Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah ke zona merah pada perdagangan Rabu (16/9/2026), setelah sempat menguat lebih dari 1% pada awal perdagangan. Aksi jual investor asing terhadap saham perbankan berkapitalisasi besar menjadi salah satu sorotan pasar.
Berdasarkan data perdagangan, IHSG ditutup melemah 0,38% ke level 6.436,85. Padahal, pada pukul 09.32 WIB, indeks sempat menguat 1,02% ke posisi 6.526,81.
Tekanan terhadap IHSG terjadi di tengah aksi jual investor asing yang mencatatkan net sell sebesar Rp624,7 miliar di seluruh pasar.
Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar menjadi sasaran. Tercatat, empat saham bank besar mencatatkan akumulasi net sell sebesar Rp344,6 miliar.
Bank Mandiri (BMRI) menjadi saham perbankan yang paling banyak dilepas asing dengan net sell Rp238,4 miliar. Disusul Bank Central Asia (BBCA) sebesar Rp57,9 miliar, Bank Negara Indonesia (BBNI) Rp24,2 miliar, serta Bank Rakyat Indonesia (BBRI) Rp24,1 miliar.
Dengan demikian, aksi jual asing pada empat saham bank besar tersebut menyumbang sekitar 55% dari total net sell asing di pasar saham.
Sektor Keuangan Jadi Pemberat
Berdasarkan data Refinitiv, tekanan terhadap saham perbankan sejalan dengan pelemahan sektor keuangan yang terkoreksi 0,71% pada perdagangan kemarin.
Bahkan, sektor keuangan menjadi salah satu sektor dengan pelemahan cukup dalam. Sektor teknologi terkoreksi 1,34%, utilitas melemah 1,82%, dan real estat turun 0,95%.
Secara keseluruhan, mayoritas sektor saham bergerak di zona merah. Selain sektor-sektor tersebut, sektor industri melemah 0,46%, sementara sektor konsumer siklikal dan konsumer non-siklikal masing-masing terkoreksi 0,14%.
Di sisi lain, sektor energi justru menguat 2,54%, menjadi sektor dengan kenaikan tertinggi. Sektor barang baku juga naik 0,27%, disusul kesehatan yang menguat tipis 0,04%.
Namun, penguatan sektor energi dan barang baku belum cukup untuk mengimbangi tekanan dari sektor keuangan dan sektor lainnya.
BYAN dan AMMN Topang IHSG
Meski IHSG berakhir melemah, sejumlah saham masih memberikan kontribusi positif terhadap pergerakan indeks.
Mengacu pada data Refinitiv, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi penopang terbesar IHSG dengan kontribusi kenaikan 28,61 poin indeks. Saham BYAN ditutup di level Rp11.350, dengan kontribusi perubahan sebesar 0,44%.
Selanjutnya, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menyumbang kenaikan 4,48 poin indeks, disusul PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar 3,11 poin.
Saham lain yang turut menopang indeks adalah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Timah Tbk (TINS).
Sebaliknya, tekanan terbesar datang dari PT Sinarmas Multiartha Tbk (SMMA) dengan kontribusi penurunan 3,54 poin indeks. BMRI dan PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) masing-masing memberikan kontribusi negatif sebesar 2,61 poin.
Dengan demikian, pelemahan IHSG kemarin tidak terjadi secara merata. Sejumlah saham tambang masih menopang indeks, tetapi tekanan dari saham perbankan dan sektor lainnya membuat IHSG gagal mempertahankan penguatan pada awal perdagangan.
Sementara itu, data perdagangan menunjukkan sebanyak 456 saham melemah, 213 saham menguat, dan 294 saham tidak bergerak.
(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]

3 hours ago
4

















































