China Raja Dunia 2 Abad Lalu, Hancur Karena Opium, Bangkit Incar AS

3 hours ago 4

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

30 August 2026 19:00

Jakarta, CNBC Indonesia - China ternyata pernah menjadi pusat ekonomi dunia jauh sebelum Amerika Serikat muncul sebagai negara adidaya. Pada 1820, Negeri Tirai Bambu menyumbang sekitar 28,6% produk domestik bruto (PDB) global berdasarkan purchasing power parity atau PPP.

Posisi tersebut kemudian terkikis selama lebih dari satu abad. Pangsa China turun menjadi 17,2% pada 1870, 10% pada 1913, dan hanya 5,2% pada 1950. Titik terendah terjadi pada 1961 ketika kontribusinya terhadap ekonomi dunia tersisa 4,1%.

Arah sejarah baru berbalik setelah reformasi ekonomi dimulai pada 1978. Pangsa China naik menjadi 10,2% pada 2001, melewati Amerika Serikat pada 2014, dan mencapai 21,8% pada 2025.

Mengapa China Menjadi Nomor Satu?

Besarnya ekonomi China pada 1820 terutama disebabkan jumlah penduduk, bukan karena setiap warga China sangat kaya. Populasinya diperkirakan mencapai sekitar 381 juta jiwa, lebih dari sepertiga penduduk dunia ketika itu.

China juga memiliki pertanian intensif, pasar domestik luas, serta produksi tekstil, sutra, teh, dan porselen. Jutaan rumah tangga produktif membuat total outputnya sangat besar.

Namun, PDB per kapitanya berada di bawah AS dan Eropa. China menjadi ekonomi terbesar karena memiliki banyak produsen, bukan karena produktivitas per orang paling tinggi.

Hal tersebut penting karena besarnya pangsa global tidak selalu berarti masyarakat menikmati standar hidup tertinggi. Dalam ekonomi praindustri, total produksi sangat dipengaruhi jumlah penduduk. Negara dengan populasi besar otomatis memiliki bobot besar meskipun mayoritas penduduknya bekerja di sektor dengan produktivitas rendah.

Posisi China pada 1820 karena itu lebih tepat dibaca sebagai cerminan skala ekonomi dan demografi.

Peta Kekuatan Ekonomi Berubah

Pada pertengahan abad ke-19, dominasi mulai bergeser ke Imperium Inggris (British Empire). Inggris merupakan negara pertama yang melakukan industrialisasi dalam skala besar melalui penggunaan mesin, batu bara, tenaga uap, sistem pabrik, dan jaringan perdagangan kolonial.

Imperium Inggris mencapai puncak 23,8% pada 1845. Memasuki abad ke-20, pusat ekonomi beralih ke AS yang menguasai 29,7% pada 1944, saat banyak pusat industri Eropa dan Asia hancur akibat perang.

Apakah China Jatuh karena Opium?

Perang Opium merupakan bagian penting dari kemerosotan Dinasti Qing, tetapi bukan penyebab tunggal. Penurunan China telah dimulai sebelum Perang Opium I pada 1839-1842. Dalam rangkaian data, pangsanya sudah turun dari 28,6% pada 1820 menjadi sekitar 25% menjelang perang.

Masalah utamanya adalah ketertinggalan industrialisasi. Ketika Inggris, Amerika Serikat, dan Eropa meningkatkan produksi menggunakan mesin, sebagian besar ekonomi China masih bergantung pada pertanian dan kerajinan padat karya. Produksi dunia tumbuh jauh lebih cepat sehingga pangsa China terus menyusut.

Penurunan pangsa juga tidak selalu berarti output China terus mengalami kontraksi. Dalam sejumlah periode, produksinya masih bertambah, tetapi kenaikannya jauh lebih lambat dibandingkan negara-negara industri.

Ketika ukuran ekonomi dunia membesar dengan cepat, pertumbuhan yang lambat sudah cukup untuk membuat bagian China mengecil. Inilah alasan kurva tersebut tidak boleh dibaca hanya sebagai catatan perang, melainkan juga sebagai perbandingan produktivitas antarnegara.

Perdagangan opium memperburuk kondisi tersebut. Inggris menjual opium dari India untuk membayar teh, sutra, dan porselen China. Arus perak keluar, penerimaan pemerintah tertekan, dan masalah sosial meningkat.

Setelah kalah, China dipaksa membuka pelabuhan, membayar indemnitas, menyerahkan Hong Kong, dan memberikan hak khusus kepada pihak asing. Perang Opium menjadi akselerator kelemahan yang sudah ada.

Beban perang bukan hanya kehilangan wilayah. Pembayaran ganti rugi menyerap kemampuan fiskal yang seharusnya dapat digunakan untuk pertahanan, infrastruktur, pendidikan, atau modernisasi industri.

Pembukaan pelabuhan memang memperluas perdagangan dan membawa teknologi ke beberapa kota pesisir. Namun, keuntungan itu tidak cukup mengimbangi lemahnya kapasitas pemerintah pusat dan besarnya kerusakan di berbagai daerah.

