FOTO : Ilustrasi [ Ai ]
KETEMU lagi malam Jumat. Dalam di luar banyak asap, jangan buru-buru bentangkan kelabu. Malam Jumat itu waktunya membicarakan sesuatu sejak zaman SMA sudah mampu membuat jantung berdetak seperti drum band. Cinta, pacaran, dan segala perlengkapan biologis yang ikut melakukan pemanasan.
Kita bicara jujur saja. Manusia bukan malaikat. Diberi hati untuk mencintai. Mata untuk melirik. Tangan untuk menggandeng. Tapi, bukan tangan yang suka menggeranjangi secara liar. Kalau ada suka begitu, ada baiknya tobat sekarang, ups.
Dalam Islam, istilah “pacaran” sebagaimana dipahami sekarang memang tidak ditemukan dalam Alquran, hadis, maupun kitab fikih. Yang tersedia adalah ta’aruf, khitbah, dan pernikahan. Kalau mencari buku “1001 Cara Menjinakkan Pacar Sesuai Sunnah”, kemungkinan raknya memang belum dibuat.
Al-Isra ayat 32 tidak sekadar mengatakan, “Jangan berzina.” Pesannya adalah “Jangan mendekati zina.” Ini kalimat sangat preventif. Islam seolah tahu manusia itu makhluk penasaran. Baru pegangan tangan, ingin naik level. Baru duduk berduaan, ingin mencari lokasi lebih sunyi. Baru saling pandang, tiba-tiba black mamba di balik celana melakukan rapat luar biasa.
Makanya jangan kasih dia kesempatan menjadi ketua panitia. Panitia apa, Bang? Panitia pembersihan landasan, maaf.
Tubuh laki-laki punya black mamba. Kadang diam seperti ular tidur, tetapi jangan sok yakin dia sudah pensiun. Begitu melihat situasi dianggap menarik, kepalanya bisa mendongak seolah berkata, “Apakah acara sudah dimulai?”
Ada pula versi pedang. Pedang yang baik bukan dipamerkan di ruang tamu, apalagi diayun-ayunkan sembarangan. Ia punya sarung, tempat penyimpanan, dan waktu tepat untuk dikeluarkan.
Versi teknologi lebih modern lagi, rudal. Rudal tidak dibuat untuk nongkrong di landasan sambil selfie. Ia punya sistem keamanan, target, prosedur, dan waktu peluncuran. Kalau dilepas sembarangan, bukan gagah namanya, melainkan bencana.
Sementara di sisi lain, tubuh perempuan bisa kita sebut landasan. Ada juga gerbang, taman, pelabuhan, istana, bahkan rumah. Semua metafora itu punya satu pesan. Sesuatu sangat berharga membutuhkan penjagaan, bukan akses bebas bagi setiap kendaraan kebetulan lewat.
Maka Islam tidak sedang berkata, “Matikan mesin!” Islam berkata, “Jangan parkir sembarangan.”
Ini bedanya. Ta’aruf menjadi jalur resmi untuk mengenal calon pasangan. Khitbah menjadi tahap keseriusan. Pernikahan menjadi akad mengubah hubungan dari wilayah terlarang menuju hubungan halal.
Rasulullah juga menganjurkan pemuda yang mampu menikah, segera menikah. Karena, pernikahan membantu menjaga pandangan dan kehormatan. Islam tidak pura-pura tidak tahu, mesin biologis manusia punya tenaga kuda. Justru karena tahu mesinnya kuat, dibuatlah jalan tol bernama pernikahan.
Di dunia Muslim, praktiknya pun beragam. Di Qatar, 71 persen dari 526 responden lebih memilih menikah dengan orang dicintai. Sementara 64,3 persen menekankan pentingnya komitmen religius. Mahar dapat mencapai 50.000–150.000 riyal. Bahkan, pada keluarga tertentu 300.000 riyal. Arab Saudi bahkan menetapkan batas 50.000 riyal.
Di negara-negara Teluk, perjodohan melalui orang tua dan teman mencapai 28,6 persen. Kerabat 18,9 persen, rekan kerja 11,6 persen, teman 11,4 persen. Sedangkan internet hanya 10,6 persen.
Artinya, teknologi boleh 5G, tetapi urusan jodoh kadang masih memakai antena tante-tante keluarga. Atau, makcomblang.
