Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengungkapkan, produksi minyak goreng rakyat merek Minyakita sangat bergantung pada realisasi ekspor crude palm oil (CPO) oleh produsen. Artinya, ketika ekspor CPO menurun, produksi Minyakita juga berpotensi ikut berkurang.
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Iqbal Shoffan Shofwan menjelaskan, kewajiban memasok Minyakita melalui skema Domestic Market Obligation (DMO) hanya berlaku bagi produsen yang melakukan ekspor CPO.
"Yang perlu kita pahami adalah DMO itu baru wajib manakala produsen itu melakukan ekspor. Kalau misalnya produsen minyak goreng tidak melakukan ekspor, maka tidak ada kewajiban DMO. Jadi, DMO Minyak Kita itu sangat tergantung dengan seberapa banyak produsen itu melakukan kegiatan ekspor CPO-nya," kata Iqbal saat ditemui di Auditorium Kemendag, Jakarta, Kamis (30/7/2026).
Menurutnya, pemerintah juga tidak bisa memaksa produsen memproduksi Minyakita, jika mereka tidak memiliki kewajiban DMO akibat tidak melakukan ekspor.
"Dan kita bisa memaksa para produsen untuk memproduksi Minyakita, karena ini DMO, sesuai dengan kebutuhan ekspor mereka. Jadi kalau misalnya produksi Minyakita itu turun, ya artinya di sisi yang lain ekspor CPO juga sedang turun. Itu saja cara melihatnya," ujarnya.
Pernyataan tersebut menjawab pertanyaan mengenai tren realisasi DMO Minyakita yang disebut terus menurun dibandingkan tahun lalu. Meski demikian, Iqbal memastikan kondisi tersebut tidak serta-merta membuat Indonesia mengalami kelangkaan minyak goreng.
Ia menegaskan, pemerintah tidak hanya mengatur pasokan Minyakita, tetapi juga minyak goreng premium dan second brand melalui Permendag Nomor 20 Tahun 2026 tentang Minyak Goreng Sawit Kemasan dan Tata Kelola Minyak Goreng Rakyat.
"Oleh karena itu, ada nih Permendag 20/2026 yang menjamin bahwasanya republik ini karena kita salah satu penghasil sawit terbesar di dunia, itu tidak akan ada kelangkaan minyak goreng. Karena bukan hanya Minyakita yang kita atur, tapi juga minyak premium dan minyak second brand itu harus tersedia di pasar, utamanya di pasar rakyat," jelas dia.
Iqbal juga menjelaskan, pemerintah akan menggunakan kondisi di lapangan sebagai indikator utama untuk melihat ada atau tidaknya kelangkaan minyak goreng. Namun, ia menegaskan, produksi Minyakita hanya mencakup sebagian kecil dari total produksi minyak goreng nasional. Sebagian besar produksi justru berasal dari minyak goreng premium dan second brand.
"Perlu kita ingat bahwasanya produksi minyak goreng di Indonesia, itu Minyakita mungkin nggak sampai sepertiganya, lebih banyak itu diproduksi oleh para produsen ini yang second brand dan premium," ucap Iqbal.
"Nah ini yang kita ingin berikan highlight, manakala nanti kita temukan di pasar misalnya, di pasar rakyat itu minyak goreng susah ditemukan, ya kita akan tagih ke para produsen untuk memenuhi ketentuan di Permendag 20/2026," sambungnya.
Saat ditanya apakah Minyakita bisa hilang dari pasar apabila realisasi DMO terus menurun, Iqbal kembali menegaskan semuanya bergantung pada aktivitas ekspor para produsen.
"Tergantung ekspor. Minyakita itu tergantung ekspor. Kalau misalnya pelakunya tidak melakukan ekspor, ya masa kita paksa mereka memproduksi Minyakita," tutur dia.
Meski begitu, Iqbal menilai kekhawatiran produsen berhenti mengekspor sehingga produksi Minyakita hilang tidak memiliki dasar yang kuat. Sebab, berdasarkan pengamatan Kemendag, ekspor CPO dalam dua tahun terakhir cenderung stabil, meski terdapat pola penurunan pada bulan-bulan tertentu.
"Nggak, jadi produsen itu ekspor atau tidak ekspornya itu kan tergantung business to business mereka ya, ada permintaan nggak di luar negeri. Nah sepanjang sepengetahuan kita sih di 2 tahun terakhir saja, itu ekspor CPO kan stabil tuh. Dan memang ada di bulan-bulan tertentu ekspornya turun," jelas Iqbal.
"Misalnya, kalau di awal tahun tuh di bulan Januari dan Februari itu turun biasanya, kemudian Maret, April, Mei itu naik lagi, Juni, Juli turun, September naik lagi tuh sampai Desember. Itu trennya begitu setidaknya 2 tahun terakhir. Saya tidak berani berspekulasi mereka tidak akan ekspor ya," pungkasnya.
(dce)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
2








































