FOTO : Ilustrasi [ Ai ]
Oleh : Rosadi Jamani [ Ketua Satupena Kalimantan Barat ]
DARI sekian organisasi atau lembaga hanya Ansor yang membela Gus Yaqut. Walau sudah tersangka oleh KPK, Ansor tak melupakan jasa besar mantan Menag itu. Sementara yang lain memilih tiarap.
Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Di republik ini, solidaritas sering datang terlambat. Biasanya muncul saat karpet merah digelar, bukan saat tikar mulai ditarik. Tapi dalam kasus Gus Yaqut, satu hal terlihat jelas dan jujur, Ansor tidak lari.
Walau status sudah tersangka, GP Ansor tetap berdiri, lewat LBH-nya, memberi pendampingan hukum. Tanpa drama. Tanpa kalimat “pokoknya benar”.
Ansor tahu betul posisi. Mereka tidak sedang memutihkan perkara. Tidak pula menghalangi hukum. Yang mereka jaga adalah hak. Hak seorang warga negara. Hak seorang kader yang pernah memimpin mereka hampir satu dekade, 2015 sampai 2024. Ini bukan soal membenarkan, ini soal menemani.
Di saat yang sama, PBNU sebagai organisasi memilih diam. Tidak ikut membela, tidak ikut menyerang. Secara hukum sah. Secara politik aman. Tapi publik tentu bebas membaca sikap ini dengan kacamata masing-masing. Di masa senang, kebersamaan mudah dirayakan. Di masa susah, jarak sering dianggap kewajaran.
Di sinilah pembelaan Ansor terasa berbeda. Mereka tidak mengambil jalan loyalitas buta. Tidak berkata “baik salah maupun benar tetap kami bela”. Mereka memilih jalur prosedural, biarkan hukum bekerja, kami hanya memastikan tidak ada kesewenang-wenangan. Ini pembelaan yang sadar batas, bukan pembelaan yang mabuk kedekatan.
Bandingkan dengan pernyataan Arief Rosyid Hasan, Wakil Ketua Umum AMPI, yang terang-terangan menyatakan akan membela Bahlil Lahadalia “baik salah maupun benar” atas nama loyalitas dan rasa berutang budi. Jujur, tapi berbahaya. Karena ketika loyalitas mengalahkan nalar, kebenaran sering dikorbankan tanpa sempat diadili.
KH Cholil Nafis mengingatkan dengan kalimat yang seharusnya dipajang di setiap sekretariat organisasi, membela teman yang salah itu dengan meluruskan, bukan mencarikan dalil pembenaran. Ini bukan sekadar nasihat moral, tapi alarm etika.
Mestinya, di saat susah dan senang, tetap bersama. Tapi bersama bukan berarti menutup mata. Setia bukan berarti membenarkan semua. Teman sejati diuji saat susah, apakah ia mau bertahan sambil mengingatkan, atau memilih pergi agar aman.
Hari ini, Ansor menunjukkan bentuk kesetiaan yang jarang, tetap mendampingi tanpa menghapus kemungkinan salah. Tanpa slogan heroik. Tanpa pembelaan membabi buta. Hanya satu pesan sederhana, hukum silakan jalan, kader tidak kami tinggalkan.
Di republik yang sering bingung membedakan solidaritas dan pembenaran, sikap seperti ini patut diberi satu kata yang langka, salut.
Burung hantu hinggap di pohon waru,
Malam sunyi terdengar suara motor.
Meski dunia penuh tipu dan laku,
Kebenaran tetap jadi pelopor.
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

2 days ago
7

















































