Jakarta, CNBC Indonesia - Terdapat beberapa cara sederhana untuk melihat bagaimana sebuah kota tumbuh. Di antaranya dengan melihat jalan yang dilalui masyarakat setiap hari, melihat aktivitas industri yang semakin hidup, melihat investasi yang masuk, hingga melihat dampak pertumbuhan tersebut terhadap kehidupan masyarakat. Di Batam, pertumbuhan tersebut sedang bergerak dalam satu arah, yakni infrastruktur diperkuat, investasi dikebut, dan ekonomi terus didorong agar manfaatnya semakin terasa nyata. Di balik proses itu, sosok Kepala BP Batam Amsakar Achmad dan Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra hadir dengan pendekatan kepemimpinan yang tidak hanya bekerja dari balik meja. Mereka juga dikenal aktif turun ke lapangan, melihat langsung kondisi infrastruktur, mendengarkan persoalan, sekaligus memastikan pekerjaan yang dilakukan benar-benar menjawab kebutuhan Batam. Bagi Amsakar, pembangunan bukan sekadar tentang menyelesaikan proyek. Terdapat tanggung jawab untuk memastikan setiap pekerjaan memiliki manfaat dan mendukung aktivitas ekonomi masyarakat. "Kita tidak boleh berhenti pada angka. Yang paling penting adalah bagaimana investasi ini terus bergerak, proyeknya terealisasi, lapangan kerja tercipta, industri berkembang, dan memberikan multiplier effect bagi ekonomi Batam," ujar dia dalam keterangannya, Sabtu (29/8/2026). Perlu diingat, pertumbuhan ekonomi membutuhkan fondasi yang kuat. Salah satunya adalah infrastruktur. Oleh karena itu, pembangunan dan perbaikan jalan menjadi bagian penting dalam menjaga denyut aktivitas Batam sebagai kota industri, perdagangan, jasa, dan investasi. Sebagaimana diketahui, hingga 3 Agustus 2026, sebanyak 12 dari 19 pekerjaan perbaikan jalan di Batam telah selesai 100%. Sejumlah titik prioritas telah dituntaskan, antara lain Jalan Gajah Mada depan Southlink, ruas dekat Jembatan Sei Ladi, jalan di atas Underpass Yos Sudarso, serta kawasan Volex. Aktivitas pekerjaan juga tidak berhenti pada badan jalan. Penataan drainase turut menjadi bagian penting agar infrastruktur lebih berfungsi dan potensi genangan dapat ditekan.
Dalam skala yang lebih besar, peningkatan Jalan Gajah Mada segmen Landing Point Fly Over-Simpang Lalan Madani hingga 24 Agustus 2026 telah mencapai 39,194%. Jalan tersebut akan diperlebar menjadi dua jalur dengan masing-masing sisi memiliki tiga lajur. Karakter kepemimpinan inilah yang terus ditunjukkan oleh Amsakar, yakni turun melihat persoalan, mendengar kebutuhan, kemudian memastikan pekerjaan bergerak.
Infrastruktur seperti ini bukan hanya soal beton, aspal atau pelebaran jalan. Di baliknya ada mobilitas pekerja, distribusi barang, aktivitas industri, perjalanan masyarakat, hingga daya saing investasi Batam.Amsakar pun memastikan bahwa percepatan pembangunan tetap berjalan dengan memperhatikan mutu dan keselamatan. "Percepatan dilakukan secara terukur tanpa mengabaikan aspek mutu dan keselamatan pekerjaan," kata dia.
Di sisi lain, sosok Li Claudia Chandra dinilai mampu memberikan warna tersendiri dalam kepemimpinan Batam. Sebagai perempuan pertama yang memimpin Batam bersama Kepala BP Batam, Li Claudia dikenal tegas ketika berbicara mengenai aturan, pelayanan dan kepentingan pembangunan. Kendati begitu, ketegasan tersebut berjalan beriringan dengan pendekatan yang dekat dengan masyarakat.
BP Batam Foto: dok Istimewa
Li Claudia pun tak segan turun ke lapangan. Melihat langsung kondisi infrastruktur. Berdialog dengan dan mendengarkan keluhan masyarakat. Pada berbagai kesempatan, ia menunjukkan sisi humanisnya ketika berinteraksi dengan emak-emak maupun anak-anak. Baginya, pembangunan tidak boleh kehilangan sentuhan kemanusiaan. Fondasi infrastruktur di Batam berjalan beriringan dengan pertumbuhan investasi. Berdasarkan metode bottom-up BP Batam, investasi Batam pada semester I-2026 mencapai Rp 38,97 triliun atau 55,67% dari target investasi 2026 sebesar Rp 70 triliun. Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, capaian tersebut tumbuh 62,75%. Sementara berdasarkan LKPM, realisasi investasi Batam pada semester I-2026 mencapai Rp 29,89 triliun, terdiri atas Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp 17,80 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 12,09 triliun.
