Harga Perak Terkapar Gegara The Fed, Ambruk 5% Dalam Sepekan!

2 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga perak terperosok pada perdagangan pekan ini terdorong ketidakpastian konflik timur tengah dan proyeksi suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) yang higher for longer.

Berdasarkan data Refinitv, harga perak dunia di pasar spot tercatat US$75,95 per troy ons atau turun 5,44% sepanjang pekan ini.

Perak mendapatkan tekanan dari inflasi Amerika Serikat (AS) yang semakin panas dan berpotensi mendesak The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan menaikkannya.

Inflasi Amerika Serikat naik lebih tinggi dari perkiraan pada April 2026, dipicu terutama oleh lonjakan harga energi. Indeks Harga Konsumen (CPI) meningkat 0,6% secara bulanan dan 3,8% secara tahunan, sedikit di atas ekspektasi pasar. Sementara itu, inflasi inti yang tidak memasukkan makanan dan energi naik 0,4% bulanan dan 2,8% tahunan, masih jauh di atas target 2% Federal Reserve.

Inflasi tahunan yang menembus 3,8% adalah yang tertinggi sejak Mei 2023.

Setelah laporan dirilis, pasar meningkatkan peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve menjadi sekitar 30% hingga akhir tahun. Meski demikian, ekonomi AS masih dinilai cukup tangguh, didukung belanja konsumen yang tetap kuat, laba perusahaan yang solid, dan proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal II sebesar 3,7%

Sebelumnya, pasar masih membuka peluang satu hingga dua kali pemangkasan suku bunga pada tahun ini. Namun, setelah data inflasi keluar, pelaku pasar mulai memperkirakan The Fed hanya akan memangkas suku bunga sekali, bahkan ada peluang tidak memangkas sama sekali.

Bagi perak, ekspektasi suku bunga tinggi menjadi tekanan besar. Emas tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi. Ketika suku bunga dan yield obligasi AS tinggi, investor cenderung lebih tertarik pada aset berbunga.

Tekanan juga semakin berat setelah Kevin Warsh dikonfirmasi sebagai Ketua The Fed yang baru. Warsh dipandang lebih hawkish atau cenderung mendukung kebijakan suku bunga ketat untuk menekan inflasi.

Di sisi lain, konflik di Timur Tengah yang berkepanjangan juga menaruh risiko lebih besar terkait lonjakan harga energi.

Dengan kondisi tersebut, sentimen geopolitik belum cukup kuat untuk mengangkat pasar. Pasar justru lebih fokus pada risiko inflasi, arah suku bunga The Fed, penguatan dolar AS, dan kenaikan yield obligasi.

Meskipun demikian, kekuatan perak tidak hanya berkutat sebagai aset safe haven, namun juga industri. Kekuatan harga perak mencerminkan peran gandanya sebagai logam mulia sekaligus bahan baku industri.

Berbeda dengan emas, yang lebih sensitif terhadap suku bunga, nilai tukar mata uang, dan aliran dana safe haven, perak juga memperoleh dukungan ketika prospek permintaan dari sektor manufaktur tetap kuat. Faktor industri kini menjadi semakin penting.

Permintaan dari instalasi tenaga surya, sistem kelistrikan, komponen elektronik, dan industri kendaraan membantu menciptakan "lantai harga" bagi perak, bahkan ketika kondisi makroekonomi kurang mendukung.

Pergerakan terbaru menunjukkan bahwa pelaku pasar masih fokus pada prospek permintaan struktural jangka panjang.

Artinya, pasar tidak lagi memandang perak semata sebagai aset yang sensitif terhadap suku bunga, tetapi juga sebagai komoditas industri dengan kebutuhan yang terus meningkat.

(ras/ras)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |