Jakarta, CNBC Indonesia - Bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menghantam sejumlah wilayah di Pulau Kalimantan. Gelombang asap pekat membuat kualitas udara di berbagai kota dan kabupaten merosot tajam ke level yang membahayakan kesehatan publik.
Berdasarkan data Indeks Kualitas Udara (AQI+) pada Minggu (13/9/2026), wilayah Kalimantan Barat menjadi salah satu kawasan dengan tingkat polusi udara terburuk di tengah upaya pemadaman yang masih terus digeber oleh petugas di lapangan.
Kota Pontianak tercatat sebagai wilayah dengan kualitas udara terparah. Merujuk pantauan laman IQAir pada pukul 09.13 WIB, nilai AQI+ di Pontianak menembus angka fantastis 483, menjadikannya yang tertinggi dibandingkan daerah-daerah lainnya.
Selain Pontianak, udara beracun juga terjadi mengepung sejumlah wilayah lain. Terentang mencatatkan angka AQI+ di level 420, disusul Mempawah (214), Sintang (191), Manismata (173), serta Bengkayang (154). Sementara itu, Sambas tercatat sebagai wilayah dengan kondisi udara relatif paling bersih di provinsi tersebut dengan nilai 80.
Berdasarkan pemantauan platform yang sama, titik api aktif terpantau masih berkobar di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat.
Ledakan Titik Panas di Kalimantan Tengah dan 5 Provinsi Prioritas
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat eskalasi karhutla di sejumlah titik di Pulau Kalimantan dan Sulawesi. Di Kalimantan Timur, misalnya, karhutla melanda Kabupaten Mahakam Hulu pada Kamis (10/9). Titik api terdeteksi sekitar pukul 18.50 WITA di Desa Ujoh Bilang, Kecamatan Long Bagun, menghanguskan lahan seluas satu hektare sebelum akhirnya berhasil dijinakkan oleh tim pemadam pada Jumat (11/9). Aparat berwenang hingga kini masih menyelidiki pemicu kebakaran tersebut.
Kebakaran lahan juga merembet ke wilayah lain di luar Kalimantan, seperti di Kabupaten Toli-Toli, Sulawesi Tengah, pada Kamis (10/9/2026) di Desa Silondu, Kecamatan Basi Dondo, serta di Kelurahan Galung Maloang, Kecamatan Bacukiki, Kota Parepare, Sulawesi Selatan, pada Jumat (11/9/2026).
Kendati demikian, konsentrasi titik api (hotspot) terbesar masih terpusat di Pulau Kalimantan. Berdasarkan rilis resmi Kementerian Kehutanan per Sabtu (12/9/2026), wilayah Kalimantan mendominasi peta konsentrasi titik panas nasional.
Data sistem SiPongi Kementerian Kehutanan-yang bersumber dari citra satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20-mencatat hingga Jumat (11/9/2026) pukul 21.15 WIB, terdapat 688 titik hotspot high confidence secara nasional. Angka ini melonjak signifikan dibanding hari sebelumnya yang berada di level 569 titik.
Berikut sebaran hotspot high confidence di enam provinsi prioritas pengendalian karhutla:
-
Kalimantan Tengah: 271 titik (meningkat tajam dari 96 titik)
-
Kalimantan Barat: 51 titik (meningkat dari 39 titik)
-
Kalimantan Selatan: 47 titik (meningkat dari 9 titik)
-
Sumatera Selatan: 11 titik (turun dari 34 titik)
-
Riau: 0 titik (turun dari sebelumnya 18 titik)
-
Jambi: 0 titik (turun dari sebelumnya 2 titik)
Lonjakan masif di Kalimantan Tengah menempatkan provinsi tersebut sebagai fokus utama perhatian pengendalian saat ini, disusul penguatan operasi darat dan udara di Kalimantan Barat serta Kalimantan Selatan.
Pemerintah menegaskan bahwa kemunculan data titik panas tidak serta-merta merepresentasikan satu kejadian kebakaran riil, melainkan indikasi anomali suhu permukaan yang ditangkap oleh sensor satelit. Seluruh temuan tersebut wajib diverifikasi melalui pengecekan kondisi aktual di lapangan oleh tim terpadu.
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]

5 hours ago
4















































