Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi Indonesia akan menghadapi fenomena El Nino dengan intensitas kuat atau yang kerap dijuluki "Godzilla" pada tahun ini. Kondisi ini berpotensi membuat musim kemarau menjadi lebih panjang dan kering, terutama di wilayah barat dan selatan Indonesia.
El Nino sendiri merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator yang berdampak pada penurunan curah hujan di Indonesia. Dalam fase kuat, fenomena ini disebut "Godzilla" karena mampu memicu anomali iklim yang signifikan.
"El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator. Fenomena El Nino, termasuk potensi variasi kuat 'Godzilla', menyebabkan musim kemarau di Indonesia menjadi lebih panjang dan kering," tulis Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Erma Yulihastin, dikutip dari unggahan Instagaram resmi @/brin_indonesia, Sabtu (21/3/2026).
Sejumlah model global menunjukkan El Nino mulai berkembang sejak April 2026. Pada saat yang sama, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif juga diperkirakan terjadi dan memperkuat dampak kekeringan di Indonesia.
Dampak dari dua fenomena ini terlihat dari pergeseran pola pembentukan awan. Aktivitas hujan diperkirakan lebih banyak terjadi di Samudra Pasifik, sementara wilayah Indonesia justru mengalami kekurangan awan dan hujan.
"Pembentukan awan dan hujan terkonsentrasi di atas Samudra Pasifik. Sebaliknya, wilayah Indonesia mengalami minim awan dan hujan," tulisnya.
Selain itu, IOD positif yang ditandai dengan pendinginan suhu permukaan laut di sekitar Sumatra dan Jawa turut memperparah penurunan curah hujan, khususnya di wilayah barat Indonesia.
Siaga 1 Ancaman Kekeringan dan Banjir
BRIN memperkirakan kombinasi El Nino dan IOD positif ini akan berlangsung sepanjang musim kemarau, yakni dari April hingga Oktober 2026.
Namun, BRIN menegaskan, kondisi ini diprediksi tidak akan merata di seluruh wilayah Indonesia.
"Dampak super El Nino dan IOD Positif tidak seragam di wilayah Indonesia. Hal ini pernah terjadi pada El Nino dan IOD Positif 2023," tulis BRIN.
Dari sisi wilayah, model prediksi BRIN menunjukkan sebagian besar Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur (NTT) akan mengalami kemarau kering lebih dulu. Kondisi ini berpotensi mengganggu sektor pertanian, terutama di wilayah lumbung padi nasional.
Sebaliknya, wilayah timur Indonesia seperti Sulawesi, Maluku, dan Halmahera justru diperkirakan masih akan mengalami curah hujan tinggi meski dalam periode musim kemarau.
Oleh karena itu, pemerintah diminta menyiapkan langkah mitigasi yang spesifik untuk tiap wilayah.
Risiko yang perlu diantisipasi antara lain kekeringan di selatan Indonesia yang dapat mengancam produksi pangan, potensi banjir di wilayah timur akibat hujan tinggi, serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra dan Kalimantan.
Di sisi lain, kondisi kemarau kering juga membuka peluang untuk meningkatkan produksi garam nasional, khususnya di wilayah selatan Indonesia. BRIN bahkan optimistis kondisi ini akan mendorong RI mampu mencapai swasembada garam pada tahu 2026-2027.
Erma mengingatkan, pentingnya kesiapan pemerintah dalam menghadapi dampak yang kompleks dan berbeda antarwilayah.
"Oleh karena itu, pemerintah perlu mewaspadai dampak kekeringan yang dapat mengancam lumbung pangan nasional di wilayah di Pantura Jawa. Selain itu, dampak karhutla di Kalimantan dan Sumatra juga harus dimitigasi," ucap dia.
"Namun, di saat yang bersamaan, pemerintah juga sebaiknya menyiapkan strategi untuk menangani kelebihan curah hujan di wilayah Sulawesi-Halmahera-Maluku dan dampaknya terhadap banjir dan longsor," pungkasnya.
(dce)
Addsource on Google

4 hours ago
3

















































