Jakarta, CNBC Indonesia - Busana tradisional Indonesia mulai mendapat sentuhan baru untuk menyesuaikan diri dengan gaya hidup masyarakat urban. Kebaya, tenun, hingga batik kini tidak hanya diposisikan sebagai pakaian untuk acara formal, tetapi juga dikembangkan menjadi busana siap pakai untuk penggunaan sehari-hari.
Tren tersebut salah satunya terlihat dari kolaborasi desainer Wilsen Willim dan aktris Dian Sastrowardoyo yang menghadirkan interpretasi baru terhadap sejumlah busana tradisional Indonesia. Kolaborasi tersebut mengolah sejumlah siluet seperti Kebaya Kartini, Kebaya Kutubaru, Kebaya Janggan, Beskap, Surjan, hingga Sikepan Hussar khas Keraton Surakarta menjadi busana dengan potongan yang lebih kontemporer.
Material yang digunakan mencakup katun, jacquard, bahan suiting, serta batik tulis Cirebon. Palet warna netral dipilih agar busana lebih mudah dikenakan dan dipadukan dengan berbagai jenis wastra Nusantara.
"Kami memilih palet warna yang netral agar setiap rancangan dapat dikenakan kembali dalam berbagai kesempatan sekaligus mudah dipadukan dengan wastra Nusantara yang kaya akan warna dan motif," kata Wilsen dikutip Senin (10/8/2026).
"Saya ingin kebaya dapat menjadi bagian dari keseharian perempuan Indonesia, dengan gaya yang lebih kasual, material yang nyaman dikenakan, namun tetap mempertahankan nilai serta identitas budayanya," ujar Dian.
Tenun Diterjemahkan ke Desain Modern
Tidak hanya kebaya, kain tenun juga menjadi bagian dari eksplorasi untuk membawa warisan budaya Indonesia ke dalam desain kontemporer. Melalui karya bertajuk Algorithm: Universal Language, Wilsen mengeksplorasi pola dan struktur tenun Nusantara dan menerjemahkannya ke dalam fashion, musik, serta karya visual.
Dalam pendekatan tersebut, tenun tidak hanya dipandang sebagai produk budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pola dan strukturnya juga digunakan sebagai sumber inspirasi untuk menciptakan karya baru.
Eksplorasi kebaya dan tenun tersebut menjadi bagian dari program HERITAGE REIMAGINED di ASHTA District 8, Jakarta, yang berlangsung sepanjang Agustus 2026. Program tersebut mengangkat tema Where Legacy Inspires Tomorrow dan mengeksplorasi warisan budaya Indonesia melalui fashion, seni, desain, musik, dan craftsmanship.
Sementara itu Senior Manager Center Experience ASHTA District 8, Leonardo Slatter, mengatakan warisan budaya perlu terus dikembangkan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. "Legacy hanya akan tetap hidup ketika terus diberi ruang untuk berevolusi," ujarnya.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]

5 hours ago
3
















































