Jakarta, CNBC Indonesia - Ketidakpastian ekonomi global masih membayangi para investor. Pasalnya, dalam beberapa waktu terakhir terdapat berbagai tantangan seperti tekanan geopolitik, perubahan arah kebijakan fiskal maupun moneter, hingga dinamika domestik yang mempengaruhi keputusan para pelaku pasar.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Executive Director Charta Politika Indonesia, Yunarto Wijaya dalam DBS Insights Forum 2026: "A New Lens on a Multipolar World", pada sesi yang bertajuk "Indonesia: Built on Strong Fundamentals". Sebagai informasi, DBS Insights Forum 2026 merupakan forum diskusi yang mempertemukan pakar geopolitik, hubungan internasional, dan investasi untuk membahas prospek ekonomi Indonesia, arah kebijakan, serta strategi investasi yang relevan di semester II 2026.
DBS Insights Forum 2026 menghadirkan sejumlah pakar terkini, manajer investasi terkemuka, serta pakar dari Bank DBS Indonesia untuk berbagi perspektif strategis yang membantu pelaku usaha dan investor dalam memahami berbagai perubahan kebijakan dan rantai pasok serta implikasinya pada prospek ekonomi Indonesia.
Melalui forum tersebut, Yunarto menjelaskan bahwa setiap pemimpin tentu ingin mengedepankan kepentingan nasional dan pertumbuhan ekonomi di negaranya. Namun, tantangan bagi pemimpin saat ini adalah menjaga keseimbangan kebijakan yang berpihak pada domestik sekaligus menarik investasi asing.
"Pada masa transisi, biasanya economic growth akan agak dikorbankan. Yang kita lihat saat ini adalah Pak Prabowo sepertinya ingin keduanya. Di satu sisi, dia yang berbicara national interest dengan kemudian sedikit mulai memberlakukan beberapa kebijakan capital control, seperti DSI dan lain-lain," kata dia dalam acara DBS Insights Forum 2026 pada sesi yang bertajuk "Indonesia: Built on Strong Fundamentals", Rabu (15/7/2026).
Di sisi lain, Yunarto menyebut, perhatian besar yang ditunjukkan oleh Presiden Prabowo Subianto terhadap pengelolaan sumber daya alam di dalam negeri dan upaya reindustrialisasi mencerminkan keinginan pemerintah agar nilai tambah dari produk tersebut benar-benar dinikmati Indonesia.
Pendekatan tersebut dinilai memiliki kemiripan dengan kebijakan proteksionis yang diterapkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, meski dalam skala berbeda. Hanya saja, kebijakan itu berpotensi memengaruhi negara-negara yang selama ini memiliki peran besar dalam industrialisasi Indonesia, terutama di sektor sumber daya alam seperti nikel dan timah.
Dalam kesempatan yang sama, Head of Market Intelligence PT Bank DBS Indonesia, Boy Suhendry menganggap Indonesia masih memiliki faktor fundamental yang membuat rasa optimisme tetap terjaga dalam kondisi saat ini. Di antaranya adalah ketersediaan sumber daya alam yang melimpah, tingginya konsumsi domestik, keberadaan bonus demografi, hingga keberlanjutan hilirisasi industri.
"Kalau kita lihat, faktor dari global terkait dengan geopolitical tension, entah itu di Timur Tengah, entah itu di Eropa Timur, entah itu di Asia, lambat laun itu juga kecenderungan akan mulai ada settlement dan di domestik sendiri, kami melihat berbagai isu yang sempat menjadi perhatian juga mulai mereda," terang dia.
Berkaca dari situ, sekarang investor sudah mulai memiliki lanskap yang jelas dalam menyusun strategi investasi. Secara keseluruhan, Bank DBS Indonesia tetap optimistis dengan prospek jangka menengah Indonesia.
Untuk saat ini, Bank DBS Indonesia melihat bahwa volatilitas pasar yang terjadi belakangan ini masih berkaitan dengan ketidakpastian geopolitik dan penyesuaian arah kebijakan fiskal domestik. Ke depannya, perkembangan belanja pemerintah (government spending) di tengah kenaikan suku bunga acuan juga akan banyak dibahas oleh pelaku pasar.
Lebih lanjut, perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) diyakini bisa menjadi katalis baru bagi perekonomian Indonesia. Pasalnya, Indonesia adalah salah satu produsen nikel terbesar di dunia, sehingga berpeluang mendapatkan manfaat dari meningkatnya kebutuhan bahan baku untuk industri AI dan pusat data.
Sementara itu, Investment Director PT Trimegah Asset Management, Darma Yudha menuturkan, lesunya kinerja pasar modal Tanah Air dalam beberapa waktu terakhir justru membuat valuasi pasar menjadi menarik.
