Joko Widodo Pimpin Tim Riset BRIN, Gandeng Jepang Garap Proyek Ini

8 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama National Research Institute for Earth Science and Disaster Resilience (NIED) Jepang resmi memperkuat aliansi riset penanggulangan bencana lewat gelaran perdana The 1st BRIN-NIED Annual Disaster Risk Reduction (DRR) Workshop di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Kamis (4/9) lalu.

Forum tahunan ini menandai kick-off proyek kolaborasi riset lintas sektor yang mencakup mitigasi multi-bahaya, rekayasa dan ketahanan seismik, sistem informasi darurat, manajemen bencana air dan sedimen, hingga observasi kegempaan.

Ketua Gugus Tugas Tanggap Bencana BRIN, Joko Widodo, menegaskan bahwa kemitraan strategis antara Indonesia dan Jepang menjadi krusial mengingat lanskap geografis kedua negara yang sama-sama dikepung oleh potensi bencana alam tinggi.

"Indonesia dan Jepang memiliki banyak tantangan bencana yang sama, termasuk gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem," ujar Joko.

Ia menekankan, kompleksitas ancaman tersebut menuntut kolaborasi global. Penguatan mitigasi dan ketahanan masyarakat tidak bisa berjalan secara parsial, melainkan harus disokong oleh riset berbasis sains, adopsi teknologi mutakhir, serta sinergi internasional.

Sinergi Lintas Sektor dan Mitigasi Modern

Lokakarya ini mempertemukan barisan peneliti dan pakar multidisiplin untuk merumuskan arah pengembangan riset kebencanaan ke depan.

Sejumlah isu strategis dibedah secara mendalam, mulai dari meteorologi dan ancaman gelombang panas (heatwave), dinamika tanah longsor, mitigasi gempa dan tsunami, aktivitas vulkanik, penginderaan jauh (remote sensing), hingga penguatan ketahanan komunitas lokal.

Joko berharap kerja sama bilateral ini dapat mengakselerasi transfer teknologi, memperbanyak publikasi ilmiah bersama, serta melahirkan program aksi yang aplikatif.

Harapan jangka panjangnya jelas: mendongkrak kapasitas ilmiah kedua negara sekaligus memberi dampak nyata bagi publik, mulai dari penajaman sistem peringatan dini (early warning system) hingga penciptaan masyarakat yang lebih resilien menghadapi hantaman bencana.

Perluas Jejaring ke Kawasan ASEAN

Di sisi lain, Presiden NIED Jepang, Prof. Kaoru Takara, menyambut antusias lokakarya ini sebagai babak baru pertukaran pengetahuan yang lebih masif antara kedua negara.

Takara menyoroti tingkat kerentanan tinggi yang dihadapi kawasan ASEAN dan Jepang terhadap ancaman gempa, tsunami, hidrometeorologi ekstrem, hingga dampak perubahan iklim. Menurutnya, Jepang dan ASEAN berada dalam posisi strategis untuk saling belajar satu sama lain.

"Saya percaya kita dapat bertukar pengalaman dari Jepang ke ASEAN, sebaliknya, dari ASEAN ke Jepang, dan antarnegara ASEAN," tutur Takara.

Lebih lanjut, Takara mendorong agar kemitraan ini tidak berhenti pada koridor bilateral Indonesia-Jepang saja, melainkan melebar menjadi bagian dari ekosistem riset kebencanaan regional di kawasan Asia-Pasifik.

Ia turut mengapresiasi pembentukan pusat unggulan BRIN di bawah jaringan Integrated Research on Disaster Risk (IRDR). Kehadiran pusat riset tersebut diyakini mampu memperkokoh kolaborasi global, mengingat NIED sendiri telah lebih dulu bertindak sebagai tuan rumah pusat unggulan IRDR di Jepang.

Melalui sinergi erat di bawah komunitas IRDR, pertukaran data, pengalaman, dan riset inovatif diharapkan mampu memberikan solusi nyata dalam menekan risiko bencana di tingkat global.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |