Review Perak Sepekan
Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
13 September 2026 10:30
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga perak dunia kembali melemah sepanjang pekan ini. XAG/USD menutup perdagangan Jumat (11/9/2026) di US$64,46 per troy ons, turun US$1,73 atau 2,62% dibandingkan penutupan pekan sebelumnya di US$66,19.
Perak mengawali pekan dengan penurunan tipis 0,08% ke US$66,14 pada Senin. Tekanan berlanjut pada Selasa dengan koreksi 0,59% menjadi US$65,75.
Pada Rabu, perak sempat bangkit 2,31% dan mencapai US$67,27. Pemulihan tersebut tidak bertahan lama. Harga anjlok 5,53% menjadi US$63,55 pada Kamis, kemudian rebound 1,43% dan menutup Jumat di US$64,46.
Sepanjang pekan, penutupan tertinggi tercatat di US$67,27 dan terendah US$63,55. Rentang penutupan mencapai US$3,72 atau sekitar 5,62%, menunjukkan volatilitas kembali meningkat menjelang rapat bank sentral Amerika Serikat.
Data AS Kembali Tekan Perak
Tekanan pada awal pekan muncul setelah data tenaga kerja AS yang lebih kuat daripada perkiraan mengangkat ekspektasi kenaikan suku bunga. Ekonomi AS menambah 162.000 pekerjaan pada Agustus, jauh di atas perkiraan pasar.
Kondisi tersebut mendorong imbal hasil obligasi dan dolar AS sehingga menekan logam mulia tanpa imbal hasil seperti perak.
Perak sempat bangkit pada Rabu ketika dolar AS melemah. Meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran juga mendorong permintaan terhadap aset aman.
Namun, kenaikan harga minyak membawa konsekuensi lain. Energi yang semakin mahal meningkatkan risiko inflasi dan dapat memaksa The Federal Reserve mempertahankan kebijakan moneter ketat.
Inflasi Produsen Picu Kejatuhan
Tekanan jual mencapai puncaknya pada Kamis setelah inflasi produsen AS atau Producer Price Index naik 0,4% secara bulanan pada Agustus.
Secara tahunan, inflasi produsen meningkat menjadi 5,4% dari 4,8% pada Juli. Kenaikan harga energi sebesar 4,2% memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan inflasi belum selesai.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun kemudian melonjak mendekati 5%, membuat perak jatuh lebih dari 5% dalam sehari.
Pada Jumat, inflasi konsumen AS tercatat naik 0,4% secara bulanan dan 3,4% secara tahunan. Angka tersebut masih tinggi, tetapi penurunan harga minyak dan aksi beli pada harga rendah membantu perak mencatatkan rebound terbatas.
Dari sisi jangka panjang, perak masih memperoleh dukungan dari pasar fisik. Pasar perak global diperkirakan kembali mengalami defisit pasokan pada 2026, menjadi defisit tahunan keenam secara beruntun.
Tren Jangka Pendek Masih Bearish
Dari sisi teknikal, harga penutupan Jumat berada di bawah rata-rata lima hari sebesar US$65,43, rata-rata 10 hari US$65,64, dan rata-rata 20 hari US$66,54.
Rata-rata lima hari yang berada di bawah rata-rata 10 dan 20 hari menunjukkan tren jangka pendek masih lemah. Selama harga bertahan di bawah US$65,75-US$66,19, kenaikan berisiko hanya menjadi technical rebound.
RSI 14 hari berada di sekitar 47,92. Posisi tersebut menunjukkan momentum berada di wilayah netral, tetapi tekanan jual masih lebih dominan dan perak belum memasuki kondisi jenuh jual.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)

4 hours ago
3















