Pakistan lebih unik. Lebih dari 80 persen pernikahan masih diatur keluarga melalui rishta aunties. Namun aplikasi Muzz mengklaim memiliki 1,2 juta pengguna di Pakistan dan telah membantu 15.000 pasangan menikah.
Aljazair memperlihatkan pertarungan tradisi dan modernitas. Banyak pemuda tetap menjalin hubungan romantis meski tahu hal itu bertentangan dengan norma agama. Hubungan disembunyikan. Sementara film Korea, Turki, India, dan televisi satelit ikut mengubah cara generasi muda memandang cinta.
Indonesia pun tidak kalah kreatif. Muncul ta’aruf online dengan pendampingan, chaperone, bahkan percakapan yang bisa diteruskan kepada orang tua. Jadi Tinder pun akhirnya punya sepupu yang lebih sopan.
Islam juga tidak anti-romantis. Ada tradisi puisi cinta panjang, termasuk kisah Majnun Layla, manusia yang begitu mabuk cinta sampai dijuluki “si gila”. Cinta bukan musuh Islam. Yang diatur adalah cara menyalurkannya.
Sebab cinta tanpa kendali seperti sungai tanpa tanggul. Indah dari kejauhan, tetapi kalau meluap, rumah tetangga ikut hanyut.
Begitu pula black mamba. Bukan harus dibunuh. Ia hanya perlu kandang yang benar. Pedang perlu sarung. Rudal perlu sistem keamanan. Kunci perlu pintu yang tepat. Pelabuhan perlu kapal yang sah. Landasan perlu izin penerbangan.
Kalau semuanya sudah siap, tinggal menunggu satu kalimat sakti, “Saya terima nikahnya…”
Nah! Di titik itu, wak, suasana berubah. Yang tadinya haram menjadi halal. Yang tadinya harus menundukkan pandangan menjadi ibadah. Yang tadinya harus menjaga jarak justru mendapatkan ruang yang sah. Bahkan setan sejak tadi duduk di kursi belakang sambil seruput wiski akhirnya terpaksa pulang sambil ngomel.
Sebab ia kalah bukan karena manusia kehilangan hasrat. Ia kalah karena hasrat berhasil menemukan alamat resminya.
Jadi jangan takut mencintai. Jangan pula merasa suci hanya karena punya perasaan tetapi tidak pernah berani mengambil tanggung jawab.
Kalau hati sudah menemukan seseorang, black mamba mulai pemanasan, pedang mulai gelisah di sarung, rudal mulai mengecek bahan bakar, dan jantung berdetak seperti genderang perang, mungkin itu bukan tanda untuk mencari tempat sepi.
Mungkin itu tanda untuk mencari wali, penghulu, dan tanggal akad. Karena dalam Islam, cinta bukan diminta untuk mati. Cinta diminta menunggu sampai halal.
Ketika waktunya tiba, tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi di balik pohon, mobil, kamar gelap, duduk di sofa berduaan, atau chat yang pesannya langsung dihapus.
Buka pintunya. Nyalakan lampunya. Panggil keluarganya. Datangkan saksinya. Ucapkan akadnya. Setelah itu, silakan kapal merapat di pelabuhan yang memang sudah mendapatkan izin sandar.
Itulah bedanya cinta sekadar panas dengan cinta punya arah. Yang satu membuat setan tepuk tangan. Yang satu lagi membuat setan mengajukan surat pengunduran diri.
Nantikan edisi malam Jumat berikut, tentu lebih nackal dan pesan moral. Jangan lupa seruput Koptagul plus tiga telur ayam kampung, wak!
Oleh : Rosadi Jamani
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
Ruang Gagasan & Penyangkalan :
TULISAN ini adalah hamparan pemikiran mandiri dan refleksi personal dari sang penulis. Redaksi hadir sebagai wadah yang merawat keberagaman perspektif, tanpa memiliki atau mendikte arah pemikiran di dalamnya. Oleh karena itu, setiap argumen, sudut pandang, dan implikasi dari tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab intelektual sang penulis.

8 hours ago
6

















































