Mendag Beri Kabar RI Masuk Jajaran Raja Eksportir Besi dan Baja Dunia

3 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia kian menunjukkan keseriusannya untuk menjadi kekuatan utama industri besi dan baja dunia. Salah satu buktinya tercermin dari kinerja neraca perdagangan besi dan baja nasional yang terus mencatatkan surplus signifikan sepanjang 2025.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengungkapkan, hingga November 2025 neraca perdagangan besi dan baja Indonesia atau HS 72 mencatatkan surplus yang konsisten dan kuat.

"Hingga bulan November 2025, neraca Perdagangan Besi dan Baja Indonesia, HS 72, telah mencatatkan surplus yang konsisten dan signifikan," kata Budi dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR RI, Rabu (4/2/2026).

Pada 2025, surplus neraca perdagangan besi dan baja Indonesia tercatat meningkat menjadi US$18,44 miliar. Kinerja positif tersebut ditopang oleh nilai ekspor yang mencapai US$27,97 miliar, sementara impor tercatat sebesar US$9,53 miliar.

Menurut Budi, capaian surplus yang konsisten ini sejalan dengan peningkatan posisi Indonesia di peta perdagangan global. Jika pada 2019 Indonesia masih berada di peringkat ke-17 sebagai eksportir besi dan baja terbesar dunia, kini posisinya melonjak tajam.

"Pada tahun 2019, Indonesia masih menempati peringkat ke-17 sebagai negara eksportir besi dan baja terbesar di dunia. Melalui upaya hilirisasi dan peningkatan kapasitas industri, Indonesia kini melompat jauh ke peringkat 5 sebagai negara eksportir besi dan baja terbesar di dunia," ujarnya.

Rapat Kerja Komisi VI DPR RI bersama Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso dan Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza bersama jajarannya di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (4/2/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)Foto: Rapat Kerja Komisi VI DPR RI bersama Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso dan Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza bersama jajarannya di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (4/2/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
Rapat Kerja Komisi VI DPR RI bersama Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso dan Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza bersama jajarannya di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (4/2/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Sejalan dengan itu, Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menegaskan penguatan industri besi dan baja tidak terlepas dari perhatian besar Presiden terhadap kemandirian ekonomi nasional.

"Bapak Presiden sangat concern dengan perekonomian nasional, terutama untuk menjaga kemandirian ekonomi, menjaga supaya source bangsa dan negara kita bisa dikelola dengan baik, sesuai dengan asas kemandirian dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, sesuai dengan Pasal 33," kata Faisol dalam kesempatan yang sama.

Faisol memaparkan, pertumbuhan industri pengolahan non-migas pada 2025 tercatat sebesar 5,58%, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di kisaran 5,04%. Dari seluruh subsektor, industri logam dasar mencatatkan pertumbuhan tertinggi.

"Subsektor industri dengan pertumbuhan tertinggi pada periode yang sama adalah industri logam dasar dengan pertumbuhan sebesar 18,62%%," ujarnya.

Dari sisi investasi, industri logam dasar, barang logam bukan mesin, dan perlengkapannya juga menunjukkan kinerja solid. Sepanjang Januari-Desember 2025, sektor ini mencatatkan realisasi investasi sebesar US$14,6 miliar, atau sekitar 26% dari total investasi penanaman modal asing.

Mengacu pada data World Steel Association, produksi baja kasar dunia pada 2025 mencapai 1.849 juta ton, dengan China sebagai produsen terbesar. Indonesia sendiri berada di peringkat ke-13 dunia.

"Kita di Indonesia menempati peringkat ke-13, di mana produksi pada tahun 2025 baja kasar sebesar 19 juta ton atau meningkat dibandingkan tahun 2024 sebesar 18,6 juta ton," jelas Faisol.

Dari sisi perdagangan, industri baja nasional juga menunjukkan perbaikan struktural. Ekspor baja meningkat konsisten sejak 2020, sementara impor cenderung menurun sejak 2022. Kondisi tersebut mendorong pergeseran neraca perdagangan dari defisit menjadi surplus.

"Perkembangan ini menyebabkan pergeseran neraca perdagangan dari kondisi defisit menuju surplus," ujarnya.

Lebih lanjut, Faisol mengungkapkan struktur konsumsi baja di dalam negeri masih sangat bergantung pada sektor konstruksi. Berdasarkan data The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) dan World Steel Association (WSA), sektor konstruksi menyerap 77,1% dari total konsumsi baja nasional, disusul otomotif 11,6%, dan peralatan rumah tangga 3,3%.

"Ini berarti bahwa industri baja kita sangat tergantung kepada pembangunan infrastruktur dan properti sebagai penggerak utama permintaan baja," ujarnya.

Meski demikian, Faisol menilai peluang ekspansi industri baja nasional masih sangat besar. Konsumsi baja per kapita Indonesia pada 2025 baru sekitar 60 kilogram per kapita, jauh di bawah rata-rata global yang mencapai 217 kilogram per kapita. Selain itu, tingkat utilisasi industri baja nasional rata-rata baru 52,7%.

"Ini mengindikasikan bahwa potensi ekspansi dan peningkatan yang signifikan masih tersedia ruang yang sangat besar," pungkasnya.

(wur)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |