Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) parkir di zona hijau pada sesi I perdagangan siang ini, Rabu (23/9/2023). Berdasarkan data IDX Mobile, IHSG pada pembukaan perdagangan naik 40,42 poin atau 0,64% ke level 6.317,46.
Pada awal perdagangan, indeks dibuka di level 6.446,90 dan sempat menguat hingga mencapai level tertinggi harian 6.451,33. Namun, tekanan jual kemudian membawa IHSG berbalik melemah hingga menyentuh level terendah di 6.381,57.
Dari pergerakan intraday, IHSG sempat bergerak di kisaran 6.420-an setelah mengalami tekanan pada awal perdagangan. Indeks kemudian kembali menguat dan mendekati level 6.430, tetapi penguatan tersebut tidak mampu bertahan hingga akhir sesi. Menjelang penutupan, IHSG kembali mengalami tekanan dan bergerak turun menuju level 6.380-an.
Penguatan IHSG hari ini didorong oleh sektor konsumer kritikal yang naik 3,5%, disusul oleh material dasar naik 1,7%, dan sektor energi naik 1,1%.
Sebanyak 416 saham menguat, 224 saham melemah, dan 323 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp 6,04 triliun, dengan volume perdagangan 17,92 miiar saham, dan saham yang berpindah tangan 1,10 juta kali.
Mengutip data Stockbit, pasar reguler mendominasi aktivitas transaksi. Pada pasar reguler tercatat volume perdagangan sebanyak 239,41 juta lot, dengan nilai transaksi mencapai Rp10,21 triliun dan frekuensi sekitar 1,82 juta transaksi.
Sementara itu, transaksi melalui pasar negosiasi tercatat sebanyak 28,54 juta lot, dengan nilai transaksi mencapai Rp1,58 triliun dan frekuensi sebanyak 448 transaksi. Adapun transaksi pada pasar tunai tercatat relatif kecil, yakni sebanyak 2 lot dengan nilai Rp25,20 ribu dari 2 transaksi.
Pasar keuangan Indonesia pada Rabu (23/9/2026) akan mencermati keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) dan perkembangan perang di Timur Tengah.
Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan keputusan suku bunga acuan pada Rabu (23/9/2026), setelah menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) selama dua hari. Pengumuman ini menjadi yang pertama bagi Destry Damayanti sejak dilantik sebagai Gubernur BI definitif pada 2 September.
RDG ini digelar di tengah ketidakpastian global dan lonjakan inflasi yang membuat era bunga tinggi kembali. Setidaknya ada sembilan bank sentral yang sudah mengerek suku bunga, termasuk The Fed dan bank sentral Jepang (BoJ).
Hasil polling CNBC Indonesia terhadap 11 institusi dan lembaga menunjukkan delapan responden memperkirakan BI Rate tetap di level 5,75%. Tiga responden lainnya memproyeksikan kenaikan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6,00%. Suku bunga deposit facility dan lending facility diperkirakan tetap, masing-masing sebesar 4,75% dan 6,5%.
Jika BI mempertahankan bunga, keputusan itu akan menjadi yang ketiga berturut-turut setelah BI Rate ditahan pada Juli dan Agustus. Sebelumnya, BI telah menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 100 bps sepanjang Mei-Juni 2026, dari 4,75% menjadi 5,75%.
Inflasi masih berada dalam sasaran BI sebesar 1,5%-3,5%. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Agustus sebesar 3,19% secara tahunan, naik dari 2,88% pada Juli.
Di sisi lain, rupiah ditutup melemah di posisi Rp17.850/US$ pada Selasa (22/9/2026), sementara bank sentral AS atau The Federal Reserve telah menaikkan suku bunganya sebesar 25 bps pada pekan lalu.
Dalam RDG Agustus, Destry yang saat itu masih menjabat sebagai Pejabat sementara Gubernur BI mengatakan keputusan menahan bunga sejalan dengan upaya menjaga stabilitas rupiah di tengah gejolak global akibat perang di Timur Tengah.
BI juga mempertimbangkan sasaran inflasi 2,5±1% pada 2026 dan 2027 serta pertumbuhan ekonomi.
Selain melalui suku bunga, BI sebelumnya menyatakan akan memperluas kebijakan insentif untuk mendorong aliran modal asing dan menjaga stabilitas rupiah. Kebijakan makroprudensial longgar juga tetap diarahkan untuk mendukung kredit dan pembiayaan ke sektor riil.
Sementara itu, harga minyak jatuh lima hari beruntun. Pada Selasa (22/9/2026), harga minyak brent jatuh ke bawah US$ 100 untuk pertama kalinya sejak 8 September 2029. Pada Selasa (22/9/2026), harga minyak brent jatuh 1,09% ke US$ 99,25 per barel sedangkan WTI ambles ke US$ 94,5 per barel atau turun 1,3%.
Dalam lima hari terakhir, harga minyak sudah jatuh 8,7% sedangkan WTI ambles 10,6%. Melemahnya harga minyak belum mampu meredam keganasan dolar. Indeks dolar malah menguat ke 100,601 pada Selasa, dari 100,429 pada Senin.
Imbal hasil US Treasury juga menanjak ke 4,967% dari 4,963%. Penguatan imbal hasil US Treasury dan indeks dolar ini menjadi kabar buruk bagi rupiah. Pasalnya, kondisi ini bisa memicu outflow dan menekan rupiah.
(rob/rob)
[Gambas:Video CNBC]

1 hour ago
2

















































