Ancaman Blokade hingga Invasi, Taiwan Latihan Hadapi Serangan China

9 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Taiwan menggelar latihan kesiapsiagaan yang mensimulasikan berbagai skenario terburuk, mulai dari blokade militer China, gempa bumi besar, sabotase infrastruktur, serangan siber, hingga invasi skala penuh.

Simulasi tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat kesiapan sipil dan militer di tengah meningkatnya tekanan Beijing terhadap pulau yang diperintah secara demokratis itu.

"Musuh kita berada tepat di depan pintu kita, di seberang Selat Taiwan. Itu sangat dekat," ujar Menteri tanpa Portofolio Taiwan Chi Lien-cheng kepada Reuters, dikutip Minggu (5/7/2026).

Menurutnya, latihan ini bertujuan memastikan aparat pemerintah siap menghadapi berbagai kemungkinan. "Jika Anda tidak membela negara Anda sendiri, siapa lagi yang akan membela Anda?" katanya.

Sebanyak lebih dari 370 pejabat pemerintah dan militer mengikuti latihan tertutup selama dua hari di Nantou, wilayah tengah Taiwan. Simulasi tersebut menguji kemampuan pemerintah daerah menjaga roda pemerintahan tetap berjalan saat menghadapi blokade, serangan militer, hingga gangguan terhadap layanan publik dan infrastruktur vital.

Dalam skenario yang disiapkan, Taiwan menghadapi blokade China yang kemudian diperparah gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,8. Kondisi itu memicu gangguan listrik, penarikan dana besar-besaran di perbankan, penyebaran disinformasi, kerusuhan sipil, hingga berujung pada invasi militer. Para peserta latihan dituntut mampu merespons seluruh krisis tersebut secara bersamaan.

Latihan juga mencakup simulasi penembakan drone China yang menyerang pembangkit listrik, pendirian pusat distribusi logistik, serta koordinasi antara pemerintah sipil dan militer menggunakan sistem pemetaan taktis untuk memantau perkembangan situasi secara real time. Taiwan menilai integrasi kedua unsur tersebut menjadi faktor penting dalam menghadapi potensi konflik.

Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Keamanan Nasional Taiwan Lin Fei-fan mengatakan latihan ini juga dimaksudkan sebagai pesan kepada Beijing.

"Pesan kepada musuh kita jelas: ketika mereka tahu masyarakat Taiwan siap, mereka harus berpikir sangat hati-hati apakah akan melancarkan perang yang sangat mahal terhadap Taiwan, perang yang mungkin tidak akan berhasil," ujarnya.

Selain ancaman militer, Taiwan juga menguji kesiapan menghadapi perang informasi. Dalam salah satu simulasi, siaran televisi lokal dibajak dan diganti propaganda Beijing, sementara informasi palsu disebarkan untuk memicu kepanikan masyarakat. Para pejabat kemudian diminta menggelar konferensi pers simulasi dan memastikan masyarakat memperoleh informasi yang akurat.

Latihan tersebut turut mengadopsi pelajaran dari perang di Ukraina dan konflik di Timur Tengah. Pemerintah menguji ketahanan rumah sakit bawah tanah, keamanan jaringan pemerintah dari serangan peretas, hingga skenario ketika pusat tanggap darurat lumpuh akibat serangan drone sehingga seluruh operasi harus dipindahkan ke pusat komando cadangan.

Di tengah berlangsungnya latihan, ketegangan di Selat Taiwan kembali meningkat. Pada hari terakhir simulasi, Taiwan melaporkan China menggelar patroli kesiapan tempur gabungan di sekitar pulau itu dengan mengerahkan kapal perang dan sedikitnya 22 pesawat militer, termasuk pesawat pembom H-6 yang mampu membawa senjata nuklir.

Sementara itu, Beijing menuduh Presiden Taiwan Lai Ching-te sengaja meningkatkan ketegangan lintas selat dan memperingatkan langkah tersebut berisiko memicu konflik yang lebih besar.

(tfa/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |