Jakarta, CNBC Indonesia - Australia mulai menghadapi ancaman perubahan demografi yang bakal memengaruhi perekonomian dalam beberapa dekade mendatang. Pemerintah memperkirakan jumlah kematian di negara itu akan melampaui jumlah kelahiran untuk pertama kalinya pada dekade 2060-an.
Perubahan tersebut terjadi ketika Australia menghadapi kombinasi persoalan berupa populasi yang semakin menua, angka kelahiran yang menurun, serta perlambatan migrasi. Selama puluhan tahun, pertumbuhan penduduk Australia banyak ditopang oleh kedatangan imigran untuk mengimbangi rendahnya tingkat kelahiran.
Namun, ketika arus migrasi mulai melambat, Australia perlahan bergerak menuju kondisi demografi yang sebelumnya sudah dialami sejumlah negara maju seperti Jepang, Jerman, dan Korea Selatan. Di negara-negara tersebut, jumlah kematian telah lebih besar dibandingkan kelahiran.
Perkiraan terbaru pemerintah Australia tertuang dalam Intergenerational Report yang dirilis Departemen Keuangan pada Senin (21/9/2026). Laporan tersebut mengidentifikasi lima perubahan yang dinilai paling menentukan arah ekonomi Australia selama 40 tahun ke depan.
Kelima faktor itu meliputi perkembangan kecerdasan buatan (AI), fragmentasi geopolitik, transisi energi, penuaan populasi, serta perubahan struktur ekonomi menuju sektor jasa.
Treasury memperkirakan pertumbuhan jumlah penduduk Australia hanya akan berada di kisaran 0,9% per tahun dalam empat dekade mendatang. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan rata-rata pertumbuhan 1,4% per tahun yang dicatat selama 40 tahun terakhir.
Perlambatan itu terutama berkaitan dengan penurunan tingkat kesuburan serta berkurangnya net overseas migration, yakni selisih antara jumlah orang yang masuk ke Australia dan mereka yang meninggalkan negara tersebut. Arus migrasi bersih diperkirakan terus turun sebelum akhirnya mencapai kondisi yang lebih stabil.
"Untuk pertama kalinya, jumlah kematian diproyeksikan melampaui kelahiran pada dekade 2060-an," kata Menteri Keuangan Australia Jim Chalmers dalam pidatonya, dilansir Reuters.
Bukan hanya jumlah penduduk yang berubah, struktur usia masyarakat Australia juga diperkirakan bergeser drastis. Pemerintah memperkirakan jumlah warga Australia berusia lebih dari 85 tahun akan meningkat tiga kali lipat dalam beberapa dekade mendatang.
"Jumlah warga Australia berusia di atas 85 tahun akan meningkat tiga kali lipat pada 2066, sehingga semakin meningkatkan permintaan terhadap layanan kesehatan," ujar Chalmers.
Di tengah perubahan tersebut, pemerintah Partai Buruh yang berhaluan kiri-tengah justru mulai memperketat aturan imigrasi. Kebijakan itu diperketat pada pekan lalu ketika Perdana Menteri Anthony Albanese menghadapi peningkatan dukungan terhadap One Nation, partai populis sayap kanan yang menjanjikan pembatasan imigrasi secara tajam.
Tingkat persetujuan terhadap Albanese juga turun pada pekan ini ke titik terendah sejak ia menjadi perdana menteri pada 2022.
Persoalan demografi juga diperkirakan akan memberikan tekanan lebih besar terhadap sektor layanan perawatan. Wilayah dengan populasi lansia yang tinggi berpotensi mengalami kekurangan tenaga kerja, terutama untuk layanan kesehatan dan perawatan lansia.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena kedua sektor itu selama ini sangat bergantung pada pekerja migran.
Selain membahas populasi dan tenaga kerja, laporan pemerintah juga menyoroti arah kebijakan fiskal Australia ke depan. Pemotongan pajak disebut menjadi salah satu opsi dalam anggaran mendatang, seiring pemerintah Partai Buruh terus memberikan bantuan untuk mengurangi tekanan biaya hidup.
Masyarakat Australia saat ini masih menghadapi inflasi yang relatif tinggi, bunga kredit perumahan yang mahal, serta harga hunian yang menjadi beban besar bagi rumah tangga.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]

3 hours ago
1
















