Pemberontakan dan Invasi Menghancurkan Ekonomi

Tidak lama setelah Perang Opium, China menghadapi Pemberontakan Taiping pada 1850-1864. Konflik tersebut menghancurkan sejumlah wilayah pertanian dan perdagangan paling makmur, merusak jalur transportasi, dan menelan jutaan korban.

Kekalahan dari Jepang pada 1894-1895 membuat Qing kehilangan wilayah, membuka konsesi baru, dan membayar indemnitas melalui pinjaman luar negeri. China gagal mengejar modernisasi industri dan militer Jepang.

Dinasti Qing akhirnya runtuh pada 1911. Namun, pembentukan republik tidak langsung menghasilkan stabilitas. China terpecah di bawah kekuasaan panglima perang sebelum Jepang menguasai Manchuria pada 1931 dan melancarkan invasi berskala besar pada 1937.

Setelah Jepang menyerah pada 1945, perang saudara antara Kuomintang dan Partai Komunis kembali pecah. Kombinasi perang, kerusakan infrastruktur, fragmentasi negara, dan hiperinflasi membawa pangsa China menjadi hanya 5,2% pada 1950.

Great Leap Forward Membawa China ke Titik Terendah

Berdirinya Republik Rakyat China pada 1949 menyatukan kembali negara. Pangsa China sempat naik menjadi 6,9% pada 1953, tetapi program Great Leap Forward pada 1958-1962 memicu guncangan baru.

Tenaga pertanian dialihkan ke proyek industri yang tidak produktif. Kolektivisasi, kesalahan kebijakan pertanian, kegagalan panen, dan laporan produksi yang tidak akurat memicu kelaparan besar. Pangsa China turun dari 6,3% pada 1958 menjadi 4,1% pada 1961.

Cultural Revolution pada 1966-1976 kembali mengganggu pendidikan, produksi, penelitian, dan pembentukan tenaga terampil. Pada 1976, pangsa China masih hanya sekitar 5,1%.

Reformasi 1978 Membalik Arah Sejarah

Kebangkitan dimulai ketika Deng Xiaoping menjalankan reformasi dan keterbukaan pada 1978. Petani memperoleh insentif untuk meningkatkan produksi, perusahaan diberi ruang merespons pasar, kawasan ekonomi khusus dibangun, dan investasi asing mulai masuk.

China juga memanfaatkan tenaga kerja besar, tingkat tabungan tinggi, pembangunan infrastruktur, transfer teknologi, dan ekspor manufaktur. Pangsa ekonominya meningkat dari 5,6% pada 1978 menjadi 9,9% pada 2000.

Reformasi dijalankan bertahap, bukan melalui perubahan mendadak. Pemerintah mempertahankan kendali pada sektor strategis, tetapi membuka ruang bagi usaha swasta, modal asing, dan mekanisme harga.

Model tersebut mendorong perpindahan jutaan pekerja dari pertanian menuju industri dan jasa dengan produktivitas lebih tinggi. Jalan raya, pelabuhan, pembangkit listrik, dan kawasan industri kemudian menghubungkan pabrik-pabrik China dengan pasar dunia.

Setelah bergabung dengan WTO pada 2001, China semakin terintegrasi dengan perdagangan global. Perusahaan asing membangun basis produksi dan rantai pasok di negara tersebut. China kemudian berkembang menjadi pusat manufaktur dunia.

Pada 2014, pangsa China mencapai 16,6% dan melewati AS yang berada di level 16%. Pada 2025, jaraknya semakin lebar dengan China 21,8% dan AS 14,7%.

Belum Kembali ke Rekor Lama

Meski kini memimpin secara PPP, pangsa China pada 2025 masih 6,8 poin persentase di bawah posisi 1820. Kebangkitannya juga berbeda secara kualitas. Pada 1820, besarnya ekonomi terutama berasal dari populasi dan pertanian. Kini China merupakan kekuatan industri, eksportir, pembangun infrastruktur, dan produsen teknologi.

PPP mengukur produksi setelah menyesuaikan perbedaan harga. Ukuran ini berguna membandingkan volume ekonomi domestik, tetapi bukan satu-satunya ukuran kekuatan finansial. Berdasarkan PDB nominal, AS masih lebih besar.

Kesimpulannya, kejatuhan China bukan semata-mata disebabkan opium. Kemerosotannya merupakan kombinasi ketertinggalan industrialisasi, lemahnya pemerintahan Qing, intervensi asing, pemberontakan, invasi Jepang, perang saudara, dan kesalahan kebijakan domestik.

Sebaliknya, kebangkitannya terjadi melalui reformasi pasar, stabilitas negara, industrialisasi, pembangunan infrastruktur, investasi, ekspor, dan integrasi ekonomi global dan nampaknya hal tersebut terlihat pada regim pemerintah China saat ini dengan skema yang keberlanjutan dan tren yang terus mendominasi.

-

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |