Disebut di Alquran, Bahan Baku Minuman Surga Ternyata Tumbuh di RI

7 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Siapa sangka, bahan yang disebut dalam Al-Qur'an sebagai campuran minuman penghuni surga justru punya jejak kuat di Indonesia. Komoditas bernama kafur atau kamper ini bahkan sudah diperdagangkan lintas negara sejak sebelum Islam datang.

Dalam Surah Al-Insan ayat 5-6, disebutkan penghuni surga akan meminum minuman yang dicampur dengan "kafur". Istilah ini merujuk pada zat beraroma khas yang dalam sejarah dikenal sebagai kamper atau kapur barus, komoditas yang pernah menjadi primadona perdagangan global.

Air kafur yang dimaksud tak lain adalah air kamper atau kapur barus. Catatan sejarah menunjukkan kamper yang disebut di Al-Qur'an dan beberapa riwayat Nabi Muhammad ada kaitannya dengan Indonesia.

Sebagai informasi, pohon kamper tak bisa tumbuh di Timur Tengah. Oleh karena itu, masyarakat harus melakukan impor kamper dari luar daerah.

Dalam proses impor, memperoleh kamper bukan usaha sulit. Sebab, kamper sudah diperdagangkan di sebagian besar dunia sejak abad ke-4 Masehi, tiga abad sebelum Al-Qur'an turun.

Terkait lokasi penghasil kamper, sumber-sumber Arab menyebut daerah Fansur. Peneliti Prancis Nouha Stephan dalam "Kamper dalam Sumber Arab dan Persia: Produksi & Penggunaanya" menganalisis teks-teks tradisional yang menyebut Fansur.

Salah satu yang ditelitinya adalah deskripsi ahli geografi Ibn Sa'id al Magribi. Ibn Sa'id yang meninggal di akhir abad ke-13 menjelaskan secara spesifik bahwa Fansur penghasil kamper berasal dari Pulau Sumatra.

Selain itu, pendapat lain juga diungkap arkeolog Edward Mc. Kinnon dalam Ancient Fansur, Aceh's Atlantis (2013). Ia menyebut Fansur terletak di ujung barat Aceh. Hipotesis ini didasarkan pada pertimbangan letak geografis dan data perdagangan dari catatan tertulis yang menyebut nama Panchu sebagai penghasil kamper.

Bukti lain juga diungkap Claude Guillot dalam Barus Seribu Tahun yang Lalu (2008). Ia menyimpulkan ada 3 kawasan tempat kamper tumbuh dengan sendirinya yang perlu diperhatikan, yakni Sumatra, Semenanjung Melayu, dan Borneo (Kalimantan).

Namun, sejarawan tersebut mengerucutkan secara spesifik lebih lanjut soal lokasinya, yakni daerah Barus di Sumatra.

"Kami dapat menyimpulkan bahwa sebagian besar atau seluruh kamper yang diperdagangkan sebelum kira-kira abad ke-10 Masehi dan penemuan kamper di Borneo berasal dari utara Sumatra, yakni Barus," tulis Guillot.

Jika mengacu pada klaim Guillot, maka kamper yang dicatat dalam Al-Qur'an dan riwayat Nabi Muhammad atau digunakan dalam pengawetan mumi di Mesir, berasal dari Barus, Sumatra.

Selain itu, sejarawan Jajat Burhanudin dalam Islam dalam Arus Sejarah Indonesia (2020) menceritakan, Barus memang sudah dikenal lama dalam dunia perdagangan.

Jajat menduga, orang Arab dan Persia tiba di Barus melalui perjalanan langsung dari Teluk Persia, melewati Ceylon, lalu tiba di Pantai Barat Sumatra. Pada titik inilah, Barus terbukti sebagai daerah penghasil kamper dan sudah berkembang jadi pelabuhan penting di Sumatra.

Seiring waktu, Barus jadi pelabuhan krusial di era Kerajaan Sriwijaya abad ke-10. Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya (1996) menceritakan, kamper sudah jadi barang yang sangat laku di pasar internasional.

Banyak para pengembara Arab berkunjung ke sana menggunakan kapal-kapal besar untuk mengangkut kamper.

(hsy/hsy)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |