Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel memberikan peringatan keras kepada Amerika Serikat (AS) bahwa aksi militer apa pun yang dilancarkan terhadap negaranya akan berujung pada pertumpahan darah yang hebat. Ketegangan baru ini diprediksi bakal memicu konsekuensi yang tidak terhitung bagi perdamaian serta stabilitas keamanan di seluruh kawasan.
Mengutip laporan Reuters pada Senin (18/05/2026), peringatan tersebut disampaikan oleh Diaz-Canel menanggapi laporan intelijen terklasifikasi yang diterbitkan oleh Axios pada hari Minggu lalu. Laporan itu menuduh Kuba telah mengakuisisi ratusan drone militer dan membahas rencana serangan udara untuk menggempur pangkalan angkatan laut AS di Teluk Guantanamo, kapal-kapal militer AS, hingga wilayah Key West di Florida.
Pemerintah Kuba langsung membantah keras tuduhan tersebut dan menilai AS sengaja mengada-ada demi memuluskan rencana invasi. Melalui akun media sosial resminya, Presiden Kuba menegaskan bahwa negaranya sama sekali bukan merupakan ancaman keamanan bagi Washington.
"Kuba tidak mewakili suatu ancaman," ujar Miguel Diaz-Canel dalam sebuah unggahan di platform X seperti dikutip dari Reuters.
Meskipun saat ini tengah didera kesulitan ekonomi yang sangat parah, gelombang perlawanan justru terus disuarakan oleh warga sipil di jalanan ibu kota Havana. Blokade energi yang dilakukan oleh AS sejak penangkapan Presiden Venezuela pada Januari lalu telah membuat Kuba kehabisan bahan bakar dan hanya bisa menikmati aliran listrik selama satu atau dua jam saja dalam sehari.
Seorang warga Havana menyatakan bahwa masyarakat Kuba memiliki keberanian yang tinggi untuk angkat senjata dan tidak akan membiarkan militer AS datang tanpa perlawanan.
"Saya tahu Kuba adalah negara yang kuat. Orang Kuba sangat berani dan mereka tidak akan mendapati kami dalam kondisi tidak siap," kata Sandra Roseaux, seorang warga berusia 57 tahun kepada Reuters.
Roseaux juga menegaskan bahwa kondisi kelaparan akibat sanksi ekonomi tidak akan menyurutkan niat mereka untuk mempertahankan kedaulatan tanah air.
"Jika mereka datang, mereka harus bertempur, karena Kuba akan membalas. Negara saya, dalam kondisi lapar atau bagaimanapun jalannya, akan membalas. Lebih baik mereka tidak datang karena akan ada pertempuran," tutur Roseaux melanjutkan.
Hubungan diplomatik kedua negara yang telah bermusuhan sejak era Perang Dingin ini semakin memanas setelah beredar laporan bahwa jaksa AS berencana mendakwa mantan pemimpin Kuba, Raul Castro, atas insiden penembakan jatuh dua pesawat kemanusiaan pada tahun 1996 silam. Rencana pendakwaan terhadap pria berusia 94 tahun tersebut dinilai menjadi eskalasi tekanan politik paling agresif yang dilakukan oleh pemerintahan Donald Trump.
Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez langsung melayangkan pembelaan hukum internasional dan menyatakan bahwa negaranya memiliki hak penuh untuk melindungi diri.
"Kuba, seperti setiap bangsa di dunia, memiliki hak atas bela diri yang sah terhadap agresi eksternal di bawah Piagam PBB dan hukum internasional," tegas Bruno Rodriguez melalui unggahan di media sosialnya.
Di sisi lain, sebagian warga lansia di Havana juga menyuarakan agar kedua belah pihak lebih memilih jalur diplomasi ketimbang mengerahkan kekuatan militer secara sepihak.
"Tidaklah benar bagi Amerika Serikat untuk menginvasi Kuba, tidak pula benar bagi Kuba untuk menginvasi Amerika Serikat," ujar Ulises Medina, warga Havana berusia 58 tahun.
Medina meminta kedua kepala negara untuk duduk bersama guna meredam konflik bersenjata yang dapat merugikan kedua belah pihak.
"Mereka harus mencapai kesepakatan dan berbicara serta bernegosiasi. Kuba, bagaimanapun juga, akan mempertahankan dirinya sendiri karena negara ini tidak akan diserahkan begitu saja," ucap Medina menjelaskan.
Meskipun demikian, semangat revolusi 1959 tampaknya masih membakar ingatan para warga senior di Kuba yang menegaskan bahwa rakyat tidak akan membiarkan sejengkal tanah pun diintervensi oleh asing.
"Rakyat Kuba tidak membiarkan siapa pun mencampuri tanah mereka," kata Jorge Villalobos, seorang warga sepuh berusia 87 tahun kepada Reuters.
Villalobos meyakini bahwa keterbatasan senjata modern bukan menjadi penghalang bagi warga lokal untuk memukul mundur pasukan militer AS.
"Orang Kuba tahu bagaimana cara mempertahankan diri mereka sendiri, bahkan dengan tongkat dan batu," ujar Villalobos menegaskan.
(tps/tps)
Addsource on Google

2 hours ago
2
















































