Jakarta, CNBC Indonesia - India tengah memasang ambisi besar untuk menjadi "superpower" stroberi dunia. Ya, negeri Bollywood kini hendak menantang Amerika Serikat (AS) dan Eropa yang selama ini menguasai bibit unggul buah tersebut.
Di bagian barat India, kawasan pegunungan Mahabaleshwar menjadi pusat sebagian besar perkebunan stroberi di negara tersebut. Sekitar 85% budidaya stroberi India berada di wilayah ini.
Ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut membuat kawasan tersebut memiliki musim tanam yang panjang dan sejuk, yakni antara November hingga Maret. Selain itu, tanah yang ringan dan memiliki sistem drainase yang baik sangat cocok untuk budidaya stroberi.
Namun, ambisi itu, bukan hal mudah. Budidaya stroberi membutuhkan tenaga kerja yang besar dan memiliki risiko tinggi.
"Kalau kebun stroberi sedang penuh buah lalu tiba-tiba hujan deras turun, seluruh hasil panen bisa rusak dan kami harus menanggung kerugian besar," ujar salah satu petani Sheetal Danavle, sebagaimana dibuat BBC International, dikutip Jumat (31/7/2026).
Belum lagi tanaman stroberi yang harus diganti setiap musim dan tidak ditanam dari biji. Sebagai gantinya, petani membeli bibit muda dari pemasok.
Di India, biaya pembelian bibit untuk kebun kecil mencapai sekitar US$2.500 setiap tahun. Ini sekitar Rp 41 juta.
"Kalau musim panennya bagus, kami bisa memperoleh keuntungan dua kali lipat dari modal. Tapi cuaca membuat usaha ini menjadi pertaruhan yang sangat besar," katanya.
Bibit Impor
Sebenarnya, ribuan petani membudidayakan stroberi di wilayah Mahabaleshwar sehingga buah ini menjadi salah satu komoditas hortikultura paling menguntungkan di India bagian barat. Meski demikian, industri stroberi India masih bergantung pada varietas yang diimpor dari California, Florida, Italia, dan Spanyol.
Hingga kini belum ada varietas stroberi lokal yang berhasil dikembangkan. Dibutuhkan waktu sekitar 10 hingga 15 tahun bagi pemulia tanaman di AS dan Eropa untuk menghasilkan varietas stroberi berkualitas tinggi yang kemudian dipatenkan.
"Kami mengimpor tanaman induk bersertifikat dari para pemulia di luar negeri," kata pendiri sekaligus direktur Tara Farms Fresh, perusahaan pembibit stroberi berlisensi, Nelson Sequeira.
Setelah masuk ke India, tanaman induk tersebut harus menjalani proses karantina pemerintah sebelum ditanam di pembibitan. Dari tanaman induk inilah kemudian tumbuh bibit-bibit baru yang selanjutnya dijual kepada para petani.
"Satu tanaman induk impor ibarat sebuah mesin produksi. Satu tanaman mampu menghasilkan rata-rata 20 bibit baru melalui stolon, bahkan petani yang lebih maju bisa memperoleh 30 hingga 40 bibit dari satu tanaman induk," jelas Sequeira.
"Tanaman tidak menyentuh tanah. Kami menggunakan pipa industri berukuran besar yang dibelah menjadi dua sehingga membentuk wadah panjang menyerupai talang," katanya menyebut proses tersebut merupakan operasi berteknologi tinggi dan sangat presisi.
"Sebagai pengganti tanah, kami menggunakan media tanam khusus berbahan cocopeat yang seluruhnya berasal dari sabut kelapa. Kami juga memasang sistem irigasi tetes dan pengabutan (fogging) yang sangat presisi untuk mengendalikan iklim mikro."
Strawberry Foto: Jacek Dylag via Unsplash
Varietas Stroberi Lokal
Saat ini Sequeira dan para pembibit lainnya masih bergantung pada tanaman induk dari luar negeri. Namun kondisi tersebut diharapkan berubah berkat penelitian yang dilakukan Mahatma Phule Krishi Vidyapeeth (MPKV), sebuah universitas pertanian di Maharashtra.
MPKV bekerja sama dengan Bhabha Atomic Research Centre (BARC) dalam program pemuliaan stroberi. Para peneliti menggunakan radiasi gamma dosis rendah yang dikendalikan pada jaringan tanaman untuk memicu mutasi genetik yang stabil.
