RI Sudah Punya BBM Bioetanol, Cek Segini Harganya di SPBU

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Prabowo Subianto tengah gencar menggenjot pengembangan bahan bakar nabati berbasis bioetanol. Bahkan, Indonesia ditargetkan mampu mengikuti jejak India dan Brasil dalam pemanfaatan etanol sebagai campuran bensin.

Hal itu disampaikan Prabowo saat memimpin Panen Raya Serentak di Seluruh Indonesia Bersama TNI di Malang, Jawa Timur beberapa waktu lalu.

Prabowo menyebut Indonesia saat ini telah memiliki kemampuan menuju penerapan E10 atau bensin dengan campuran 10% etanol. Bahkan, Indonesia berpotensi meningkatkan kadar campuran etanol hingga E20. Seperti diketahui bioetanol ini berbahan baku nabati seperti tetesan tebu (molase), sorgum, singkong, maupun jagung.

"Saya melihat pameran tadi sudah mampu menuju E10, etanol 10, jadi bensin nanti dicampur 10% etanol tapi tadi para petugas mengatakan kita bisa sampai E20. Butuh pabrik, tadi pabriknya yang kita miliki baru 1 pabrik tadi saya putuskan kita bangun minimal 30 pabrik kalau perlu sampai 50 pabrik," katanya pada acara Panen Raya tersebut.

Prabowo kemudian membandingkan perkembangan penggunaan bioetanol di sejumlah negara. Menurutnya, India telah menerapkan campuran etanol pada bensin sebesar 20% atau E20, sementara Brasil bahkan telah menggunakan E100 atau bahan bakar berbasis etanol murni.

"India sudah E20, India sudah E20, Brasil sudah E100. Masa Indonesia gak bisa, Indonesia bisa kan? bisa? bisa," katanya.

Di tengah upaya menuju E10 tersebut, Indonesia sendiri sejatinya sudah menerapkan bahan bakar E5 (campuran bensin dengan 5% bioetanol) secara komersial melalui produk Pertamax Green 95 (setara RON 95) di SPBU Pertamina.

Adapun harga Pertamax Green 95 sendiri saat ini dibanderol sebesar Rp16.600 per liter per 1 Agustus 2026, turun dari Rp 17.000 per liter pada periode Juli 2026.

Sebelumnya, CEO Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) John Anis menegaskan pihaknya siap mendukung target pemerintah mempercepat pengembangan bioetanol.

"Jadi mungkin Bapak bertanya kenapa Pertamina ada di sini Pak, tapi Bapak lihat bahwa kami ingin berkontribusi di bioenergi Pak. Jadi kami juga ingin terima kasih Pak yang B50, selamat, kami juga punya cita-cita dan semangat yang sama untuk E20 Pak," kata John saat mendampingi Prabowo.

Ia mengungkapkan saat ini Indonesia baru menerapkan E5 secara terbatas di sekitar 170 SPBU Pertamina yang berada di Jawa Timur dan Jakarta. Sementara di India implementasinya sudah mencapai E20.

"Jadi kita nggak mau kalah Pak, kita harus kejar mereka. Kita baru E5 Pak. Jadi ini E5 di 170 outlet kami di Jawa Timur dan di Jakarta," katanya.

John menjelaskan Pertamina juga tengah mengembangkan bioetanol dengan berbagai jenis bahan baku tidak hanya tebu, namun juga aren, singkong, jagung, hingga sorgum.

Menurut John, untuk memenuhi kebutuhan nasional, Indonesia membutuhkan sekitar 20 hingga 30 pabrik bioetanol baru dalam dua tahun ke depan. Adapun, pembangunan pabrik di berbagai daerah dinilai akan meningkatkan kesejahteraan petani.

"Jadi impor daripada uangnya ke luar Pak, kasih petani Pak," tegas John saat merespons pertanyaan Prabowo terkait dampak kebijakan tersebut terhadap pengurangan impor.

Untuk merealisasikan target tersebut, Pertamina menekankan pentingnya regulasi mandatori serta kepastian harga bahan baku. Hal itu diperlukan agar ekosistem bioetanol di Indonesia dapat segera berjalan.

Harga BBN Bioetanol murni (sebelum dicampur dengan BBM bensin):

Harga Indeks Pasar (HIP) Bahan Bakar Nabati (BBN) jenis bioetanol untuk bulan Agustus 2026 ditetapkan sebesar Rp 11.695 per liter. Harga tersebut terpantau meningkat dibandingkan dengan bulan lalu sebesar Rp 10.933 per liter. 

Adapun, besaran HIP BBN Bioetanol Agustus 2026 efektif berlaku mulai 1 Agustus 2026. Harga BBN Bioetanol ini merupakan harga bioetanol murni (dari tetes tebu) sebelum dicampur dengan BBM bensin.

"Harga Indeks Pasar (HIP) Bahan Bakar Nabati (BBN) untuk Biodiesel dan Bioetanol bulan Agustus 2026 telah resmi ditetapkan," tulis akun Instagram resmi @djebtke, dikutip Kamis (6/8/2026).

Penetapan harga menggunakan formula HIP = (Rata-rata tetes tebu KPB periode 3 bulan x 4,125 kg/liter) + 0,25 US$/liter.

Adapun rata-rata harga tetes tebu KPB periode 15 Januari 2026 sampai 14 Mei 2026 tercatat sebesar Rp 1.748 per kilogram. Sedangkan nilai kurs menggunakan referensi rata-rata kurs tengah Bank Indonesia periode 15 Juni 2026 sampai 14 Juli 2026 sebesar Rp 17.931.

(ven/wia) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |