Jakarta, CNBC Indonesia - Industri film tak lagi sekadar hiburan, tetapi menjadi pintu masuk bisnis besar yang bisa mendorong ekonomi kreatif Indonesia ke pasar global. Hal ini terlihat dalam gelaran Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2026 yang kembali digelar di 11 kota di Indonesia.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif RI, Irene Umar menegaskan, industri film memiliki efek ekonomi berlapis. Hal itu mulai dari penjualan tiket hingga bisnis turunan seperti merchandise dan lisensi.
"Film itu bukan cuma soal nonton dua jam. Dari ticket sales bisa berkembang ke licensing, merchandising, dan bisnis lainnya," kata Irene dalam konferensi pers pembukaan FSIA 2026 di Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Ia menilai, potensi ini bisa menjadi pintu masuk bagi Indonesia untuk memperluas pasar ke tingkat global, bukan hanya mengandalkan pasar domestik. Selain itu, Irene juga menyoroti dampak ekonomi dari festival seperti FSAI tidak hanya terlihat secara langsung, tetapi juga dalam jangka panjang melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia di industri kreatif.
Menurut ia, selama lebih dari satu dekade, festival ini telah berkontribusi pada pengembangan talenta sineas Indonesia, termasuk melalui berbagai program pelatihan dan pertukaran ke Australia. Hal ini pun bisa membuka akses bagi pelaku industri untuk memahami standar produksi global hingga kebijakan pendukung industri film di negara maju.
Irene menambahkan, pertukaran pengetahuan ini menjadi kunci agar industri film Indonesia bisa naik kelas dan bersaing di tingkat internasional. Ia bilang, kolaborasi lintas negara memungkinkan transfer keahlian, baik dari sisi teknis produksi maupun pengembangan bisnis di sektor kreatif.
"Pertukaran knowledge ini penting, bukan hanya dari sisi cultural tapi juga technical. Ketika dua kekuatan disatukan, hasilnya akan jauh lebih kuat, jadi ruh kolaborasinya ada," ujarnya.
Sementara itu, Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier menyebut festival ini menjadi sarana memperkuat hubungan ekonomi dan budaya kedua negara, khususnya lewat industri kreatif. Ia bilang, tahun lalu saja jumlah pononton menembus 6.000 dari FSIA ini.
"Tujuan utama FSAI adalah mempererat hubungan dan membuka peluang kolaborasi industri kreatif," ujarnya.
Sementara itu, dalam pembukaan FSAI 2026, diputar "Kangaroo", film keluarga asal Australia berdurasi sekitar dua jam yang terinspirasi dari kisah nyata. Film ini mengangkat cerita tentang seorang pria kota yang hidupnya berubah setelah merawat bayi kanguru (joey) di pedalaman Australia.
Lewat interaksi tersebut, ia menemukan kembali makna hidup, sekaligus menghadirkan cerita hangat yang dekat dengan tema keluarga dan hubungan manusia dengan alam. Meski alurnya ringan dan cenderung emosional, film ini dinilai kuat dalam menyampaikan pesan tentang kepedulian terhadap hewan dan komunitas.
Sementara itu, FSIA digelar di 11 kota, yakni Jakarta, Manado, Semarang, Medan, Bogor, Makasar, Surabaya, Kupang, Banjarmasin, dan Mataram. Dalam festival ini, terdapat lima film Australia dan dua film Indonesia yang ditayangkan, yakni Jumbo dan Rangga & Cinta
Selain itu, festival juga menampilkan film pendek karya alumni Australia Awards serta menggelar masterclass bersama sineas internasional. Seluruhnya digelar dari 8-23 Meri 2026 secara gratis.
(sef/sef)
Addsource on Google

2 hours ago
2

















































