Alert! IHSG Anjlok 7,58% Dekati Level Trading Halt

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk hari ini, Rabu (28/1/2026). Indeks dibuka dengan meluncur turun 6,8% ke level 8.369,48.
Selang 10 menit dibuka, indeks mencoba memangkas koreksi. Terpantau penurunan indeks menjadi 4,55%.

Namun jelang akhir penutupan sesi pertama IHSG terkoreksi lebih dalam lagi, hingga pukul 11.23 WIB, IHSG anjlok 7,58% ke level 8.299,95 atau terkoreksi 780 poin dalam satu sesi perdagangan. Bahkan pada level terendahnya IHSG sempat ambruk lebih dari 7,8% atau nyaris mencapai ambang batas perhentian perdagangan sementara (trading halt) yang dipatok oleh otoritas bursa yakni di level penurunan 8%.

Nyaris seluruh saham yangaktif diperdagangkan di bursa masih berada di zona merah. Sebanyak 764 saham turun, 14 tidak bergerak, dan hanya 26 saham yang naik.

Nilai transaksi tercatat jumbo atau yakni mencapai Rp 27,74 triliun yang melibatkan 40 miliar saham dalam 2,55 juta kali transaksi.

Sejumlah saham yang menjadi kerap menopang indeks pun turun dalam pagi ini, bahkan hingga menyentuh batas auto reject bawah (ARB). Bukil Uluwatu Villa (BUVA), Rukun Raharja (RAJA), Darma Henwa (DEWA), Petrosea (PTRO), Dian Swastatika Sentosa (DSSA), Barito Pacific (BRPT), hingga Bumi Resources (BUMI) masuk dalam daftar saham ARB pagi ini.

Mengutip Refinitiv, seluruh sektor berada di zona merah dengan properti turun paling dalam, yakni -6,29%. Kemudian diikuti oleh energi -5,5% dan teknologi -3,66%.

Sementara itu, saham yang menjadi pemberat utama adalah DSSA, Barito Renewables Energy (BREN), Bank Central Asia (BBCA), Bayan Resources (BYAN), dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI).

DSSA menyumbang -65,56 indeks poin, BREN -55,16 indeks poin, BBCA 45,39 indeks poin, BYAN -39,05 indeks poin, dan BBRI -31,8 indeks poin.

Selain itu DCI Indonesia (DCII), BRPT, hingga BUMI juga masuk dalam daftar 10 saham pemberat utama IHSG pagi ini.

Adapun IHSG ambruk merespons pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait penilaian free float saham-saham Indonesia dalam MSCI Global Standard Indexes.

Dalam pengumuman tersebut, MSCI menyoroti masih adanya kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia meski terdapat perbaikan minor pada data free float dari PT Bursa Efek Indonesia (BEI).

MSCI menjelaskan bahwa sebagian pelaku pasar global mendukung penggunaan laporan Monthly Holding Composition Report dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai data tambahan. Namun, banyak investor menyampaikan kekhawatiran signifikan atas kategorisasi pemegang saham KSEI yang dinilai belum cukup andal untuk mendukung penilaian free float dan kelayakan investasi.

Menurut MSCI, persoalan mendasar masih berkaitan dengan keterbatasan transparansi struktur kepemilikan saham serta potensi perilaku perdagangan terkoordinasi yang dapat mengganggu pembentukan harga wajar. Oleh karena itu, MSCI menilai dibutuhkan informasi kepemilikan saham yang lebih rinci dan dapat diandalkan, termasuk pemantauan konsentrasi kepemilikan saham, guna mendukung penilaian free float yang lebih robust.

"Sejalan dengan kondisi tersebut, MSCI menerapkan perlakuan sementara atau interim treatment untuk sekuritas Indonesia yang berlaku efektif segera," sebagaimana disampaikan dalam pengumuman di situs resminya.

Baca:
Asing Jual BBCA Tanpa Ampun, Net Sell Tembus Rp 5,86 Triliun
Langkah ini diambil untuk memitigasi risiko perputaran indeks dan risiko investabilitas sembari menunggu adanya perbaikan transparansi dari otoritas pasar terkait.

Dalam kebijakan sementara tersebut, MSCI akan membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan jumlah saham atau Number of Shares (NOS) hasil peninjauan indeks maupun aksi korporasi. Selain itu, MSCI tidak akan menambahkan saham Indonesia ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI) serta menahan migrasi naik antar segmen ukuran, termasuk dari Small Cap ke Standard.

Atas kejadian ini, terdapat kemungkinan penurunan bobot saham Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Indexes. Bahkan, MSCI membuka peluang reklasifikasi Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Frontier Market, dengan tetap melalui proses konsultasi pasar.

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan mengatakan pengumuman MSCI tersebut berdampak kepada risiko volatilitas meningkat dan potensi outflow asing bisa muncul, khususnya pada saham-saham yang sensitif terhadap arus dana berbasis indeks.

Sebagaimana diketahui, sejumlah saham di Indonesia bergerak naik dengan narasi hendak masuk ke dalam indeks MSCI.

Ekky menilai investor di dalam negeri sangat responsif terhadap berita-berita terkait MSCI. "Harusnya hari ini panic selling aja," katanya.

(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |