Jakarta, CNBC Indonesia - Industri teknologi global menghadapi tekanan berat akibat krisis memori yang sudah terasa sejak akhir tahun lalu. Situasi ini diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat, bahkan berpotensi memicu gelombang kebangkrutan perusahaan.
Ancaman tersebut disampaikan CEO spesialis memori Phison, Pua Kheing Sen, dalam wawancara terbaru. Ia menilai tahun ini akan menjadi periode sulit bagi banyak pelaku industri elektronik.
Menurutnya, hampir seluruh segmen elektronik terdampak, mulai dari smartphone hingga perangkat komputasi lainnya. Pasar ponsel pintar bahkan diproyeksi mengalami penyusutan produksi hingga ratusan juta unit.
"Industri elektronik konsumen mengalami banyak kegagalan. Mulai akhir tahun ini hingga 2026, banyak vendor akan bangkrut atau menghentikan lini produk karena kekurangan memori," jelasnya dikutip dari PC Gamer, Sabtu (21/2/2026).
"Produksi telepon seluler berkurang 200-250 juta unit, dan produksi PC serta TV berkurang signifikan," lanjutnya.
Krisis pasokan memori ini telah diprediksi banyak pihak terus berlanjut. Pua juga mengatakan para produsen memperkirakan kondisi tersebut berlangsung hingga 2030, atau bahkan bisa mencapai 10 tahun lagi.
Selain itu, dia menyoroti perbedaan perilaku produsen memori. Mereka disebut meminta pembayaran di awal selama tiga tahun, yang ternyata tidak pernah terjadi sebelumnya.
Meskipun upaya penambahan produksi terus dilakukan, nampaknya juga tidak akan bisa mengisi kebutuhan yang mencapai 10-20%. Termasuk investasi dari raksasa teknologi seperti Samsung, Micron hingga SK Hynix, yang membutuhkan waktu dua tahun hingga produksi dilakukan.
"Kondisi China terbatas, kapasitas baru hanya akan menyumbang 3-5% dari total global pada tahap awal, yang tidak akan mencukupi mengisi kesenjangan 10-20%; permintaan domestik China sangat besar, jadi tidak akan ada arus keluar dengan barang murah," jelasnya.
(dce)
Addsource on Google

10 hours ago
4

















































