Jakarta, CNBC Indonesia - Raja Charles III dipastikan tidak akan menjadikan Istana Buckingham sebagai kediaman utamanya meskipun proyek renovasi besar senilai £369 juta atau sekitar Rp8 triliun akan rampung pada tahun depan.
Alih-alih pindah ke istana yang menjadi simbol monarki Inggris tersebut, Charles memilih tetap tinggal di Clarence House, kediaman pribadinya di London yang telah ditempatinya selama bertahun-tahun.
Keputusan tersebut diumumkan pejabat kerajaan Inggris pada Kamis dan sekaligus menandai berakhirnya tradisi hampir dua abad menjadikan Istana Buckingham sebagai tempat tinggal utama raja Inggris sejak era Ratu Victoria pada 1837.
Bendahara Kerajaan Inggris, James Chalmers, menegaskan Istana Buckingham tetap akan berfungsi sebagai pusat kegiatan resmi kerajaan, termasuk penyelenggaraan upacara kenegaraan dan penerimaan tamu negara.
"Istana ini akan tetap menjadi markas besar monarki, permata mahkota bangunan nasional kita, dengan panji raja berkibar dengan bangga dari atap setiap kali Yang Mulia berada di London," ujar Chalmers, dikutip dari CNN International, Minggu (28/6/2026).
Sejak 2019, baik Ratu Elizabeth II maupun Raja Charles memang sudah tidak lagi bermalam secara rutin di Istana Buckingham. Meski demikian, Charles tetap memiliki kamar pribadi yang dapat digunakan sewaktu-waktu saat menjalankan tugas kerajaan di London.
Setelah renovasi selesai, akses publik ke Istana Buckingham juga akan diperluas. Saat ini, bangunan bersejarah tersebut dikunjungi sekitar 700.000 orang setiap tahun.
Raja Charles Bayar Pajak Rp280 Miliar
Dalam kesempatan yang sama, Kerajaan Inggris untuk pertama kalinya mengungkap besaran pajak yang dibayarkan Raja Charles sebagai bagian dari upaya meningkatkan transparansi keuangan monarki.
Pada tahun fiskal 2024/2025, Charles tercatat membayar pajak sebesar £12,9 juta atau sekitar US$17 juta (Rp280 miliar). Nilai tersebut menempatkannya di antara 100 pembayar pajak terbesar di Inggris.
Jumlah itu meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai £11,7 juta. Sejak naik takhta pada 2022, total pajak yang telah dibayarkan Charles telah melampaui £30 juta.
Secara hukum, raja Inggris sebenarnya tidak diwajibkan membayar pajak penghasilan, pajak keuntungan modal, maupun pajak warisan. Namun, mengikuti tradisi yang dimulai Ratu Elizabeth II sejak 1993, Charles secara sukarela tetap membayar pajak.
Sumber utama pendapatan pribadi Charles berasal dari Kadipaten Lancaster, aset kerajaan yang menghasilkan sekitar £25,2 juta pada tahun fiskal 2025/2026. Selain itu, ia juga memperoleh pemasukan dari berbagai investasi dan kepemilikan pribadi lainnya.
Di luar pendapatan tersebut, keluarga kerajaan juga menerima Sovereign Grant atau Hibah Kedaulatan dari pemerintah Inggris untuk membiayai operasional kerajaan, termasuk gaji staf, pemeliharaan istana, serta perjalanan resmi.
Nilai hibah tersebut diperkirakan mencapai £137,9 juta pada tahun fiskal 2026/2027.
Namun, Chalmers mengatakan dana tersebut akan dipangkas menjadi £100 juta mulai tahun 2027/2028 atas permintaan Raja Charles sendiri dan akan dipertahankan pada level tersebut hingga 2031/2032.
"Ini bukan cek kosong," kata Chalmers seraya menegaskan terdapat berbagai mekanisme pengawasan untuk memastikan penggunaan dana publik tetap proporsional.
Sementara itu, pewaris takhta Inggris, Pangeran William, tercatat membayar pajak sebesar £7,76 juta pada tahun fiskal 2024/2025. Kantornya juga mengungkapkan bahwa William menginstruksikan agar pendapatan sewa senilai £1,5 juta dari sebuah penjara yang telah ditutup dialokasikan untuk masyarakat setempat.
Meski demikian, baik Raja Charles maupun Pangeran William masih menghadapi kritik terkait praktik penarikan sewa dari sejumlah institusi publik, termasuk militer, layanan kesehatan, dan sekolah yang berdiri di atas lahan milik kerajaan.
(ven/haa)
Addsource on Google

9 hours ago
6

















