Darma mengaku, berdasarkan pengalamannya berkecimpung hampir 17 tahun di pasar modal, saat ini merupakan salah satu periode paling berat bagi pasar sejak krisis tahun 2008 silam. Walau demikian, ia menganggap pasar saham bergerak berdasarkan persepsi dan kredibilitas, sehingga dua faktor ini yang masih ditunggu perkembangannya.
"Jadi sebenarnya kalau time horizon-nya untuk lebih dari 1 tahun untuk bisa perform dari market equity, ini sangat besar, ini masih ada overhang, contoh MSCI nanti masih bulan November, kita masih tunggu juga, walaupun development-nya udah lebih bagus ya, sekarang dari bursa, OJK udah kooperatif, tapi masih kita tunggu juga perkembangan lebih lanjut," ungkap Darma.
Darma menambahkan, keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat Indonesia tentu menjadi sentimen positif bagi pasar obligasi. Kendati begitu, para investor tetap perlu mencermati potensi kenaikan suku bunga acuan The Fed yang masih dapat memicu volatilitas di negara-negara emerging market seperti Indonesia.
Maka dari itu, Trimegah Asset Management masih merekomendasikan investor untuk memperbanyak porsi obligasi berdurasi pendek. Strategi ini dinilai lebih mampu untuk menjaga stabilitas portofolio dibandingkan obligasi tenor panjang selama ketidakpastian pasar masih berlangsung.
Tak ketinggalan, Director PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen, Edi Kusnadi memaparkan, saat ini masih banyak saham dengan valuasi murah di Bursa Efek Indonesia (BEI). Bahkan, fundamental dari saham-saham tersebut masih tergolong solid.
Oleh sebab itu, tren koreksi kinerja pasar saham sebenarnya dapat menjadi momentum yang tepat bagi investor untuk melakukan akumulasi investasi pada saham-saham yang dinilai punya valuasi murah dan prospek positif secara jangka panjang. Edi juga menyarankan investor untuk mencari sektor-sektor saham yang risikonya paling minim sebagai langkah awal.
"Masih banyak banget emiten yang perform tahun ini. Hampir semua sektor itu positif earning growth tahun lalu itu negatif jadi harusnya IHSG turunnya tahun lalu, naiknya tahun ini, tapi keacak-acak sama speculative stocks dan policy confidence gitu ya. Kurang lebih seperti itu," kata dia.
Edi melanjutkan, Batavia Prosperindo Aset Manajemen merekomendasikan sektor-sektor yang terbilang cukup defensif, seperti konsumer dan perawatan kesehatan (healthcare). Sektor ini dinilai cukup tahan banting di tengah berbagai tantangan yang terjadi di pasar. Terlebih, pertumbuhan ekonomi nasional masih bertahan di kisaran 5% dan tidak semua sektor turut merasakan pertumbuhan sebesar itu.
Beragam pandangan yang mengemuka dalam DBS Insights Forum 2026 menunjukkan bahwa di tengah ketidakpastian geopolitik, perubahan kebijakan ekonomi, dan volatilitas pasar, investor tetap dapat menemukan peluang dengan memahami berbagai dinamika yang memengaruhi perekonomian dan pasar keuangan. Karena itu, akses terhadap wawasan yang relevan dan perspektif dari para pakar menjadi semakin penting dalam membantu investor mengambil keputusan yang lebih terukur.
Melalui DBS Insights Forum 2026: A New Lens on a Multipolar World, Bank DBS Indonesia menghadirkan beragam perspektif dari pakar geopolitik, ekonomi, dan investasi guna membantu nasabah serta investor memahami perubahan lanskap global, mengidentifikasi peluang, dan mengantisipasi risiko di tengah tatanan ekonomi yang terus berkembang.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, DBS Treasures dan DBS Treasures Private Client hadir sebagai mitra tepercaya dalam mengelola dan mengembangkan kekayaan. Dengan dukungan insights tajam dari Best Chief Investment Office by The Assets serta pandangan strategis dari para pakar, nasabah dapat mengambil keputusan finansial dengan lebih percaya diri. Beragam solusi pengelolaan kekayaan yang komprehensif pun dihadirkan untuk membantu nasabah menavigasi dinamika pasar, mengoptimalkan peluang investasi, serta mewujudkan tujuan keuangan jangka panjang.
Komitmen tersebut turut tercermin melalui berbagai pengakuan yang diraih Bank DBS Indonesia. Baru-baru ini, Bank DBS Indonesia meraih penghargaan Indonesia's Best Private Bank 2026 dari FinanceAsia serta Best Priority Banking Experience 2026 dari Asian Banking & Finance, dan Best Wealth Manager Highly Commended dari The Asset
(rah/rah)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
2

















































