Sebuah Catatan untuk Pulau Tayan, Ketika Hamparan Pasir Tinggal Kenangan, Dulu Ramai, Kini Berlumpur

1 day ago 2

FOTO : Muhammad Khusyairi/ SerY TayaN [ ok ]

Oleh : Muhammad Khusyairi/SerY TayaN [ Penulis adalah : Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kalbar ]

AYAH, di mana pasir yang dulu sering kita datangi?”
Pertanyaan polos itu terlontar dari seorang anak yang berdiri di ujung Pulau Tayan.

Sang ayah hanya terdiam. Pandangannya menyapu Sungai Kapuas yang mulai surut. Ia seolah mencari sesuatu yang sudah lama hilang.

“Bukan begini dulu, Nak…” jawabnya lirih. “Dulu, sejauh mata memandang, pasirnya kuning keemasan. Orang-orang datang dari mana-mana.”

Namun kini, yang terbentang bukan lagi pasir yang memesona. Yang terlihat hanyalah hamparan lumpur kecokelatan, sunyi, lengket, dan seolah menyimpan ribuan cerita yang tenggelam bersama waktu.

Beberapa tahun silam, setiap kali bulan Juli dan Agustus tiba dan debit Sungai Kapuas mulai menyusut, ujung Pulau Tayan di Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau, berubah menjadi destinasi wisata musiman yang begitu dinantikan masyarakat.

Hamparan pasir memanjang berwarna keemasan menjadi magnet alami yang memikat ribuan pengunjung. Mereka datang bukan hanya dari berbagai desa di Kecamatan Tayan Hilir, tetapi juga dari Kabupaten Sanggau, Sekadau, Sintang, Pontianak, hingga berbagai daerah lain di Kalimantan Barat.

Setiap akhir pekan, kawasan itu berubah menjadi lautan manusia. Anak-anak berlarian tanpa alas kaki. Remaja berswafoto dengan latar pasir yang menyerupai pantai.
Orang tua duduk santai menikmati semilir angin Sungai Kapuas.

Pedagang sibuk melayani pembeli. Tawa dan canda bersahutan hingga matahari tenggelam. Suasana itu menghadirkan denyut kehidupan yang begitu nyata.

“Bang, parkir di sini ya.”
“Iya, Pak. Lima ribu saja.”

Percakapan sederhana seperti itu dahulu menjadi sumber penghasilan bagi banyak pemuda desa. Mereka mendapatkan pekerjaan musiman sebagai juru parkir. Mungkin terlihat sepele, tetapi bagi sebagian keluarga, penghasilan itu sangat berarti.

Tak jauh dari lokasi, aroma jagung bakar, mi instan, gorengan, es kelapa muda, hingga aneka minuman dingin bercampur dengan semilir angin Kapuas.

“Bu, tambah satu es teh.”
“Sebentar ya, Nak… ramai sekali hari ini.”

Para pelaku UMKM musiman menikmati berkah yang datang tanpa perlu menunggu festival besar atau bantuan pemerintah.
Ekonomi kerakyatan bergerak secara alami. Tanpa disadari, pasir itu bukan sekadar bentangan mineral hasil sedimentasi sungai.

Ia adalah ruang hidup. Ia adalah penggerak ekonomi. Ia adalah tempat berkumpulnya keluarga. Ia adalah wajah pariwisata sederhana yang tumbuh dari anugerah alam.
Kini, semua itu seperti tinggal cerita.

Meski debit Sungai Kapuas kembali surut sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, hamparan pasir yang dahulu menjadi ikon Pulau Tayan nyaris tak lagi terlihat.

Yang tersisa hanyalah lumpur. Hamparannya lebih pendek. Warnanya kusam pekat. Pesonanya menghilang. Suasana yang dulu ramai kini berubah sunyi. Tidak ada lagi deretan kendaraan. Tidak ada lagi pedagang yang sibuk. Tidak ada lagi anak-anak yang berlarian. Yang terdengar hanya desir angin dan suara air yang mengalir perlahan.

Media sosial pun menjadi ruang nostalgia.
Foto-foto lama bermunculan kembali.

“Dulu indah sekali…”
“Ingat waktu masih ramai…”
“Sayang sekali sekarang sudah hilang.”

Unggahan demi unggahan memperlihatkan kerinduan masyarakat terhadap sebuah bentang alam yang dahulu begitu membanggakan.

Nostalgia memang tidak mampu mengembalikan keadaan.
Namun, ia menjadi pengingat bahwa sesuatu yang pernah ada kini benar-benar telah berubah.

Lantas, apa sebenarnya yang terjadi?
Apakah perubahan ini merupakan proses alam? Apakah telah terjadi pergeseran morfologi dasar Sungai Kapuas sehingga pola sedimentasi berubah? Ataukah aktivitas pengambilan pasir di kawasan hulu sungai yang dilakukan secara terus-menerus oleh perusahaan-perusahaan yang notabenenya mengantongi izin telah memengaruhi keseimbangan sedimentasi di kawasan tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dapat dijawab hanya dengan dugaan. Jelas membutuhkan penelitian ilmiah, kajian hidrologi, analisis sedimentasi, serta evaluasi lingkungan yang dilakukan secara objektif oleh instansi berwenang bersama para akademisi dan pakar.

Karena jika perubahan bentang alam ini merupakan dampak dari aktivitas manusia, maka sudah sepatutnya menjadi perhatian serius semua pihak.

Sebaliknya, jika perubahan tersebut merupakan proses alamiah, masyarakat pun berhak memperoleh penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Pulau Tayan tidak hanya kehilangan hamparan pasir. Ia kehilangan denyut ekonominya. Ia kehilangan ruang wisata rakyat. Ia kehilangan salah satu identitas yang selama bertahun-tahun menjadi kebanggaan masyarakat.

Yang lebih menyedihkan, generasi muda mungkin hanya akan mengenal pasir itu melalui foto-foto lama dan cerita orang tua mereka.

“Memang pernah ada pasir sepanjang itu?”
“Iya… dulu ada.”

Kalimat sederhana tersebut mungkin akan menjadi percakapan yang semakin sering terdengar. Karena itu, kondisi ini hendaknya menjadi momentum evaluasi bersama.

Pemerintah daerah, pemerintah provinsi, instansi teknis, akademisi, pemerhati lingkungan, pelaku usaha, hingga masyarakat perlu duduk bersama untuk memahami apa yang sesungguhnya sedang terjadi di Sungai Kapuas, khususnya di kawasan Pulau Tayan.

Alam memang selalu berubah. Namun perubahan yang menghilangkan fungsi ekologis, ekonomi, sosial, bahkan identitas suatu kawasan patut dikaji secara serius.
Sebab menjaga sungai bukan sekadar menjaga air yang mengalir.

Melainkan menjaga sejarah, kehidupan, dan masa depan masyarakat yang menggantungkan harapan di sepanjang bantaran Kapuas.

Semoga suatu hari nanti, anak-anak Pulau Tayan khususnya dan umumnya generasi muda di Kecamatan Tayan Hilir dan sejumlah wilayah lainnya tidak hanya mendengar cerita tentang hamparan pasir yang pernah ada.

Mereka dapat kembali melihatnya dengan mata mereka sendiri. Karena alam yang terjaga bukan hanya warisan dari masa lalu.
Ia adalah titipan untuk masa depan.

Publisher : Admin radarkalbar.com

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |