Ini Strategi Iran untuk Menang Perang Lawan AS-Israel

1 hour ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat (AS) memasuki babak baru setelah Teheran mengubah strategi militernya menjadi lebih agresif pasca perang 12 hari pada Juni 2025. Iran disebut bertekad membalas tewasnya pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan gabungan AS-Israel.

Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) bahkan menyatakan telah meluncurkan "operasi ofensif terberat dalam sejarah angkatan bersenjata Republik Islam terhadap wilayah pendudukan dan pangkalan teroris Amerika". Kepala Angkatan Darat Iran, Amir Hatami, juga menegaskan negaranya akan terus bertahan dan mengklaim jet tempur Iran telah membombardir pangkalan-pangkalan AS di kawasan Teluk.

Lalu apa sebenarnya strategi Iran?

1.Artesh dan IRGC

Kekuatan militer Iran kerap disebut kompleks dan berlapis. Struktur ini mencakup dua angkatan paralel, yakni Artesh (militer reguler) dan IRGC.

Keduanya berada langsung di bawah komando pemimpin tertinggi sebagai panglima tertinggi. Artesh bertanggung jawab atas pertahanan teritorial dan perang konvensional sementara IRGC memiliki mandat lebih luas termasuk menjaga struktur politik Iran.

IRGC juga mengendalikan persenjataan drone dan rudal balistik yang menjadi tulang punggung strategi penangkal (deterrence) Iran terhadap Israel dan AS.

"Strategi militer Iran berasal dari struktur politiknya. Tujuan politik mereka adalah menjaga integritas teritorial dan menghentikan intervensi asing yang bertujuan menggulingkan kekuasaan," kata seorang spesialis militer yang enggan disebutkan namanya, dimuat Al-Jazeera, Selasa (3/3/2026).

2.Rudal dan Drone

Sejak serangan terkoordinasi AS-Israel pada Sabtu, Teheran membalas dengan drone Shahed dan rudal balistik berkecepatan tinggi yang menyasar aset militer AS serta wilayah Israel dan negara-negara Teluk. Kementerian Pertahanan Iran menyebutkan pihaknya menembakkan 137 rudal dan 209 drone ke wilayah Uni Emirat Arab, lokasi pangkalan militer AS.

Serangan tersebut memicu kebakaran di sekitar ikon Dubai seperti Palm Jumeirah dan Burj Al Arab. Di Israel, sedikitnya sembilan orang tewas dan lebih dari 20 terluka akibat serangan rudal di Beit Shemesh.

3.Bertahan dan Menggertak

Penasihat keamanan asal Inggris dan mantan instruktur militer, John Phillips, mengatakan bahwa strategi terbaru Iran berfokus pada kelangsungan rezim, membangun kembali kemampuan inti, dan memulihkan daya gentar melalui eskalasi asimetris terukur.

"Iran mengandalkan ketahanan asimetris, memperkuat 'kota rudal', menyebar struktur komando, dan menerima kerusakan awal untuk mempertahankan kemampuan serangan balasan," ujarnya.

Ia menambahkan Iran menggunakan salvo besar rudal balistik, drone, serta dukungan kelompok proksi seperti Hezbollah untuk membebani sistem pertahanan Israel dan AS.

Phillips juga menyebut ancaman penutupan Selat Hormuz sebagai bagian strategi meningkatkan tekanan ekonomi global. Sekitar 20-30% pasokan minyak dan gas dunia melewati jalur tersebut.

4.Ofensif Bukan Defensif

Perang 12 hari pada Juni 2025 dimulai saat Israel menyerang fasilitas militer dan nuklir Iran. AS kemudian ikut campur dengan serangan bunker-buster ke fasilitas Natanz, Fordow, dan Isfahan.

Presiden AS Donald Trump saat itu mengklaim kemampuan nuklir Iran telah dinetralisir. Phillips menilai sejak itu Iran mengubah doktrin militernya dari defensif menjadi ofensif asimetris.

"Perang Juni 2025 menjadi titik balik dari konfrontasi berbasis proksi menjadi pertukaran langsung berintensitas tinggi antara Iran dan Israel, dengan keterlibatan AS," katanya.

Ia menambahkan bahwa Iran kini lebih berani mengambil risiko dan eskalatif, tetapi tetap terbatasi oleh kerusakan infrastruktur militer, sanksi ekonomi, dan instabilitas domestik.

Lalu, Apakah Strategi Ini Berhasil?

Analis menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan efektivitas strategi baru Iran. Secara militer, Iran masih mampu meluncurkan serangan rudal dan drone signifikan.

Namun Phillips menyebut Iran seperti "hewan yang terluka". Menurutnya, meski Iran berhasil memaksa Israel dan AS masuk dalam kampanye militer berkepanjangan dan mahal, kerusakan infrastruktur nuklir dan rudal serta melemahnya ekonomi menunjukkan strategi tersebut belum mampu mencegah kemunduran strategis besar.

Berapa Lama Konflik Bisa Bertahan?

Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan dalam pidato televisi, "Anda telah melewati garis merah kami". Ia menyebut AS dan Israel "Harus membayar harganya,".

"Kami akan memberikan pukulan yang menghancurkan hingga Anda memohon," ujarnya.

Merujuk ini, Phillips memperkirakan Iran dapat mempertahankan operasi rudal, drone, dan siber secara sporadis selama bertahun-tahun karena biaya relatif murah dan produksi tersebar. Namun konflik berkepanjangan berisiko memicu kontraksi ekonomi parah dan gejolak internal.

Di sisi lain, AS telah mengerahkan lebih dari 120 pesawat tempur ke kawasan Timur Tengah sejak Februari, termasuk F-35, F-22, dan sistem peringatan dini AWACS, pengerahan terbesar sejak perang Irak 2003. Meski demikian, faktor pembatas utama bagi Washington adalah kehendak politik domestik.

"AS kemungkinan akan mengupayakan kampanye yang terkontrol dan berfokus pada deterrence, bukan perang terbuka tanpa batas waktu," ujar Phillips.

Ia menambahkan bahwa bagi Israel, keunggulan militer kualitatif dan dukungan keamanan AS memungkinkan kampanye jangka panjang. Namun tekanan domestik dan internasional dapat memaksa stabilisasi lebih cepat.

Konflik Iran-Israel kini tidak hanya menjadi ujian kekuatan militer. Tetapi juga daya tahan politik dan ekonomi ketiga negara yang terlibat.

(sef/sef)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |