Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
04 March 2026 19:45
Jakarta, CNBC Indonesia- Harga aluminium global terus merangkak naik di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah. Pada Rabu (4/3/2026), aluminium diperdagangkan di level US$3.307,65 per ton, naik 0,92% dibanding hari sebelumnya.
Dalam satu bulan terakhir, kenaikannya mencapai 8,98%. Secara tahunan, harga sudah melonjak 24,10% berdasarkan perdagangan contract for difference (CFD) yang melacak pasar acuan komoditas ini.
Kenaikan tersebut terjadi setelah eskalasi konflik yang berdampak pada arus pelayaran di Strait of Hormuz. Sekitar 150 kapal dilaporkan tertahan di kawasan itu. Jalur ini merupakan salah satu simpul distribusi energi dan komoditas antara Asia dan Eropa. Gangguan di titik ini langsung mengganggu persepsi pasokan global.
Aluminium acuan yang diperdagangkan di London Metal Exchange sempat menyentuh level tertinggi lebih dari satu bulan. Kawasan Timur Tengah sendiri merupakan pemasok utama aluminium primer dunia, dengan sebagian besar produksi dikirim ke Amerika Serikat dan Eropa. Ketika logistik tersendat, pasar fisik ikut tertekan.
Menurut analisis Goldman Sachs, risiko terbesar saat ini berasal dari kemungkinan terhentinya ekspor dan distribusi bahan baku melalui Hormuz. Jika gangguan bertahan singkat, ruang kenaikan harga terbatas. Namun jika hambatan berlangsung hingga satu bulan, dampaknya akan terasa pada struktur persediaan global.
Simulasi bank tersebut memperkirakan kehilangan produksi penuh selama satu bulan dapat memangkas rasio persediaan aluminium global kuartal I-2026 dari 51 hari konsumsi menjadi 48 hari. Dalam pasar logam dasar, perubahan kecil pada rasio stok dapat memicu lonjakan harga tajam. Situasi menjadi lebih sensitif karena biaya energi masih tinggi, sementara smelter aluminium sangat bergantung pada listrik.
Dalam skenario tekanan ganda antara stok menyusut dan energi mahal, harga aluminium berpotensi terdorong ke kisaran US$3.600 per ton. Level itu sekitar US$400 di atas harga spot saat ini. Kenaikan tersebut diperlukan agar margin produsen tetap terjaga.
Meski demikian, proyeksi dasar Goldman untuk semester I-2026 berada di rata-rata US$3.150 per ton. Artinya, reli yang sedang terjadi sangat bergantung pada durasi gangguan di Selat Hormuz. Jika jalur kembali normal dalam waktu dekat, tekanan harga bisa mereda.
Bagi industri pengguna, lonjakan 24% dalam setahun menjadi sinyal serius. Sektor otomotif, konstruksi, dan manufaktur kemasan menghadapi potensi kenaikan biaya bahan baku.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Addsource on Google

3 hours ago
3

















































