Sejarah Panjang Iran 1979-2025: Revolusi, Perang, Nuklir, dan Sanksi

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Iran kembali dilanda gelombang ketegangan politik dan keamanan. Pemerintah menuding adanya campur tangan asing di balik rangkaian protes, sementara oposisi menilai negara terus mengandalkan pendekatan represif. Situasi ini memperpanjang daftar krisis yang telah membentuk Republik Islam Iran sejak berdiri pada 1979.


Sejak revolusi, Iran tak pernah lepas dari perang, sanksi, konflik regional, hingga sengketa nuklir yang membuatnya terus berada dalam sorotan dunia. Berikut linimasa Iran dari tahun 1979 hingga 2025, sebagaimana dikutip Al Jazeera, Rabu (14/1/2026).


1979


Revolusi Islam mengubah arah sejarah Iran. Ayatollah Ruhollah Khomeini pulang dari pengasingan dan melalui referendum, Iran resmi menjadi republik Islam. Hubungan dengan Amerika Serikat runtuh setelah krisis sandera di Kedutaan Besar AS di Teheran, yang berujung pada sanksi pertama Washington terhadap Iran.


1980


Irak menginvasi Iran dan memicu perang delapan tahun yang menewaskan sekitar 500.000 orang. Iran menjadi pihak dengan korban terbesar dalam konflik yang juga diwarnai penggunaan senjata kimia oleh Irak.


1981


Krisis sandera AS berakhir setelah seluruh sandera dibebaskan. Namun, Iran diguncang teror politik internal. Serangan bom menewaskan puluhan elite negara, termasuk Kepala Kehakiman Mohammad Beheshti, disusul pembunuhan Presiden Mohammad-Ali Rajai dan Perdana Menteri Mohammad Javad Bahonar.


1982


Iran mulai memperluas pengaruh regional dengan mendukung kelompok yang kelak dikenal sebagai Hizbullah, menyusul invasi Israel ke Lebanon.


1988


Pesawat sipil Iran Air ditembak jatuh kapal perang AS USS Vincennes di Teluk Persia, menewaskan seluruh 290 penumpang. Pada tahun yang sama, Iran dan Irak menyepakati gencatan senjata yang dimediasi PBB.


1989


Ayatollah Khomeini wafat. Majelis Pakar menunjuk Ayatollah Ali Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran.


1990


Gempa bumi besar melanda Iran dan menewaskan sekitar 40.000 orang, memperparah tekanan sosial dan ekonomi pasca perang.


1995


Amerika Serikat (AS) memperketat sanksi dengan melarang perdagangan dan investasi minyak Iran, dengan tudingan dukungan terhadap terorisme dan ambisi nuklir.


1998


Taliban mengakui pembunuhan delapan diplomat Iran dan seorang jurnalis di Afghanistan. Iran mengerahkan pasukan besar ke perbatasan, nyaris memicu perang terbuka.


2002


Presiden AS George W. Bush memasukkan Iran ke dalam "poros kejahatan" bersama Irak dan Korea Utara, meningkatkan ketegangan diplomatik.


2003


Invasi AS ke Irak membuka babak baru pengaruh Iran di kawasan. Teheran mulai mendukung milisi dan kelompok politik Syiah. Di tahun yang sama, Iran menangguhkan pengayaan uranium dan membuka akses inspeksi PBB. IAEA menyatakan tidak menemukan bukti program senjata nuklir.


2006


Dewan Keamanan PBB menjatuhkan sanksi nuklir pertama terhadap Iran karena menolak menghentikan program pengayaannya.


2007


Amerika Serikat kembali menambah sanksi sepihak yang lebih keras terhadap sektor keuangan dan energi Iran.


2010


DK PBB memberlakukan sanksi tahap keempat, termasuk embargo senjata. Iran juga menuduh AS dan Israel melancarkan serangan siber terhadap fasilitas nuklirnya melalui malware.


2011


Iran terlibat langsung dalam konflik Suriah dengan mendukung rezim Bashar al-Assad melalui pengerahan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dan milisi asing.


2012


Uni Eropa memboikot ekspor minyak Iran. Nilai tukar rial anjlok hingga kehilangan sekitar 80% nilainya terhadap dolar AS sejak 2011 akibat tekanan sanksi.


2015


Iran menandatangani kesepakatan nuklir JCPOA dengan AS dan negara-negara besar. Kesepakatan ini disambut perayaan publik karena diharapkan mengakhiri isolasi ekonomi.


2018


Presiden AS Donald Trump menarik negaranya dari JCPOA dan kembali memberlakukan sanksi keras terhadap Iran.


2020


Komandan Pasukan Quds IRGC, Qassem Soleimani, tewas dalam serangan drone AS di Baghdad, memicu eskalasi tajam di Timur Tengah.


2024


Serangan udara Israel menghantam kompleks Kedutaan Iran di Damaskus, menewaskan sejumlah perwira tinggi IRGC. Beberapa bulan kemudian, Presiden Iran Ebrahim Raisi meninggal dalam kecelakaan helikopter.


2025


Ketegangan memuncak menjadi perang terbuka. Israel menyerang Iran dan memicu konflik 12 hari yang menewaskan sedikitnya 610 warga Iran dan 28 warga Israel.


Seorang analis Timur Tengah mengatakan, "Sejak 1979, Iran hidup dalam kondisi krisis permanen. Tekanan eksternal justru memperkuat narasi perlawanan yang menjadi fondasi politik negara ini."


Dengan konflik regional yang terus berlanjut dan tekanan ekonomi yang belum mereda, Iran kembali menghadapi babak ketidakpastian baru dalam sejarah panjangnya.

(tfa/tps)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |