Jakarta, CNBC Indonesia - Penyakit jantung masih menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar bagi masyarakat Indonesia. Tak hanya menyebabkan angka kematian tinggi, penyakit ini juga mulai banyak ditemukan pada kelompok usia yang lebih muda.
Direktur Utama RS Jantung Jakarta dr. Mohammad Andi Yassin, Sp.JP, FIHA mengatakan penyakit jantung masih masuk jajaran teratas penyebab kematian di Indonesia. Dari sisi pembiayaan, penyakit ini juga menjadi salah satu yang paling banyak menghabiskan dana kesehatan.
"Kalau dari data Kemenkes, dari BPJS, penyakit jantung ini merupakan kelima tertinggi menghabiskan biaya atau dana untuk pengobatan jantung. Jadi kalau dari sisi biaya itu tinggi, sisi kesakitan, bahkan sampai mortalitas atau kematian itu juga sangat tinggi," katanya dalam Profit CNBC Indonesia, Kamis (6/8/2026).
Salah satu yang paling menjadi perhatian adalah penyakit jantung koroner atau gangguan pada pembuluh darah jantung. Penyakit ini, kata ia, kerap disebut sebagai "silent killer" karena dalam sejumlah kasus dapat muncul tanpa gejala yang jelas.
Andi bilang, gejala penyakit jantung koroner umumnya berupa nyeri dada, sesak napas, hingga dada terasa berat, terutama ketika seseorang melakukan aktivitas fisik. Keluhan tersebut biasanya berkurang ketika beristirahat. Namun, ada pula pasien yang nyaris tidak mengalami gejala sebelum akhirnya terkena serangan jantung.
"Mungkin lagi tenang-tenang di rumah, lagi nonton, lagi ketawa-ketiwi dengan keluarga, tiba-tiba enggak enak dadanya, kemudian collapse," ujarnya.
Kondisi tersebut membuat pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi penting. Terlebih, pemerintah saat ini telah menyediakan program pemeriksaan kesehatan gratis yang dapat diakses masyarakat melalui fasilitas kesehatan seperti puskesmas.
Menurut Yassin, pemeriksaan kesehatan jantung terutama dianjurkan bagi laki-laki berusia sekitar 40 tahun ke atas serta perempuan yang mendekati atau telah memasuki masa menopause. Meski demikian, batas usia tersebut tak berarti kelompok yang lebih muda terbebas dari ancaman penyakit jantung.
Yassin mengatakan, pasien penyakit jantung kini semakin banyak ditemukan pada usia muda. Bahkan, RS Jantung Jakarta baru-baru ini menangani seorang pria berusia 26 tahun yang mengalami serangan jantung.
"Baru-baru saja di Rumah Sakit Jantung Jakarta ada laki-laki 26 tahun. Pompa jantungnya lemah, datang dengan serangan jantung dan memang ada heart block, tersumbat total di pembuluh darah jantungnya," katanya.
Pasien tersebut kemudian menjalani pemasangan ring jantung dan berhasil diselamatkan.
"Nowadays penyakit jantung ini mulai bergeser ke arah makin muda," tegasnya.
Gaya Hidup Jadi Sorotan
Yassin menilai perubahan gaya hidup menjadi salah satu faktor yang berperan dalam meningkatnya penyakit jantung pada usia muda. Ia membandingkan kondisi tersebut dengan pasien lanjut usia yang pada masa mudanya terbiasa menjalani aktivitas fisik tinggi, seperti bekerja sebagai petani atau berkebun.
Sebaliknya, pola hidup masyarakat saat ini cenderung semakin minim aktivitas fisik. Banyak pekerja menghabiskan sebagian besar waktunya dengan duduk, jarang berolahraga, memiliki kebiasaan ngemil, hingga merokok.
"Pasien-pasien yang serangan jantung di usia muda begitu ditanya apa kerjanya, 'Oh, saya cuma pekerja kantor, duduk saja, ngemil saja, jarang olahraga, smoker and everything'," ungkapnya.
Oleh karena itu, dia menekankan, pemeriksaan kesehatan rutin menjadi salah satu langkah penting untuk mendeteksi faktor risiko lebih dini, terlebih penyakit jantung koroner pada sebagian orang dapat berkembang tanpa memberikan tanda yang jelas sebelumnya.

2 hours ago
2

















































