Miris, Seorang Guru Dikeroyok oleh Puluhan Siswanya Sendiri

9 hours ago 2

FOTO : ilustrasi [ Ai ]

Oleh : Rosadi Jamani [Ketua Satupena Kalbar]

KALIAN pasti sudah menonton videonya. Betapa mirisnya, seorang guru dikeroyok oleh puluhan siswanya sendiri. Dunia pendidikan tercoreng, ya jelas dong.

Simak kisahnya sambil seruput Koptagul, wak!

Awal tahun 2026 mestinya dibuka dengan rapat guru, target kelulusan, dan pidato tentang masa depan generasi emas. Tapi di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, kalender pendidikan robek sendiri.

Selasa, 13 Januari 2026, saat jam pelajaran masih berjalan, sekolah itu berubah fungsi menjadi arena laga. Bukan simulasi. Bukan ekstrakurikuler bela diri. Ini real time, direkam, lalu viral. Seorang guru bernama Agus Saputra dikeroyok sejumlah siswanya sendiri.

Adegan bermula sederhana, seperti banyak tragedi besar lainnya. Agus melintas di depan kelas, mendengar kata-kata kasar dari siswa. Teguran keluar. Emosi ikut keluar. Satu tamparan mendarat. Dalam hitungan detik, sekolah kehilangan logikanya. Puluhan siswa menyerbu. Tidak satu.

Tidak dua. Banyak. Dari berbagai arah. Seperti segerombolan pemain figuran yang lupa bahwa ini bukan film action.

Tapi Agus Saputra bukan karakter figuran. Ia tidak lari. Ia tidak berjongkok menunggu keajaiban. Tubuhnya bergerak refleks. Tahan banting. Setiap serangan dibalas. Pukulan datang, ia membalas pukulan. Dorongan datang, ia menahan dan mendorong balik. Adegan itu seperti film laga tanpa koreografi, berantakan, brutal, penuh teriakan.

Dari sudut pandang psikologi, ini fase fight total, ketika martabat, rasa aman, dan identitas profesional bertabrakan dalam satu tubuh.

Siswa terus menyerang dari segala arah. Tidak ada lagi konsep murid dan guru. Yang ada hanya kerumunan dan satu orang dewasa yang menolak jatuh. Kelas-kelas lain berhenti belajar.

Bel sekolah kehilangan fungsi sakralnya. Bangku dan papan tulis menjadi saksi bisu runtuhnya relasi otoritas. Ini bukan lagi soal disiplin, ini soal siapa yang berkuasa di ruang bernama sekolah.

Agus akhirnya terdesak. Bukan karena takut, tapi karena jumlah selalu menang melawan keberanian. Langkahnya mundur perlahan hingga ke ruang guru. Di sanalah benteng terakhir. Guru-guru lain mencoba melerai, mencoba memisahkan, mencoba mengembalikan sekolah ke bentuk aslinya.

Nafas Agus naik turun. Dadanya berguncang seperti mesin tua yang dipaksa berlari. Keringat, luka, dan emosi bercampur. Ia berdiri menatap para siswanya dengan tatapan tajam, tatapan kecewa yang jauh lebih menyakitkan dari pukulan.

Di luar ruang guru, suara tak berhenti. Makian. Hinaan. Kata-kata kasar beterbangan. Psikologi kerumunan bekerja tanpa ampun. Dalam massa, rasa bersalah larut. Identitas hilang. Yang tersisa hanya suara paling keras.

Suasana belajar benar-benar lumpuh. Sekolah hari itu mengajarkan satu pelajaran pahit, bahwa ruang pendidikan bisa runtuh hanya dalam beberapa menit.

Lalu datang babak klarifikasi. Dalam video yang beredar, Agus dituduh menghina siswa miskin dan membawa senjata tajam berupa celurit. Tuduhan yang membuat cerita ini semakin absurd. Agus membantah. Celurit, katanya, bukan untuk mengancam, melainkan upaya membubarkan kerumunan yang menyerangnya.

Dari perspektif psikologi trauma, ini respons bertahan hidup yang kacau tapi manusiawi. Ketika sistem gagal melindungi, individu mengambil alih dengan cara yang sering disalahpahami.

Kasus ini tak selesai di lorong sekolah. Mediasi dilakukan oleh pihak sekolah. Kepala SMKN 3 Tanjung Jabung Timur, Ranto M., mengakui upaya damai telah dicoba. Gagal. Agus memilih jalur hukum.

Dinas Pendidikan Provinsi Jambi menurunkan tim GTK untuk menyelidiki dan menjamin keamanan guru serta siswa. Polsek Berbak turun tangan untuk mencegah konflik meluas. Namun hingga kini, belum ada kesepakatan damai. Luka masih terbuka, secara fisik dan psikologis.

Agus Saputra dilaporkan mengalami trauma dan luka akibat pengeroyokan tersebut. Kita semua mengalami luka kolektif yang lebih halus, rasa prihatin bercampur takut. Sebab jika seorang guru bisa dikeroyok di jam pelajaran, di lingkungan sekolah, oleh murid-muridnya sendiri, maka ada yang retak jauh sebelum tamparan pertama terjadi.

Ini bukan sekadar kisah satu guru dan satu sekolah di Jambi. Ini potret psikologi pendidikan kita hari ini. Otoritas rapuh. Emosi menumpuk.

Mekanisme resolusi konflik nyaris nihil. Guru diminta sabar seperti nabi, tapi dibiarkan sendirian menghadapi badai. Murid diminta hormat, tapi tak pernah benar-benar diajari mengelola marah.

Kisah ini epik, bukan karena heroisme semata, tapi karena tragisnya. Seorang guru berdiri melawan murid-muridnya sendiri. Sekolah berubah menjadi arena. Pendidikan berhenti total.

Kita, sambil menonton ulang video itu, tertawa pahit sambil sadar, jika ini terus dianggap biasa, ke depan, yang belajar bukan lagi murid, tapi rasa takut.

#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |