Bahlil Mau Pangkas Produksi Batu Bara RI, Pengusaha Buka Suara

16 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) buka suara perihal aksi pemerintah yang akan memangkas produksi batu bara tahun 2026 ini. Tidak main-main, produksi batu bara ditargetkan hanya mencapai 600-an juta ton, turun dari tahun 2025 lalu yang mencapai 790 juta ton.

Plt. Direktur Eksekutif APBI Gita Mahyarani menilai bahwa kebijakan penurunan produksi berpotensi mengerek harga batu bara, namun efeknya diprediksi hanya terasa pada jangka pendek hingga menengah. Menurutnya, harga komoditas global sangat dipengaruhi oleh banyak variabel yang tidak bisa dikontrol hanya dari sisi suplai domestik.

"Penurunan target produksi berpotensi memberi dampak ke harga pada jangka pendek dan menengah. Namun tidak signifikan dan tidak berkelanjutan dalam jangka panjang, mengingat banyak faktor yang mempengaruhi seperti dinamika pasar global, permintaan dan kebijakan setiap negara," ujar Gita kepada CNBC Indonesia, Jumat (9/1/2025).

Dia menilai, terdapat konsekuensi jika kebijakan pembatasan produksi tersebut diterapkan dalam jangka waktu yang panjang. Hal tersebut akan merembet pada efisiensi operasional perusahaan tambang, mulai dari berkurangnya jam kerja hingga penggunaan peralatan pendukung di lokasi pertambangan.

"Dari sisi industri jika dalam jangka panjang kebijakan ini dapat berdampak pada rantai usaha, termasuk volume kerja, utilisasi alat berat, jam operasi, dan tenaga kerja, terutama di tambang dengan biaya produksi tinggi," tambahnya.

Meski demikian, pihaknya menyatakan dukungannya terhadap kebijakan yang diambil oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia tersebut. APBI sepakat bahwa intervensi pemerintah diperlukan untuk menahan kelebihan pasokan yang bisa membuat harga batu bara semakin tertekan.

"Namun kami tetap mengapresiasi upaya pemerintah dalam mengendalikan produksi untuk menjaga keseimbangan pasar dan stabilitas harga," tandasnya.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan akan menurunkan produksi batu bara dan juga nikel di tahun 2026 ini. Tujuannya, supaya harga kedua komoditas tersebut bisa terkerak 'di pasar dunia.

"Jadi produksi kita akan turunkan supaya harga bagus dan tambang kita untuk cucu kita. Bangsa ini harus berjalan terus, lingkungan kita jaga dan ini juga terjadi tidak hanya di batu bara termasuk nikel kita akan sesuaikan kebutuhan industri dan suplai ore nikel kita," terang Bahlil dalam Konferensi Pers Kinerja Sektor ESDM 2025, Kamis (8/1/2026).

Menteri Bahlil menaksirkan, bahwa paling tidak produksi batu bara di tahun ini hanya sekitar 600-an juta ton. "Kurang lebih 600 juta ton," ungkap Bahlil.

Namun sayangnya, Bahlil belum bisa menyampaikan angka pasti dari penurunan produksi nikel. Ia hanya bilang, produksi nikel akan disesuaikan dengan kebutuhan industri.

"Kami akan sesuaikan dengan kebuthan industri dan kita akan bikin pemerataan, maksudnya industri-industri besar harus beli ore nikel dari pengusaha tambang. Jangan ada monopoli kita ingin perusahaan daerah kuat supaya ada kolaborasi, supaya hilirisasi berkeadilan. kita suppprt tapi harus berkolaborasi," tegas Bahlil.

(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |