Mal Dibangun di Lahan Bekas TPA, Roboh 20 Detik-1.500 Orang Tertimbun

6 hours ago 2
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa lalu lewat relevansinya di masa kini.

Jakarta, CNBC Indonesia - Pusat perbelanjaan terbesar di Korea Selatan, Sampoong Department Store, mengalami keruntuhan total akibat kebalikan dan keengganan pemiliknya untuk membenahi kerusakan struktur meski retakan parah sudah mengepung bangunan. Tragedi mematikan ini menimbun sekitar 1.500 pengunjung di bawah reruntuhan serta merenggut 502 korban jiwa.

Peristiwa kelam tersebut tercatat dalam sejarah pada 29 Juni 1995 atau tepat 31 tahun yang lalu. Laporan *The Guardian* mengungkapkan bahwa pengelola mal sejatinya telah menyadari ancaman bahaya tersebut sejak tiga bulan sebelum bencana meletus, di mana tanda-tanda kerusakan fisik mulai tampak nyata sejak April 1995.

Terlihat jelas retakan panjang di atap dan dinding lantai lima. Namun, alih-alih melakukan pemeriksaan menyeluruh, pihak manajemen hanya memindahkan toko-toko di lantai tersebut ke lantai bawah. Operasional di empat lantai lainnya tetap berjalan seperti biasa.

Puncaknya terjadi pada 29 Juni 1995. Hari itu, retakan semakin melebar dan merembet ke lantai empat. Lagi-lagi, dibanding menutup operasional mal yang sedang ramai, manajemen hanya menutup lantai empat dan mematikan pendingin ruangan di seluruh gedung. Alasannya, mereka tidak mau kehilangan keuntungan dari besarnya transaksi yang berlangsung hari itu.

Ironisnya, setelah tahu ada masalah, sejumlah petinggi manajemen justru memilih meninggalkan gedung. Sedangkan, ribuan pegawai tetap bekerja melayani pengunjung yang terus berdatangan. Mereka tidak mengetahui tingkat kerusakan bangunan dan hanya merasakan suasana semakin panas akibat AC yang dimatikan.

Sampai akhirnya, sekitar pukul 17.50 waktu setempat, suara retakan dan gemuruh mulai terdengar dari dalam gedung. Pengunjung panik dan berlarian menuju pintu keluar. Alarm bahaya dibunyikan, tetapi semuanya sudah terlambat.

"Dari seberang toko terdengar suara seperti kereta bawah tanah memasuki stasiun, dan ketika kami mendengar suara itu, orang-orang mulai berlarian ke sana ke mari. Tiba-tiba sepotong beton jatuh di kepala saya dan saya pingsan," ujar penyintas Park Seung-Hyun, dikutip dari BBC International.

Tujuh menit kemudian, bangunan tersebut runtuh hanya dalam waktu sekitar 20 detik dan menimbun lebih dari 1.500 orang di bawah reruntuhan. Mengutip situs Britannica, tim penyelamat akhirnya berhasil mengevakuasi 937 korban luka dan menemukan 502 korban meninggal dunia. Enam orang lainnya tidak pernah ditemukan.

Dalam laporan investigasi The Guardian, akar masalah tragedi ini ternyata sudah muncul sejak pembangunan gedung pada 1987. Lahan tempat berdirinya Sampoong merupakan bekas tempat pembuangan sampah yang dinilai tidak cukup stabil untuk menopang pusat perbelanjaan besar.

Kontraktor awal sebenarnya telah memperingatkan risiko pembangunan di atas lahan tersebut dan mengusulkan proyek apartemen dengan struktur beton yang lebih kuat. Namun, pemilik Sampoong, Lee Joon, menolak usulan itu dan tetap memaksa pembangunan pusat perbelanjaan.

Saat kontraktor menolak mengikuti rancangannya karena alasan keselamatan, Lee Joon memilih memecatnya dan menggantinya dengan kontraktor lain yang bersedia menjalankan keinginannya.
Investigasi kemudian menyimpulkan keruntuhan Sampoong disebabkan kombinasi buruknya perencanaan konstruksi dan kelalaian pengelola dalam menjaga keselamatan bangunan.

Pengadilan akhirnya menjatuhkan hukuman 10 tahun penjara kepada Lee Joon dan tujuh tahun penjara kepada putranya, Lee Han-Sang.

(dce) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |