FOTO : Benz Jono Hartono [is]
Islam Bukan Cuma Agama, tapi Juga Jalan Hidup dan Cara Mengatur Kehidupan
Oleh : Benz Jono Hartono [ Praktisi Media Massa, Wadir CAJ PWI Pusat & Waketum SMSI Pusat ]
ISLAM sering dipahami secara sempit, seolah hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan. Padahal, cakupan Islam jauh lebih luas. Islam mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan sesama, dengan lingkungan, sekaligus bagaimana kehidupan sosial dibangun berdasarkan keadilan, amanah, kemanusiaan, dan tanggung jawab.
Jadi, Islam bukan cuma soal ritual. Islam adalah way of life jalan hidup yang menjadikan tauhid sebagai dasar dari seluruh perilaku manusia.
Seorang Muslim tidak cukup hanya mengaku beragama Islam. Keyakinan itu harus ada di dalam hati, lalu terlihat dalam amal dan perilaku sehari-hari. Di sinilah menarik untuk melihat bagaimana seorang pemimpin negara seperti Prabowo Subianto memandang dan menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
*Islam Harus Terlihat dalam Perilaku*
*Islam tidak berhenti pada identitas.*
Seseorang bisa saja mengaku Muslim, tetapi keislamannya juga terlihat dari kejujuran, keadilan, amanah, kasih sayang, keberanian membela yang benar, dan kepedulian kepada orang-orang yang lemah.
Dalam pandangan seperti ini, keberagamaan tidak seharusnya hanya terlihat dari simbol-simbol luar. Ia juga harus terlihat dari cara kekuasaan digunakan,
hukum ditegakkan, kekayaan negara dikelola, dan rakyat kecil diperlakukan.
Jadi, bagi seorang pemimpin, pertanyaan pentingnya bukan cuma,
*“Apakah saya seorang Muslim?”*
Tetapi,
*“Apakah kekuasaan yang saya jalankan menghasilkan keadilan sesuai nilai-nilai Islam?”*
Prabowo dan Cara Memaknai Islam dalam Kekuasaan
Prabowo Subianto adalah seorang Muslim dan saat ini memegang amanah sebagai Presiden Republik Indonesia.
Namun, perlu ditegaskan bahwa pemaknaan Islam bukan sesuatu yang bisa ditentukan sesuka hati oleh seorang presiden, siapa pun orangnya. Islam memiliki Al-Qur’an, Sunnah, tradisi keilmuan, dan metode yang telah dikembangkan para ulama.
Seorang pemimpin bisa menerjemahkan nilai-nilai Islam ke dalam kebijakan publik, tetapi bukan berarti ia berwenang mengubah ajaran Islam sesuai kepentingan kekuasaan.
*Batas ini penting untuk dijaga.*
Islam tidak boleh dijadikan alat untuk membenarkan kekuasaan.
Sebaliknya, kekuasaan harus tunduk pada nilai-nilai moral: amanah, keadilan, kejujuran, dan kemaslahatan manusia.
Islam Tidak Memaksa, tapi Tetap Punya Konsekuensi
Islam mengajarkan bahwa tidak boleh ada paksaan dalam beragama. Keimanan harus lahir dari kesadaran.
Namun, tidak adanya paksaan bukan berarti tidak ada konsekuensi.
Setiap sistem kehidupan akan membawa akibat dari nilai-nilai yang dipilih.
Kalau kehidupan dibangun di atas kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan kasih sayang, masyarakat punya peluang besar untuk menciptakan ketertiban dan kemaslahatan.
Sebaliknya, kalau kehidupan dibangun di atas keserakahan, kebohongan, korupsi, ketidakadilan, dan penghinaan terhadap martabat manusia, kehancuran moral akan sulit dihindari.
Jadi, persoalannya bukan hanya apakah sebuah masyarakat memakai label “Islam” atau tidak.
Pertanyaan yang lebih penting adalah,
*Apakah nilai-nilai yang dijalankan sesuai dengan prinsip keadilan dan kemanusiaan yang diajarkan Islam?*
*Nabi Muhammad SAW Sudah Memberikan Teladan*
Islam tidak hadir tanpa contoh.
Nabi Muhammad SAW telah menunjukkan bagaimana nilai tauhid diterapkan dalam kehidupan sosial.
Beliau bukan hanya mengajarkan ibadah, tetapi juga kejujuran dalam berdagang, perlindungan bagi kaum lemah, penghormatan terhadap manusia, penyelesaian konflik, amanah dalam memimpin, dan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat.
Karena itu, ketika membahas tata kelola kehidupan berdasarkan Islam, umat Islam punya contoh sejarah yang kuat melalui kehidupan Rasulullah SAW.
Tantangan zaman sekarang bukan menyalin semua bentuk kehidupan masa lalu secara mentah-mentah.
Tantangannya adalah bagaimana nilai-nilai universal Islam diterapkan dengan bijak dalam persoalan masa kini tanpa kehilangan prinsip dasarnya.
*Negara, Kekuasaan, dan Amanah*
Presiden pada dasarnya bukan pemilik negara.
Presiden adalah orang yang memegang amanah rakyat.
Dalam pandangan Islam, kekuasaan adalah amanah yang nantinya akan dipertanggungjawabkan, bukan sekadar fasilitas untuk menikmati jabatan.
Karena itu, keberhasilan seorang pemimpin tidak cukup diukur dari pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, atau angka-angka material lainnya.
Ada pertanyaan moral yang lebih penting:
Apakah rakyat diperlakukan dengan adil?
Apakah hukum berlaku untuk semua?
Apakah orang miskin mendapat perlindungan?
Apakah kekayaan negara dikelola untuk kepentingan rakyat?
Apakah korupsi benar-benar diperangi?
Apakah manusia diperlakukan dengan bermartabat?
Kalau jawabannya positif, di situlah nilai-nilai Islam terasa dalam kehidupan bernegara.
Jangan Sampai Islam Cuma Jadi Simbol
Bahaya terbesar bukan ketika seseorang terus terang mengakui bahwa dirinya belum memahami Islam.
Bahaya yang lebih besar adalah ketika simbol Islam dipakai untuk menutupi perilaku yang justru bertentangan dengan nilai Islam.
Islam mengajarkan kejujuran, jadi jangan sampai kebohongan dibenarkan.
Islam mengajarkan keadilan, jadi jangan sampai ketidakadilan diberi pembenaran.
Islam mengajarkan amanah, jadi jangan sampai korupsi dibungkus dengan bahasa pembangunan.
Islam mengajarkan persaudaraan, jadi jangan sampai masyarakat terus diadu demi kepentingan politik.
Karena itu, seorang pemimpin Muslim harus siap dikritik ketika kebijakannya dianggap bertentangan dengan nilai moral Islam.
Kritik bukan penghinaan.
Kritik adalah bagian dari pengawasan terhadap amanah kekuasaan.
Ketika Manusia Kehilangan Nilai
Al-Qur’an memberikan peringatan keras tentang manusia yang kehilangan arah moral. Dalam QS. Al-A’raf ayat 179, manusia digambarkan bisa menjadi lebih sesat daripada hewan ketika memiliki hati tetapi tidak digunakan untuk memahami kebenaran, memiliki mata tetapi tidak digunakan untuk melihat, dan memiliki telinga tetapi tidak digunakan untuk mendengar.
Pesan ini masih sangat relevan dengan kehidupan modern.
Kemajuan teknologi tidak otomatis membuat manusia lebih beradab.
Kekayaan tidak otomatis membuat manusia lebih mulia.
Kekuasaan tidak otomatis membuat manusia lebih bijaksana.
Bahkan negara yang sangat maju secara materi bisa mengalami kerusakan moral kalau keadilan, kejujuran, dan tanggung jawab ditinggalkan.
Jadi, ancaman terbesar bagi sebuah bangsa bukan cuma kemiskinan.
Ancaman terbesar adalah hilangnya moralitas manusia.
Prabowo dan Tantangan Memimpin sebagai Muslim
Prabowo Subianto menghadapi tantangan yang besar.
Sebagai Presiden Republik Indonesia, ia memimpin masyarakat yang sangat beragam. Karena itu, penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bernegara harus dilakukan dengan bijak, tetap menghormati konstitusi, kemajemukan masyarakat, dan kebebasan beragama.
Islam tidak perlu dipaksakan untuk menunjukkan kebenarannya.
Islam justru harus menunjukkan kekuatannya lewat keteladanan, keadilan, kemanusiaan, dan kemaslahatan.
Kalau nilai-nilai itu hadir dalam kebijakan negara, seorang pemimpin Muslim tidak perlu menjadikan negara sebagai alat untuk memaksakan keyakinan.
Biarkan rakyat merasakan bahwa keadilan itu nyata, negara hadir untuk yang lemah, hukum tidak tajam ke bawah dan tumpul ke atas, serta kekuasaan benar-benar dipakai untuk kepentingan bersama.
*Penutup*
Islam Harus Menjadi Akhlak dalam Kekuasaan
Pada akhirnya, persoalan Islam dalam kepemimpinan bukan cuma soal apa yang diucapkan seorang pemimpin.
Yang lebih penting adalah apa yang ia lakukan ketika memegang kekuasaan.
Islam yang hidup adalah Islam yang melahirkan akhlak.
Islam yang hadir dalam pemerintahan adalah Islam yang melahirkan keadilan.
Islam yang hadir dalam ekonomi adalah Islam yang menolak keserakahan dan penindasan.
Islam yang hadir dalam politik adalah Islam yang memandang kekuasaan sebagai amanah.
Dan Islam yang hadir dalam kehidupan sosial adalah Islam yang menjaga martabat manusia.
Karena itu, kalau Prabowo Subianto ingin menerapkan nilai-nilai Islam dalam kepemimpinannya, ukurannya bukan seberapa sering nama Islam disebut.
Ukuran akhirnya adalah seberapa jauh rakyat merasakan keadilan, keamanan, kesejahteraan, dan kemanusiaan.
Sebab kekuasaan akan berakhir.
Jabatan akan berakhir.
Sejarah akan mencatat.
Dan pada akhirnya, seorang pemimpin bukan hanya akan dinilai oleh manusia, tetapi juga akan dipertanggungjawakan
semuanya di hadapan Allah SWT.
Ruang Gagasan & Penyangkalan :
TULISAN ini adalah hamparan pemikiran mandiri dan refleksi personal dari sang penulis. Redaksi hadir sebagai wadah yang merawat keberagaman perspektif, tanpa memiliki atau mendikte arah pemikiran di dalamnya. Oleh karena itu, setiap argumen, sudut pandang, dan implikasi dari tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab intelektual sang penulis.

11 hours ago
6

















































