Ngeri! RI Ternyata Banyak Impor Batu Nisan, Terbanyak dari China

5 days ago 9

Jakarta, CNBC Indonesia- Indonesia sendiri masih mengimpor batu nisan dari luar negeri, terutama dari China. Padahal, Indonesia dikenal sebagai salah satu eksportir batu nisan terbesar, terutama ke Amerika Serikat dan Jepang. Lantas, mengapa RI masih bergantung pada impor?

Melansir Badan Pusat Statistik (BPS), impor batu nisan dengan kode HS 68029900 sempat mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir sebelum akhirnya naik kembali pada 2024. Pada 2019, nilai impor tercatat sebesar US$1,93 juta dan sempat meningkat menjadi US$2,35 juta pada 2020.

Namun, sejak 2021, tren impor menurun, bahkan sempat menyentuh level terendah di US$948 ribu pada 2022. Meski begitu, pada 2024, nilai impor kembali meningkat menjadi US$1,59 juta atau sekitar Rp 26,32 miliar (US$ 1= Rp 16.555), menandakan adanya lonjakan permintaan terhadap batu nisan impor.

China menjadi pemasok terbesar batu nisan ke Indonesia dengan nilai impor mencapai US$747 ribu pada 2024.

Hong Kong menyusul dengan US$582 ribu, sementara India dan Brasil berada di peringkat berikutnya dengan angka yang jauh lebih kecil. Dominasi China dalam pasar impor ini bukan hal yang mengejutkan, mengingat negara tersebut dikenal memiliki industri batu alam yang masif dan mampu menawarkan harga yang sangat kompetitif.

Lalu, mengapa Indonesia masih mengimpor batu nisan meski memiliki industri domestik yang kuat? Salah satu alasannya adalah perbedaan spesifikasi dan jenis batu yang digunakan. Batu nisan yang diimpor dari China dan Hong Kong umumnya memiliki karakteristik yang berbeda dari produk lokal, baik dari segi warna, pola, maupun kualitas finishing.

Di Indonesia, batu nisan lokal umumnya dibuat dari beberapa jenis batu alam, seperti granit, marmer, dan batu pasir. Granit lokal memiliki variasi warna yang lebih beragam dibandingkan granit impor, seperti abu-abu atau merah muda. Marmer memberikan tampilan mewah dengan pola alami yang unik, sementara batu pasir sering digunakan untuk desain yang lebih tradisional atau rustik. Pemilihan bahan ini biasanya disesuaikan dengan preferensi budaya dan tradisi setempat.

Beberapa pelanggan di Indonesia mungkin mencari jenis batu tertentu yang sulit ditemukan di pasar domestik, sehingga harus mengandalkan impor.

Batu nisan yang diimpor dari China umumnya terbuat dari granit hitam pekat, sering disebut sebagai "Black Nero".

Granit jenis ini dikenal karena teksturnya yang keras, padat, dan tahan terhadap berbagai kondisi cuaca, sehingga memberikan daya tahan yang tinggi. Selain itu, batu nisan Tiongkok sering menampilkan desain dengan unsur seni yang tinggi, mencerminkan budaya Tionghoa yang kaya akan simbolisme dan estetika.

Selain itu, harga yang lebih murah juga menjadi faktor utama. Industri batu nisan China dikenal dengan efisiensi produksinya yang tinggi, sehingga mampu menawarkan harga lebih rendah dibandingkan produksi dalam negeri.

Bagi beberapa importir atau pengrajin lokal, membeli batu nisan dari China bisa menjadi alternatif ekonomis, terutama jika mereka mencari bahan baku dalam jumlah besar dengan harga lebih kompetitif.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |