Mendag Was-Was Nasib Peternak Ayam, Tak Bisa Bertahan Efek Masalah Ini

3 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengingatkan untuk menjaga harga telur ayam ras agar tidak terus berada di level rendah. Pasalnya, harga yang terlalu murah dikhawatirkan membuat peternak kesulitan menutup biaya produksi dan akhirnya tidak mampu melanjutkan usahanya.

Budi menyebut harga telur ayam ras di tingkat konsumen secara rata-rata nasional masih berada di sekitar Rp26.000 per kg. Angka tersebut dinilai terlalu rendah dibandingkan harga yang dianggap ideal bagi keberlangsungan usaha peternak.

"Ya sekarang yang jadi PR itu telur, telur ayam ras masih Rp26.000 (per kg). Ya jadi nanti bagaimana penyerapannya lebih bagus sehingga harga ideal terbentuk dan peternak telur tetap jalan," kata Budi saat ditemui di kantornya, Jakarta, Kamis (27/8/2026).

Menurut Budi, harga acuan penjualan (HAP) telur ayam ras ditetapkan dengan mempertimbangkan biaya produksi sehingga dapat menjaga keseimbangan antara kepentingan peternak dan konsumen. Harga yang terlalu rendah dapat menekan peternak, sementara harga yang terlalu tinggi juga akan membebani masyarakat.

"Kalau harga jual telurnya itu tidak sesuai ya dia tidak bisa meneruskan usaha. Nah harga acuan atau HAP ini sebenarnya harga yang disepakati, sudah disepakati antara produsen dengan pembeli, penjual dengan pembeli, yang sudah disepakati melalui asosiasi," jelasnya.

"Harga itu sudah dihitung biaya produksinya berapa, kemudian biaya yang lainnya dengan ketentuan atau dengan kesepakatan itu, pertama produsen tidak akan rugi, artinya bisa jalan, dan konsumen juga tidak dikenakan harga yang tinggi," lanjut dia.

Budi menyebut harga telur ayam ras yang ideal berada di kisaran Rp30.000 per kg. Dengan harga tersebut, peternak dinilai masih dapat menjalankan usahanya, sementara konsumen tidak dibebani harga yang terlalu tinggi.

"Jadi kalau misalnya telur ayam itu Rp30.000 per kg ya harga yang ideal. Produsen bisa jalan tapi konsumen mendapatkan harga yang pas. Kita juga tidak boleh harga telur itu kemudian di atas Rp30.000 (per kg) ya, harus kita turunkan untuk menjadi Rp30.000 (per kg)," kata Budi.

Sebagai informasi, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan harga telur ayam ras memang mengalami penurunan sepanjang Agustus 2026. Berdasarkan perkembangan Indeks Perkembangan Harga (IPH) hingga minggu ketiga Agustus 2026, rata-rata harga telur ayam ras nasional tercatat Rp29.247 per kg.

Harga tersebut turun 0,18% dibandingkan Juli 2026 dan berada di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) konsumen sebesar Rp30.000 per kg.

BPS juga mencatat penurunan harga telur ayam ras terjadi di 39,17% wilayah Indonesia. Namun, di saat yang sama masih terdapat 132 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan IPH telur ayam ras hingga minggu ketiga Agustus.

Jumlah daerah yang mengalami kenaikan IPH tersebut meningkat dibandingkan minggu pertama Agustus yang tercatat sebanyak 128 kabupaten/kota dan minggu kedua sebanyak 132 kabupaten/kota.

Data BPS yang diolah dari SP2KP Kemendag juga memperlihatkan disparitas harga telur yang cukup lebar antarwilayah. Hingga minggu ketiga Agustus, harga tertinggi tercatat mencapai Rp90.000 per kg, sementara harga terendah berada di Rp21.857 per kg.

Tiga daerah dengan harga telur tertinggi adalah Kabupaten Intan Jaya dan Kabupaten Puncak Jaya yang masing-masing mencapai Rp90.000 per kg, serta Kabupaten Mamberamo Tengah sebesar Rp80.000 per kg.

Di sisi lain, dari 132 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan IPH, Kabupaten Biak Numfor mencatat kenaikan IPH tertinggi sebesar 13,01%. Harga telur di wilayah tersebut mencapai Rp35.286 per kg.

Selanjutnya, Kabupaten Mamuju Tengah mengalami kenaikan IPH 12,90% dengan harga Rp31.619 per kg, disusul Kabupaten Nduga yang naik 12,44% dengan harga mencapai Rp56.429 per kg.

Harga Jangan Terlalu Rendah

Budi menilai persoalan harga telur ayam tidak hanya terkait kepentingan konsumen, tetapi juga keberlangsungan industri peternakan. Menurutnya, pengalaman ketika harga telur ayam anjlok menunjukkan bahwa peternak dapat kesulitan berproduksi jika harga jual tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.

"Ketika harga di bawah harga acuan yang terlalu jauh itu kan peternak tidak bisa berproduksi, karena peternak harus beli pakan dan sebagainya. Kalau harga jual telurnya itu tidak sesuai ya dia tidak bisa meneruskan usaha," ujar Budi.

Karena itu, pemerintah ingin menjaga agar harga komoditas peternakan tidak bergerak terlalu jauh dari harga acuan. Menurutnya, salah satu upaya yang perlu dilakukan untuk telur adalah memperbaiki penyerapan sehingga harga dapat kembali ke tingkat yang dianggap ideal.

"Jadi nanti bagaimana penyerapannya lebih bagus sehingga harga ideal terbentuk dan peternak telur tetap jalan," tegasnya.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso saat ditemui di kantornya, Jakarta, Kamis (27/8/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso saat ditemui di kantornya, Jakarta, Kamis (27/8/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) Foto: Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso saat ditemui di kantornya, Jakarta, Kamis (27/8/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

(dce) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |