Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
23 September 2026 12:40
Jakarta, CNBC Indonesia - Pembayaran bunga mulai mengambil bagian besar dari anggaran pemerintah di sejumlah negara yang masuk kelompok organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) . Parahnya lagi, di beberapa negara lebih dari 10% belanja pemerintah nya kini hanya digunakan untuk membayar bunga utang.
Berdasarkan data OECD yang dilansir dari Visual Capitalist, Amerika Serikat (AS) menanggung pembayaran bunga terbesar secara nominal.
Angka nominal dalam data tersebut telah disesuaikan dengan perbedaan daya beli atau purchasing power parity (PPP). Data yang digunakan merupakan posisi 2025 atau tahun terakhir yang tersedia.
Tagihan bunga bersih pemerintah AS telah mencapai lebih dari US$1,2 triliun per tahun, lebih besar dibandingkan nilai ekonomi tahunan mayoritas negara di dunia.
Namun, AS bukan negara yang menghabiskan porsi anggaran terbesar untuk membayar bunga. Posisi tertinggi justru ditempati oleh Meksiko.
Meksiko Paling Banyak Habiskan Anggaran
Meksiko menggunakan 10,9% dari total belanja pemerintah untuk membayar bunga utang, tertinggi di antara negara yang masuk dalam daftar.
Secara nominal, beban bunga bersih Meksiko mencapai US$107,1 miliar setelah disesuaikan dengan perbedaan daya beli.
AS berada tepat di bawahnya dengan porsi sebesar 10,6%. Namun, nilai pembayaran bunganya jauh lebih besar, mencapai US$1,23 triliun.
Peringkat selanjutnya ditempati Kolombia dengan porsi 7,4%, Italia 7,1%, dan Hungaria 7%.
Islandia menggunakan 6,5% dari anggaran pemerintah untuk bunga utang. Setelah itu terdapat Israel sebesar 6,2%, Kosta Rika 6,1%, Rumania 6%, Inggris 5,9%, dan Yunani 5,6%.
Besarnya biaya dalam dolar dan porsinya terhadap belanja dapat menghasilkan peringkat yang berbeda. AS membayar bunga paling besar secara nominal, tetapi Meksiko menanggung porsi tertinggi dibandingkan keseluruhan belanja pemerintahnya.
Berbeda dengan pembangunan infrastruktur atau pelayanan publik, pembayaran bunga sebagian besar merupakan biaya untuk membiayai kewajiban yang sudah ada.
Secara keseluruhan, pembayaran bunga pemerintah di negara OECD mencapai 3,3% terhadap produk domestik bruto pada 2024. Jumlah tersebut bahkan melampaui pengeluaran pertahanan.
Tagihan Bunga Masih Bisa Membesar
Beban bunga saat ini belum sepenuhnya mencerminkan tingkat suku bunga pinjaman terbaru. Sebagian besar utang yang beredar diterbitkan ketika bunga masih berada di level sangat rendah.
Utang tersebut secara bertahap akan jatuh tempo dan harus diganti dengan penerbitan baru.
Hampir 45% utang pemerintah negara OECD akan jatuh tempo hingga 2027. Utang yang jatuh tempo pada 2025-2027 memiliki yield rata-rata di bawah 2%.
Sementara itu, rata-rata bunga obligasi pemerintah tenor 10 tahun diproyeksikan berada di sekitar 3,6% pada 2025.
Gelombang utang murah yang jatuh tempo tersebut dapat membuat tagihan bunga pemerintah terus meningkat karena harus diganti dengan utang baru yang menawarkan bunga lebih tinggi.
Tujuh Negara Justru Mencatatkan Bunga Negatif
Tidak semua negara OECD mencatatkan belanja bunga bersih yang positif.
Swiss, Jepang, Swedia, Luksemburg, Denmark, Korea Selatan, dan Norwegia memiliki belanja bunga bersih negatif sehingga tidak dimasukkan dalam peringkat.
Pemerintah di negara-negara tersebut memiliki aset keuangan yang menghasilkan pendapatan bunga. Ketika pendapatan itu lebih besar dibandingkan bunga yang dibayarkan atas utang, belanja bunga bersih menjadi negatif.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa jumlah utang tidak dapat berdiri sendiri untuk mengukur beban bunga. Aset yang dimiliki pemerintah, besarnya kewajiban, serta tingkat bunga yang dibayar turut menentukan beban yang sebenarnya.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)

1 hour ago
2

















































