Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Berapa banyak ketaktasadaran yang dialami masyarakat, saat berelasi dengan media digital?
Pertama, tak sadar realitas yang dikonsumsinya --sebagai unggahan media sosial-- adalah hasil algoritma yang disesuaikan dengan pilihan-pilihannnya sebelumnya. Penggemar kisah-kisah kriminal yang menyimak informasinya dari media digital, mempersepsi realitas diisi oleh kejahatan dan ancaman.
Ini jika dibanding dunia, yang hadir di hadapan penggemar topik-topik motivasional. Dunia terasa penuh harapan, mengisahkan keberhasilan bagi yang tak menyerah. Sehingga layak dijalani dengan semangat.
Keduanya merupakan realitas yang nyata. Tapi lantaran operasi algoritma, kehadirannya disesuaikan dengan kecenderungannya, dan disangka merupakan realitas yang dialami pengemar-penggemar lain.
Kedua, tak sadar tawaran produk dari platform belanja --yang tampak beragam, menawarkan pilihan bebas-- merupakan hasil ramuan perilaku yang ditinggalkannya sebagai digital path. Riwayat pembelian, topik pencarian produk dengan searching machine maupun artificial intelligence (AI), berikut komentarnya pada pengguna produk lain.
Juga kelas belanja yang ditempatinya: sebagai pembelanja kelas bawah, menengah atau atas, teramu jadi kecenderungan pilihan. Sama sekali bukan kebebasan yang ditawarkan, tapi dorongan yang tak dapat ditolak. Pilihan konsumsi adalah hasil pengawasan.
Ketiga, tak sadar, ekspresi diri yang ditunjukkan di platform digital -dan akhirnya merembes ke kehidupan nyata-merupakan hasil pabrikasi nilai dan norma yang telah disepakati warga media digital. Jangan bayangkan kesepakatannya terbentuk melalui dialog bebas di ruang publik. Melainkan lewat mekanisme "like and hate" dalam relasi digital.
Untuk perilaku yang telah terkonfirmasi sebagai nilai dan norma, peneguhannya akan memanen pujian: like, reposting, atau komentar eksplisit bernada penghargaan. Sebaliknya ketika terjadi pelanggaran kesepakatan, akan ditanggapi dengan reaksi buruk berupa komentar caci maki, hujatan, hingga cancel culture.
Untuk ketaksadaran jenis ketiga ini, Maya Maliutina dan Nataliia Shust, 2025, dalam "AI-Generated Content and The Crisis of Authenticity: Deepfakes, Synthetic Media, and Social Trust" melaporkan temuan penelitiannya. Disebutkannya, kehadiran media digital baru --termasuk deepfake berbasis AI- menyebabkan berubahnya cara informasi diproduksi dan dikonsumsi.
Ini kemudian, menambah cara masyarakat mengenali realitas. Di era sebelum maraknya penggunaan media digital, untuk percaya dipersyaratkan adanya pengalaman lebih dulu. Melihat, mendengar, menghirup, mencicipi, meraba -mengindra dulu-- lalu percaya.
Tapi di era digital, persyaratan pengalaman itu tak dituntut. Algoritma machine learning AI --yang dapat memanipulasi atau memproduksi citra sintetis-- digunakan untuk mempabrikasi realitas. Realitas identik mengimitasi yang alamiah. Deepfake meniru orang, peristiwa, atau kejadian yang nyata.
Celakanya, implikasi dari tambahan sumber realitas ini menyebabkan keruntuhan otentisitas. Authenticity collapse. Mulanya terjadi dengan cara mengubah kepercayaan dan pemahaman tentang "yang otentik" dalam kehadiran melalui komunikasi digital.
Kepercayaan sosial --menjadi tumpuan kerja sama sosial maupun diindahkannya institusi sosial-- yang semula terbangun berdasar informasi yang dapat diverifikasi, dengan kehadiran perangkat pabrikasi informasi, semuanya berubah. Realitas dapat dibangun tanpa syarat adanya acuan di dunia nyata.
Ini yang oleh Jean Baudrillard, 1981, dalam bukunya "Simulacres et Simulation" disebut sebagai hiperrealitas. Dalam konteks media digital, hiperrealitas dihasilkan melalui pabrikasi model-model algoritmik. Algoritma otonom yang memformulasi realitas generatif, menghadirkan citra atau narasi yang tak punya asal-usul. Juga keberadaannya yang tanpa realitas fisik, tak dapat diverifikasi. Sebatas tanda atau simbol yang menggantikan kehadiran pengalaman langsung.
Implikasinya --media digital yang menghadirkan informasi jenis ini dengan sangat kerap-- mengaburkan batasan antara realitas yang senyatanya dengan realitas terpabrikasi. Sebagian lantaran kehadirannya yang cepat dalam jumlah banyak. Sebagian lainnya karena wujudnya yang sangat identik dengan yang nyata. Karenanya, ketika nilai dan norma hadir sebagai hasil pabrikasi, ekspresinya pun serupa: algoritmic conformity.
Ini misalnya, saat seorang harus bersikap pada unggahan yang mengemukakan adanya keributan di jalan tol. Pengendara mobil mewah memukul pengemudi lain, yang kendaraannya lebih sederhana. Pemukulan terjadi lantaran tak diberi kesempatan mendahului. Karena tak disadari yang dihadapi deepfake, orang itu menghujat pemilik mobil mewah.
Tanggapan diberikan tanpa pemahaman yang tepat pada konteks. Ia 'dipaksa' oleh algoritma yang telah memetakan tanggapan. Kemasan unggahan maupun narasinya, telah disesuaikan dengan algoritma konflik: pemilik mobil mewah sering arogan. Dan arogansi harus dihujat. Tampak jelas, filter bubble dan echo chamber mempabrikasi sikapnya. Menjadi keruntuhan otentisitas dirinya.
Proyeksi implikatif hasil penelitian Maliutina dan Shust di atas, senada dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan James Oliver, 2025. Pada penelitiannya yang berjudul "The War for Reality: Artificial Intelligence, Human Agency, and the Collapse of Truth", disebutkan kurang lebih, AI dengan kapasitasnya yang luar biasa dalam mendistorsi realitas, memungkinkan terjadinya modifikasi perilaku massal.
Seluruhnya berpuncak pada keruntuhan epistemik yang tak terhindarkan. Keruntuhan epistemik ditandai dengan tidak dipercayainya semua hal yang hadir melalui media. Ini termasuk unggahan media sosial, pernyataan maupun peristiwa yang termediasi, nilai dan norma yang ditularkan media digital.
Keadaan tak terhindarkan di atas, tercapai saat produksi informasi sintetik --informasi yang terpabrikasi-- meningkat secara eksponensial dibanding informasi otentik. Sehingga rasionya cenderung mendekati nol. Rasio mendekati nol artinya, ketika informasi yang benar-benar berasal dari sumber nyata hampir terkubur oleh informasi hasil pabrikasi. Pabrikasi dari aktivitas rekayasa, manipulasi, maupun operasi AI.
Adapun modifikasi perilaku massal, terjadi ketika sebelumnya masyarakat berperilaku berdasarkan persepsi yang terbentuk oleh stimulus alamiah. Akibat proses yang mengubah pembentukan persepsi, perilaku turut berubah.
Dan hari ini, ketika AI mampu mempabrikasi realitas yang tak terbedakan dari yang nyata, persepsi juga berubah. Persepsi ini, menggeser perilaku yang ditimbulkannya. Dari yang semula berdasarkan kealamiahan, menjadi perilaku berdasar algoritma. Perilaku masyarakat termodifikasi massal.
Pada pergeseran itu, AI-kah yang bertanggung jawab? Tidak. Masyarakat pemakai AI yang memerintahnya dengan prompt maupun instruksi lainnya, menjadi sumber pergeserannya. Maka seharusnya masyarakat memanfaatkannya dengan memahami implikasinya.
Sistem AI hanya mengeksekusinya, walaupun dengan ketelitian yang sempurna. Seluruh rangkaian itu, lanjut Oliver, menimbulkan risiko eksistensial. Yaitu ketika digunakannya AI, yang justru menyebabkan terdistorsinya realitas bersama.
Distorsi yang memicu tanggapan berantai, berupa terjadinya peristiwa yang tidak pernah direncanakan. Bahkan tak pernah diduga. Para pengembang AI tak pernah menduga, deepfake digunakan untuk manipulasi yang menyebabkan kerugian ekonomi. Juga mendorong runtuhnya demokrasi. Seluruhnya dapat menghancurkan sebuah negara tanpa terduga.
Pembahasan di atas memunculkan konsep keruntuhan otentisitas dan krisis epistemik. Relasi keduanya: keruntuhan otentisitas memicu terjadinya krisis epistemik. Keruntuhan otentisitas yang diawali oleh kehadiran nilai dan norma terpabrikasi, mendorong manifestasi perilaku-perilaku tak tulus yang hadir sebagai peneguhan algoritmik.
Gejala perilaku terpabrikasi, diperburuk oleh kerapnya komodifikasi peristiwa berbahan deepfake manipulatif, maupun slop: unggahan sampah yang dihasilkan AI. Hasil akhirnya, berupa masyarakat yang meragukan apa pun, yang hadir termediasi. Inilah krisis epistemik, sebagai lanjutan keruntuhan otentisitas.
Kerunyaman akibat krisis ini, lantaran masyarakat yang makin sulit mempercayai realitas-realitas dasar. Bumi berbentuk bulat, vaksin memperkuat imunitas tubuh, seluruh bagian telur merupakan nutrisi yang bermanfaat.
Juga, alih-alih ungkapan "orang rajin belajar, bakal lebih mudah hidupnya" diterima sebagai dasar berpengetahuan, malah dipatahkan dengan "nasib lebih menentukan hidup". Seluruhnya dibuktikan lewat realitas yang terpabrikasi.
Kerunyaman lebih lanjut keruntuhan otentisitas dan krisis epistemik, terletak pada tiadanya kepercayaan yang meluas. Dimulai dengan hilangnya otentisitas yang melenyapkan kepercayaan pada apa pun yang termediasi.
Diri-diri yang tampil termediasi, dianggap tanpa ketulusan. Ini menyebabkan kebenaran sebagai modal interaksi yang produktif turut hilang. Bagaimana kerja sama sosial dan institusi sosial dapat berfungsi tanpa pijakan kebenaran? Terjadi kekosongan epistemik.
Namun, ketika hidup tak mungkin dalam kekosongan epistemik, seluruh landasan kepercayaan dikonstruksi ulang. Makna yang telah terinflasi oleh realitas terpabrikasi, diisi lewat pencarian sumber-sumber epistemik baru. Namun keadaan tak akan membaik, ketika pencarian itu bertumpu pada penggunaan media digital --termasuk AI-- dengan lebih intensif.
Ketaksadaran yang meruntuhkan otentisitas dan mengantar pada kekosongan epistemik, diperburuk beberapa kelemahan AI. Ini seperti bias algoritmik, AI hallucination, AI blackbox, yang justru memperdalam keruntuhan. Kini, sadarkah masyarakat di hadapan media digital, makin banyak hal lain yang tak disadarinya?
(miq/miq)

7 hours ago
9

















































