Jakarta, CNBC Indonesia - Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan tengah menyiapkan skenario operasi militer terhadap Iran yang bisa berlangsung berminggu-minggu, jika Presiden AS Donald Trump benar-benar mengeluarkan perintah serangan.
Dua pejabat AS yang mengetahui rencana tersebut menyebut persiapan kali ini jauh lebih serius dibanding bentrokan sebelumnya antara kedua negara. Langkah ini terjadi di tengah upaya diplomasi yang masih berjalan.
Utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner dijadwalkan bertemu perwakilan Iran di Jenewa pada Selasa, dengan Oman sebagai mediator. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan, Trump tetap menginginkan kesepakatan dengan Teheran, namun mengakui hal itu sangat sulit dilakukan.
Di saat negosiasi berlangsung, Washington juga meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah. Pentagon dilaporkan mengirim satu kapal induk tambahan ke kawasan tersebut, bersama ribuan pasukan, jet tempur, kapal perusak berpeluru kendali, serta berbagai sistem persenjataan lain yang mampu melakukan serangan maupun pertahanan.
Berbicara usai acara militer di Fort Bragg, Carolina Utara, Trump bahkan membuka kemungkinan perubahan rezim di Iran.
"Sepertinya itu akan menjadi hal terbaik yang bisa terjadi," ujarnya dikutip dari Reuters, Minggu (15/2/2026).
Namun ia tidak merinci siapa yang diinginkannya menggantikan pemerintahan saat ini di Teheran. Meski demikian, Trump sebelumnya menyatakan skeptis terhadap pengerahan pasukan darat ke Iran.
Opsi yang lebih realistis, menurut para pejabat, adalah serangan udara dan laut. Dalam konteks lain, Trump pernah menunjukkan kesediaan menggunakan operasi khusus ketika AS melakukan penggerebekan terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro bulan lalu.
Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly menegaskan, semua opsi masih terbuka terkait Iran. Pentagon sendiri menolak berkomentar.
Berbeda dengan serangan terbatas sebelumnya, perencanaan kali ini disebut lebih kompleks. Dalam kampanye berkelanjutan, militer AS tidak hanya menargetkan fasilitas nuklir, tetapi juga fasilitas negara dan keamanan Iran.
Sebagai catatan, pada Juni lalu AS meluncurkan operasi "Midnight Hammer", serangan satu kali menggunakan pembom siluman yang terbang langsung dari wilayah AS untuk menghantam fasilitas nuklir Iran. Saat itu, Iran membalas secara terbatas dengan menyerang pangkalan AS di Qatar.
Namun operasi jangka panjang dinilai jauh lebih berisiko. Iran memiliki arsenal rudal yang besar dan telah memperingatkan akan menyerang pangkalan militer AS di kawasan jika wilayahnya diserang. AS diketahui memiliki pangkalan di Yordania, Kuwait, Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Turki.
Trump berulang kali mengancam akan membombardir Iran terkait program nuklir dan rudal balistiknya. Ia menyebut alternatif selain solusi diplomatik akan "sangat traumatis".
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang bertemu Trump di Washington menegaskan kesepakatan apa pun dengan Iran harus mencakup kepentingan vital Israel. Iran sendiri menyatakan siap membahas pembatasan program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi, namun menolak mengaitkan isu tersebut dengan program rudalnya.
Tokoh oposisi Iran yang bermukim di AS, Reza Pahlavi, bahkan menyebut intervensi militer AS bisa mempercepat runtuhnya pemerintahan Iran. Ia menilai pemerintah di Teheran berada di ambang keruntuhan dan serangan bisa memperlemah posisinya.
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]

3 hours ago
5

















































