringatan ini tidak pernah ada," kata Cartmell.
Kevin Huff, pengacara untuk Meta, mengatakan dokumen-dokumen yang dikutip Cartmell justru menjadi bukti bahwa perusahaan aktif mencari masalah di platformnya agar dapat memperbaikinya.
Perusahaan telah mengembangkan berbagai fitur untuk membantu membatasi penggunaan Instagram yang bermasalah, serta berupaya memberdayakan guru dan orang tua dalam menjaga keselamatan remaja, kata Huff.
Huff meminta para juri untuk mempertimbangkan apakah Meta harus menanggung beban sendirian atas masalah sosial seperti bunuh diri, eksploitasi anak, dan kecanduan.
"Kami yakin bukti akan menunjukkan bahwa Meta menjalankan perannya dan memberdayakan pihak lain untuk melakukan bagian mereka, karena melindungi remaja di dunia maya adalah tanggung jawab bersama. Membutuhkan peran seluruh lapisan masyarakat," ia menuturkan.
Hampir setiap negara bagian di Amerika Serikat telah mengajukan gugatan terhadap Meta terkait dugaan dampak platformnya terhadap anak-anak. Puluhan gugatan telah digabungkan dalam litigasi multidistrik di San Francisco, sementara banyak negara bagian lain menggugat di pengadilan masing-masing.
Secara terpisah, Meta dan perusahaan media sosial lainnya juga menghadapi ribuan gugatan yang diajukan oleh individu maupun distrik sekolah.
Gugatan Tennessee ini merupakan kasus tingkat negara bagian kedua yang sampai ke tahap persidangan juri. Awal tahun ini, juri di New Mexico menyatakan perusahaan bersalah dan memerintahkannya membayar US$375 juta. Hakim saat ini sedang mempertimbangkan sanksi finansial tambahan serta perintah yang mewajibkan perusahaan mengubah Facebook, Instagram, dan WhatsApp di negara bagian tersebut.
(fab/fab)
Addsource on Google

4 hours ago
3

















































