Jakarta, CNBC Indonesia - Senjata dan amunisi dari gudang-gudang tentara Israel dilaporkan telah dicuri secara besar-besaran selama perang di Jalur Gaza. Senjata-senjata mematikan tersebut, termasuk roket anti-tank jenis LAW, kini terkonfirmasi telah jatuh ke tangan organisasi kriminal dan mafia.
Mengutip Anadolu Agency, Jumat (18/09/2026), lembaga penyiaran publik Israel, KAN, pada Kamis melaporkan bahwa pihak militer kemungkinan besar tidak mengetahui secara pasti jumlah total senjata dan amunisi yang dicuri dan kini beredar bebas di luar kendali mereka. Sepanjang minggu ini saja, telah tercatat dua insiden mengerikan yang melibatkan penggunaan roket LAW di kota-kota Arab, yakni Sajur dan Jaljulia.
Sifat dari insiden-insiden terbaru serta anjloknya harga senjata di pasar gelap menjadi indikator kuat bahwa pencurian senjata ini terjadi dalam skala masif. Aksi pembobolan ini disinyalir terjadi setelah gudang-gudang unit darurat dibuka secara luas selama perang berkecamuk.
Celakanya, amunisi yang hilang tersebut dapat dengan mudah dikelabui dan dicatat sebagai amunisi yang telah digunakan dalam pertempuran, sehingga sangat sulit untuk menentukan berapa banyak jumlah sebenarnya yang dicuri.
Laporan KAN juga menyoroti lonjakan tajam dalam penggunaan pesawat tak berawak (drone) dan senjata tingkat militer oleh para pelaku kriminal.
"Jumlah insiden kriminal yang melibatkan granat tangan naik dari 75 pada tahun 2023 menjadi 988 pada tahun 2024, yang berarti hampir tiga insiden sehari," paparnya.
Kengerian ini terbukti nyata saat sebuah granat tangan dijatuhkan dari sebuah drone di wilayah Nazareth pada minggu ini. Sebuah investigasi oleh unit Lahav 433 dari kepolisian Israel turut membongkar fakta bahwa sejumlah perusahaan di komunitas Badui telah memborong ratusan drone kargo berukuran besar dengan menggunakan faktur palsu.
"Pesawat tak berawak itu belum ditemukan, dan pihak berwenang tidak tahu di mana mereka digunakan."
Menyadari besarnya ancaman keamanan nasional ini, kepolisian Israel, angkatan darat, badan keamanan Shin Bet, dan lembaga keamanan yang lebih luas kini tengah mengevaluasi skala ancaman dari rentetan drone tersebut dan mengembangkan berbagai strategi penangkal. Otoritas keamanan meyakini bahwa jaringan kriminal ini memiliki motif tertentu di balik pencurian alat canggih tersebut.
"Beberapa di antaranya mungkin digunakan dalam operasi penyelundupan," pungkasnya.
(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]

5 hours ago
2

















































