Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Senin (21/9/2026), namun tak lama setelah pasar buka IHSG malah langsung berbalik arah ke zona merah
Berdasarkan data IDX Mobile, IHSG pada pembukaan perdagangan naik tipis 5,74 poin atau 0,09% ke level 6.446,89. Beberapa menit setelah pasar buka IHSG terkoreksi hingga 0,38% ke level 6.416. Indeks diketahui bergerak pada rentang terendah 6.409 dan tertinggi 6.451 pada awal perdagangan pagi ini.
Sebanyak 220 saham menguat, 89 saham melemah, dan 344 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp 141,62 miliar, dengan volume perdagangan 268,37 juta saham yang berpindah tangan 33.914 kali.
Pergerakan pasar keuangan pada pekan ini akan dibayangi ketegangan di Timur Tengah, keputusan suku bunga sejumlah bank sentral, serta rilis data ekonomi dari dalam dan luar negeri.
Pasar akan mencermati konflik Houthi dan Arab Saudi, kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ), serta keputusan China mempertahankan Loan Prime Rate. Dari dalam negeri, perhatian utama tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia dan perkembangan uang beredar.
Sementara itu, Amerika Serikat (AS) dijadwalkan merilis data pesanan barang tahan lama pada akhir pekan.
Sementara itu, bursa saham Asia bergerak beragam pada perdagangan Senin (21/9/2026), dengan investor mencermati perkembangan ekonomi global dan agenda pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping pekan ini.
Indeks Kospi Korea Selatan naik 0,85% saat pembukaan, sedangkan indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq menguat 0,43%.
Di Australia, indeks acuan S&P/ASX 200 melemah 0,49% pada awal perdagangan. Sementara itu, pasar saham Jepang ditutup karena libur nasional sehingga tidak terdapat perdagangan pada hari ini.
Pergerakan pasar juga dipengaruhi oleh kebijakan moneter AS dan tingginya harga komoditas energi. Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga pada pekan lalu untuk pertama kalinya dalam tiga tahun ketika AS masih menghadapi inflasi yang sulit turun dan imbal hasil obligasi yang berada di level tinggi.
Harga minyak saat ini masih berada di sekitar US$100 per barel, sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga bertahan di dekat level 5%. Kondisi tersebut menjadi perhatian investor karena dapat meningkatkan tekanan terhadap inflasi sekaligus memengaruhi arah kebijakan moneter global.
Di tengah kondisi tersebut, pertemuan Trump dan Xi menjadi salah satu agenda yang menjadi perhatian pasar pada pekan ini. Pertemuan tersebut akan membahas sejumlah isu ekonomi, termasuk tarif perdagangan, mineral kritis, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), serta berbagai persoalan ekonomi lainnya.
Menjelang pertemuan tersebut, Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga bertemu dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng. Pertemuan Bessent dan He dilakukan sebagai bagian dari pembicaraan awal sebelum kunjungan dan pertemuan Trump dengan Xi.
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
2

















