"Tujuan kami adalah mempercepat pengembangan varietas stroberi pertama asli India yang tahan terhadap perubahan iklim, memiliki ukuran buah besar, tekstur padat seperti varietas asing, tetapi juga mampu bertahan terhadap gelombang panas di India," ujar dosen hortikultura di MPKV, Dr. Darshan Shashank Kadam.
Ia mengakui proses tersebut kemungkinan memerlukan waktu 10 hingga 15 tahun. Sambil menunggu hasil penelitian, MPKV juga membantu petani dengan menyusun paket teknologi budidaya.
"Kami telah menetapkan jadwal tanam, rekomendasi pemupukan, dan penggunaan zat pengatur tumbuh yang disesuaikan khusus dengan kondisi Mahabaleshwar," katanya.
Hidroponik dan AI Jadi Andalan
Sementara itu, perkebunan skala besar mulai mengadopsi teknologi modern. Pendiri sekaligus CEO Berry Fresh Agrotech, Ketan Yashwant Sodha, mengaku awalnya menggunakan metode budidaya konvensional di lahan terbuka.
Namun selama satu dekade terakhir, hujan terus turun saat musim panen utama antara November hingga awal Januari. Sehingga hasil panennya sering gagal.
"Ketika tanaman sedang berada di puncak produksi, satu kali hujan saja bisa menghancurkan seluruh kebun," ujarnya.
Karena itu, pada 2022 ia mulai bereksperimen menggunakan sistem hidroponik, yaitu metode budidaya tanpa tanah yang memungkinkan pengendalian air, nutrisi, cahaya, dan suhu secara ketat. Meski mengalami banyak kegagalan di awal, Sodha akhirnya berhasil mengembangkan sistem tersebut.
"Kami telah menguji 19 varietas stroberi, termasuk varietas langka dari Jepang, dan menjadi satu-satunya perusahaan di India yang sedang menguji varietas khusus dari Belanda musim ini," katanya.
Ia mengatakan setiap tanaman hanya diberi sekitar 750 mililiter air per hari agar menghasilkan buah dengan kadar gula dan aroma yang lebih pekat. Timnya juga rutin melakukan analisis laboratorium terhadap daun dan tangkai daun untuk mengetahui secara tepat kebutuhan nutrisi tanaman.
Dengan menggunakan rumah tanam semi-tertutup (polyhouse), stroberi kini dapat diproduksi sepanjang tahun. Perusahaannya kini berencana memperluas usaha menjadi fasilitas seluas lima acre yang mampu menampung sekitar 200.000 tanaman.
Stroberi bukan lagi buah musiman bagi kami," ujar Sodha.
Petani lain, Krishan Bhilare, yang keluarganya telah menanam stroberi selama beberapa generasi di Mahabaleshwar, juga mulai memanfaatkan teknologi. Melalui jaringan Farmer Producer Organisation (FPO), mereka memasang menara pemantau cuaca di beberapa titik lahan.
Sistem tersebut menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk memprediksi kapan hujan akan turun sehingga petani dapat menunda penyemprotan pestisida agar tidak terbuang sia-sia. Kelompok petani juga membangun sistem pertanian vertikal menggunakan media cocopeat.
"Dengan menumpuk lima pot dalam satu menara vertikal, kepadatan tanaman meningkat dari 25.000 menjadi 125.000 tanaman per acre. Artinya, kapasitas produksi meningkat lima kali lipat tanpa perlu menambah luas lahan," ujar Bhilare.
Namun investasi tersebut masih terlalu mahal bagi banyak petani kecil. Danavle sebenarnya pernah mencoba hidroponik pada 2017 dan berhasil menghasilkan stroberi organik berkualitas tinggi tapi sebuah siklon besar menghancurkan seluruh instalasi hidroponiknya.
"Setelah itu kami tidak punya keberanian untuk membangunnya lagi," katanya.
"Saya membuat video tentang cara menanam stroberi dan mengajak wisatawan datang ke kebun untuk belajar sekaligus memetik buah sendiri. Mereka membeli langsung dari kebun sehingga kami tidak lagi bergantung pada perantara. Pendapatan kami pun meningkat. Sekarang saya menjadi influencer sekaligus wirausaha," ujarnya.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]

1 hour ago
2

















