"Kami ingin Batam menjadi tempat yang memberikan kepastian untuk tumbuh, ruang bagi dunia usaha untuk berkembang, sekaligus menciptakan manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat."Ketegasan terhadap aturan dan kedekatan dengan masyarakat menjadi dua sisi yang saling melengkapi. Sebab, pembangunan membutuhkan aturan yang jelas untuk menciptakan kepastian. Di samping itu, pembangunan juga membutuhkan pemimpin yang memahami apa yang dirasakan masyarakat di lapangan.
Terlepas dari itu, bagi Amsakar-Li Claudia, ukuran keberhasilan tidak berhenti pada nilai investasi. Justru, dampak masuknya modal investasi akan terlihat ketika kesempatan kerja masyarakat bertambah. Jumlah tenaga kerja di Batam yang tercatat pada semester I-2026 mencapai 40.943 orang, meningkat dari 30.979 orang pada periode yang sama tahun sebelumnya. Artinya, terdapat tambahan 9.964 tenaga kerja, dengan pertumbuhan 32,16%. Angka tersebut menunjukkan bagaimana investasi mulai diterjemahkan menjadi aktivitas ekonomi yang lebih nyata. Kini, Batam tidak cukup hanya menjadi kota yang menarik investor. Batam dinilai harus menjadi kota yang membuat investor ingin tumbuh, berekspansi dan membangun ekosistem usaha dalam jangka panjang. Maka dari itu, sektor yang dikembangkan semakin beragam, mulai dari manufaktur berteknologi tinggi, digital, data center, artificial intelligence, energi, logistik internasional, kedirgantaraan, perdagangan dan keuangan internasional hingga pariwisata kesehatan. Konektivitas menjadi pengikat dan infrastruktur menjadi fondasi bagi Batam. Adapun pelayanan dan kepastian berusaha menjadi penguat, sedangkan investasi menjadi salah satu mesin pertumbuhan bagi Batam. Lantas, Amsakar dan Li Claudia memahami bahwa Batam sedang berada pada fase penting. Persaingan antarkota dan antarnegara untuk mendapatkan investasi semakin ketat. Makanya, kecepatan pelayanan harus diimbangi dengan kualitas infrastruktur dan kepastian. Di titik ini, keberhasilan tidak diukur dari seberapa banyak investor yang datang. Padahal, selain datang, investor juga harus merasa aman untuk tumbuh. Pada akhirnya, kepemimpinan Amsakar-Li Claudia dapat dilihat bukan hanya dari apa yang dikatakan, tetapi dari apa yang dikerjakan. Apalagi, mereka merupaka tipe pemimpin yang turun melihat jalan dan infrastruktur. Penilaian terhadap mereka juga bisa dilihat dari pekerjaan yang terus dikebut, dari investasi yang tumbuh, dari ribuan tenaga kerja yang terserap, serta dari upaya membangun ekosistem ekonomi yang semakin kompetitif. Amsakar membawa pendekatan pembangunan yang menekankan kerja, percepatan dan hasil. Di lain pihak, Li Claudia melengkapinya dengan ketegasan terhadap aturan sekaligus pendekatan yang dekat dengan masyarakat. Keduanya bertemu pada satu pesan besar, yakni Batam tidak boleh hanya tumbuh di atas kertas. Pertumbuhan Batam harus terlihat di jalan, terasa dalam aktivitas ekonomi, hadir dalam kesempatan kerja, dan memberi harapan bagi masa depan masyarakat. Oleh sebab itu, Rp 38,97 triliun investasi semester I-2026 bukanlah garis akhir. Begitu pula jalan yang selesai dibangun bukan sekadar proyek yang dicentang. Semuanya adalah bagian dari perjalanan yang lebih besar, yaitu mengubah kepercayaan menjadi investasi, investasi menjadi industri, industri menjadi lapangan kerja, dan pertumbuhan menjadi manfaat bagi masyarakat. Inilah Batam yang sedang bergerak. Batam yang infrastrukturnya diperkuat, ekonominya tumbuh, investasinya bergerak, serta dipimpin dengan kehadiran atau bukan sekadar dari balik meja. Berawal dari Batam, kontribusi pertumbuhan nyata terus dibangun untuk Indonesia.
(dpu/dpu)
[Gambas:Video CNBC]

3 hours ago
3
















































