Jakarta, CNBC Indonesia - Negara-negara Teluk Arab menyatakan sikap bersama dengan meningkatkan tekanan terhadap Iran menyusul serangkaian serangan terhadap fasilitas energi mereka.
Dalam pernyataan bersama yang dirilis Kamis (26/3/2026), enam negara kawasan tersebut mengecam apa yang mereka sebut sebagai serangan "terang-terangan" dan "kriminal", sekaligus memberi sinyal kesiapan untuk mengambil langkah "membela diri" di masa depan.
Pernyataan bersama itu dikeluarkan oleh Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Arab Saudi, Qatar, serta Yordania. Mereka menyoroti secara khusus serangan yang diluncurkan dari wilayah Irak oleh kelompok bersenjata dan proksi yang loyal kepada Iran, yang disebut sebagai pelanggaran hukum internasional.
"Meski kami menghargai hubungan persaudaraan kami dengan Republik Irak, kami menyerukan kepada pemerintah Irak untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna segera menghentikan serangan ... menuju negara-negara tetangga," demikian bunyi pernyataan bersama tersebut, dilansir CNBC International.
Negara-negara Teluk menambahkan bahwa penghentian serangan diperlukan "untuk menjaga hubungan persaudaraan dan menghindari eskalasi lebih lanjut".
Mereka juga menegaskan kembali "hak penuh dan melekat untuk membela diri terhadap serangan kriminal ini", mengacu pada Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menjamin hak negara untuk membela diri secara individu maupun kolektif. Pernyataan itu juga menegaskan hak mereka "untuk mengambil semua langkah yang diperlukan guna menjaga kedaulatan, keamanan, dan stabilitas kami".
Negara-negara tetangga Iran di Teluk telah berulang kali menjadi sasaran drone dan rudal Iran sebagai bagian dari serangan balasan terhadap pengeboman Amerika Serikat (AS) dan Israel sejak akhir Februari. Serangan-serangan tersebut, yang diluncurkan dari wilayah Iran maupun oleh kelompok sekutu, telah merusak terminal minyak dan gas alam cair (LNG), bahkan memerlukan perbaikan mahal yang diperkirakan memakan waktu bertahun-tahun.
Pernyataan keras terhadap Iran bukanlah yang pertama kali. Namun, penggunaan istilah "membela diri" menandai perubahan nada dari negara-negara Teluk yang sebelumnya mendorong deeskalasi dan cenderung mengambil posisi netral terhadap konflik AS dan Israel dengan Iran.
Iran sendiri sebelumnya menyampaikan permintaan maaf atas serangan terhadap negara-negara tetangganya, tetapi juga membenarkannya. Teheran menyatakan kepada CNBC bahwa pangkalan militer AS di wilayah negara tetangga merupakan target yang "sah".
Sikap Teluk Mengeras
Terdapat indikasi kuat bahwa kesabaran kolektif negara-negara Teluk mulai menipis. Para pejabat kawasan memperingatkan bahwa "harga harus dibayar" atas serangan tersebut, yang disebut telah menghambat pembangunan ekonomi selama bertahun-tahun dan merusak reputasi kawasan sebagai tempat aman bagi bisnis dan pariwisata.
Dalam 24 jam terakhir, kekuatan regional, khususnya Uni Emirat Arab, memberi sinyal sikap yang lebih keras terhadap Iran, meskipun Gedung Putih tampak berupaya mencari jalan keluar melalui pembicaraan damai yang disebut-sebut sedang berlangsung. Iran sendiri membantah adanya negosiasi.
Duta Besar Uni Emirat Arab untuk AS, Yousef Al Otaiba, menulis dalam opini di The Wall Street Journal bahwa "gencatan senjata sederhana tidaklah cukup" terkait pembicaraan damai yang belum terkonfirmasi antara Teheran dan Washington melalui perantara.
Sementara itu, CEO perusahaan minyak milik negara UEA, Sultan Al Jaber, dalam pidatonya di Middle East Institute di Washington mengatakan kontrol Iran atas Selat Hormuz setara dengan "pemerasan dalam skala global".
Awal pekan ini, CEO Kuwait Petroleum Corp. Sheikh Nawaf al-Sabah menyebut Iran telah memberlakukan "blokade ekonomi" terhadap Teluk Persia dengan menutup jalur pelayaran tersebut. CEO Saudi Aramco Amin Nasser sebelumnya juga memperingatkan bahwa perang dengan Iran akan membawa "konsekuensi katastrofik" bagi ekonomi global.
(luc/luc)
Addsource on Google

2 hours ago
1

















































