Ribuan pendukung partai Tisza yang berhaluan tengah-kanan merayakan kemenangan Peter Magyar dalam pemilihan nasional Hungaria yang digelar pada Minggu (12/4/2026). Euforia kemenangan terasa di pusat Budapest, khususnya di sepanjang tepian Sungai Danube, tempat para pendukung berkumpul. (REUTERS/Stringer)
“Kita telah berhasil. Tisza dan Hungaria telah memenangkan pemilihan ini,” ujar Magyar di hadapan para pendukungnya yang menari dan bersorak. Suasana perayaan semakin semarak ketika lagu My Way milik Frank Sinatra diputar melalui pengeras suara, mengiringi langkah Magyar menuju panggung. (REUTERS/Leonhard Foeger)
Kemenangan ini juga menandai berakhirnya kekuasaan panjang Viktor Orban, pemimpin nasionalis yang telah memerintah selama 16 tahun. Kekalahannya menjadi pukulan bagi sekutu-sekutunya, termasuk di Rusia dan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (REUTERS/Bernadett Szabo)
Orban, yang selama ini dikenal sebagai pengusung model demokrasi “illiberal”, mulai kehilangan dukungan di dalam negeri. Banyak pemilih merasa kecewa terhadap stagnasi ekonomi, meningkatnya isolasi internasional, serta dominasi oligarki yang dinilai mengakumulasi kekayaan secara tidak merata. (REUTERS/Bernadett Szabo)
Dengan kemenangan telak ini, Magyar yang berusia 45 tahun berhasil mengamankan mayoritas nyaman di parlemen Hungaria yang beranggotakan 199 kursi. Hasil tersebut membuka peluang bagi reformasi signifikan terhadap sistem politik yang selama ini dikritik oleh Uni Eropa karena dianggap melemahkan norma-norma demokrasi. (REUTERS/Leonhard Foeger)

4 hours ago
1

















































