- Pasar keuangan Tanah Air bergerak beragam sepanjang pekan lalu
- Bursa saham AS kompak menguat sepanjang pekan lalu
- Rilis APBN KiTa, rilis Perkembangan Uang Beredar (M2), serta gonjang-ganjing tarif dagang AS berpotensi menjadi penggerak pasar hari ini hingga sepekan ke depan.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Tanah Air di sepanjang pekan lalu bergerak cukup beragam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat, namun rupiah melemah, hingga obligasi kembali dijual investor.
Pasar keuangan Indonesia diharapkan mampu menguat pada perdagangan awal pekan ini, Senin (23/2/2026) dan sepanjang pekan ke depan. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen hari ini hingga sepekan ke depan dapat dibaca pada halaman 3 artikel ini.
IHSG pada akhir pekan lalu, Jumat (20/2/2026) berakhir di posisi 8.271,76. Dalam sehari IHSG melemah tipis 0,03% kendati demikian bursa saham masih menguat 0,72% sepekan.
Pada perdagangan Jumat, terdapat 381 saham turun, 267 naik, dan 171 tidak bergerak. Nilai transaksi pun mencapai Rp20,32 triliun dengan melibatkan 43,12 miliar saham dalam 2,9 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar turun menjadi Rp14.941 miliar.
Meski IHSG, investor asing justru tercatat melakukan aksi beli di seluruh pasar, dengan net inflow sebesar Rp240,57 miliar.
Secara sektoral, sektor konsumer non siklikal menjadi yang paling dalam pelemahannya dengan terkoreksi 1,53%, disusul transportasi & logistik melemah 1,06% dan sektor energi 1,02%.
Adapun, sektor infrastruktur memimpin penguatan dengan 0,92%, finansial menguat 0,54% dan diikuti industri dengan terapresiasi 0,50%.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi penekan utama pergerakan IHSG pada perdagangan Jumat lalu, di antaranya PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), hingga PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA).
Beralih ke pergerakan mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir pekan lalu rupiah berhasil menguat meskipun secara kumulatif sepekan masih melemah.
Melansir data Refinitiv, rupiah menutup perdagangan di level Rp16.860/US$ atau menguat tipis 0,06%. Penguatan ini sekaligus memperpanjang tren positif rupiah setelah pada perdagangan sebelumnya juga ditutup menguat.
Meskipun, secara kumulatif sepekan lalu rupiah melemah sebesar 0,21%.
Pergerakan rupiah pada Jumat pekan lalu dipengaruhi kombinasi sentimen domestik dan global. Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) mengumumkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mengalami defisit US$1,5 miliar atau 0,1% dari Produk Domestik Bruto (PDB) sepanjang 2025.
Defisit tersebut lebih rendah dibanding 2024 yang mencapai US$8,6 miliar atau 0,6% dari PDB.
"Perkembangan ini dipengaruhi oleh peningkatan surplus neraca perdagangan barang seiring dengan kinerja ekspor yang meningkat, khususnya ekspor produk manufaktur," dikutip dari siaran pers BI, Jumat (20/2/2026).
Menyempitnya defisit NPI juga ditopang surplus neraca pendapatan sekunder yang lebih tinggi, seiring meningkatnya penerimaan remitansi dari Pekerja Migran Indonesia (PMI). Adapun pada kuartal IV-2025, NPI tercatat surplus US$6,1 miliar, ditopang perbaikan transaksi berjalan serta kenaikan remitansi PMI.
Dari eksternal, dolar AS masih berada dalam tren penguatan secara mingguan. DXY bertahan di level terkuatnya dalam satu bulan terakhir dan masih berada di jalur kenaikan lebih dari 1% dalam sepekan, yang berpotensi menjadi performa terkuatnya dalam lebih dari empat bulan.
Kondisi tersebut mencerminkan permintaan yang masih tinggi terhadap aset berdenominasi dolar, yang pada gilirannya dapat menekan mata uang lain, termasuk rupiah.
Penguatan dolar dalam beberapa hari terakhir salah satunya ditopang nada kebijakan bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) yang dinilai masih cenderung ketat, setelah risalah rapat menunjukkan sejumlah pejabat membuka ruang kenaikan suku bunga jika inflasi kembali bertahan tinggi.
Sikap ini membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati terhadap aset berisiko dan meningkatkan permintaan dolar.
Beralih ke pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat tidak bergerak dan bertahan di level 6,458%. Meski demikian, secara kumulatif sepekan lalu naik 4,87 basis poin (bps) atau sekitar 0,76%.
Sebagai catatan, pergerakan yield dan harga dalam obligasi itu berlawanan arah, jika yield naik, maka harga sedang turun, yang artinya investor sedang menjual obligasi RI.
Addsource on Google

2 hours ago
4

















































