Iran Terjepit, Nilai Strategis Selat Hormuz Mulai Tergerus

7 hours ago 9

Jakarta, CNBC Indonesia - Iran menghadapi dilema besar di tengah perang yang berkepanjangan. Selat Hormuz yang selama ini menjadi salah satu kartu strategis utama Teheran justru terancam kehilangan nilainya karena negara-negara Teluk mulai membangun jalur energi alternatif.

Perdebatan mengenai strategi menghadapi perang dan tekanan ekonomi kini menguat di dalam negeri Iran. Pendiri Forum Aktivis Ekonomi Hamid Paktinat menilai pembangunan pipa dan rute ekspor alternatif oleh negara-negara tetangga Iran di Teluk dapat memangkas nilai strategis Selat Hormuz hingga separuhnya dalam tiga tahun.

Tekanan ekonomi juga mendorong sejumlah pejabat Iran menyerukan agar perang segera diakhiri. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan kekuatan militer tidak akan cukup untuk menjaga negara jika perekonomian terus memburuk.

"Jika rakyat kelaparan dan tidak ada pertumbuhan ekonomi, negara tidak akan mampu bertahan," ujarnya, seperti dikutip Guardian, Rabu (26/8/2026).

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pernyataan yang lebih lugas. Menurut Pezeshkian, Iran sebaiknya mengakhiri konflik ketika masih memiliki posisi tawar yang kuat daripada menunggu kondisi ekonomi dan kekuatan negosiasinya semakin melemah.

"Perang harus diakhiri pada suatu titik," katanya.

Sementara itu, Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati turut memperingatkan tekanan ekonomi yang semakin berat.

"Kami menghadapi empat atau lima tantangan besar secara bersamaan, termasuk sanksi maksimum, blokade, penghentian ekspor minyak, dan ketidakseimbangan anggaran; masing-masing memberikan tekanan pada perekonomian," ujarnya.

Di sisi lain, pakar geo-ekonomi Iran Hamid Asefi menilai penggunaan Hormuz secara berulang sebagai alat tekanan justru dapat membuat efektivitasnya memudar. Menurut dia, Iran semestinya berupaya menjadikan Hormuz sebagai jalur yang aman dan stabil sehingga negara lain membutuhkan Teheran untuk menjaga ketertiban di kawasan.

"Ancaman yang terus-menerus diulang akan berubah dari sekadar pencegahan menjadi kebiasaan politik," katanya.

Data Kpler menunjukkan aktivitas pelayaran di Hormuz telah merosot tajam. Hanya 112 kapal tanker minyak dan gas tercatat melintasi selat tersebut pada 1-19 Agustus, sementara sebagian besar kapal menggunakan rute yang tidak terkonfirmasi. Kondisi ini membuat negara-negara Teluk semakin terdorong mengembangkan jalur alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap selat tersebut.

Paktinat memperkirakan ketergantungan Arab Saudi terhadap Hormuz dapat turun dari 70% menjadi 15%, UEA dari 50% menjadi 15%, dan Irak dari 100% menjadi 30%. Secara keseluruhan, ia memperkirakan nilai strategis Hormuz dapat berkurang separuh dalam tiga tahun dan hampir kehilangan arti pentingnya dalam enam tahun.

Bagi Iran, perkembangan ini menjadi ancaman serius: semakin banyak jalur alternatif dibangun, semakin kecil daya tekan Hormuz sebagai kartu strategis Teheran.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |