Check-in Hotel di Bali Sepi Sampai Gelombang PHK? Pengusaha Jawab Gini

17 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Kabar hotel-hotel di Bali sepi mencuat saat momen liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026, memicu kekhawatiran adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan. Namun pelaku industri menilai narasi tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi di lapangan.

Dikatakan, tingkat hunian hotel dinilai masih berada di level aman untuk menjaga operasional tetap berjalan normal.

Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya menegaskan, tingkat okupansi hotel di Pulau Dewata masih tergolong sehat. Dengan capaian tersebut, ia memastikan tidak ada alasan bagi hotel untuk melakukan efisiensi ekstrem hingga merumahkan karyawan.

"Efisiensi? Oh nggak ada, sepi-sepinya Bali itu kalau tingkat huniannya 70 sampai 80% itu masih bagus ya, tidak sampai ada yang merumahkan karyawannya," kata Rai kepada CNBC Indonesia dikutip Jumat (9/1/2026).

Secara tahunan, performa hunian hotel di Bali juga relatif stabil. Rai menyebut, rata-rata okupansi sepanjang tahun berada di kisaran yang konsisten, dengan lonjakan yang lazim terjadi saat periode libur panjang akhir tahun.

"Januari sampai Desember average di Bali itu okupansi 75 sampai 80%. Kalau di Nataru mungkin bisa lebih dari itu ya. di Nataru naik menjadi 80, kalau di tahun barunya menjadi 90 sampai 95%," ujar Rai.

Meski demikian, tingkat hunian tidak merata di seluruh wilayah Bali. Konsentrasi wisatawan masih terpusat di kawasan tertentu, terutama wilayah selatan yang menjadi episentrum pariwisata sejak lama.

"Okupansi yang paling tinggi kan Bali Selatan, selebihnya di timur. Xi utara hotelnya kan dikit-dikit masih relatif rendah. Jadi memang dominannya di selatan, Nusa Dua dan Denpasar,," ujar Rai.

Menatap ke depan, Rai menilai tantangan industri pariwisata Bali belum sepenuhnya usai. Berbagai persoalan struktural masih menjadi pekerjaan rumah besar yang perlu diselesaikan agar daya saing Bali tetap terjaga.

"2026 Kalau saya melihat dari perspektif pariwisata ya tentu tahun 2025 ini tahun yang banyak tantangan. di dalam saja adanya ini masalah isu-isu mengenai infrastruktur ya. Kedua adalah kemacetan. Nah yang ketiga adalah kebersihan lingkungan dan sampah itu kan. yang keempat itu termasuk keamanan isu keamanan," katanya.

Menurutnya, menghadapi tahun 2026 dibutuhkan kerja bersama yang lebih solid. Tidak hanya pelaku usaha, peran pemerintah dan aparat keamanan menjadi kunci untuk menjaga iklim pariwisata tetap kondusif.

"Jadi di sini peran pemerintah dan aparat keamanan tentu bekerja sama dengan ekstra elit kepariwisataan harus bekerja ekstra effort untuk bisa menyukseskan di tahun 2026 ini," sebut Rai.

(dce)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |