Kalau Polisi Ini Berintegritas, Wajib Kita Bela, Wak!

8 hours ago 1

FOTO : Ilustrasi [ Ai ]

MINDSET kita selama ini terbangun, polisi itu korup. Kali ini mindset itu akan diuji. Seorang polisi yang sedang menyelidiki kasus korupsi, di tengah jalan malah dimutasi.

Ia tak terima lalu memilih mengundurkan diri polisi. Apakah polisi ini berintegritas atau sandiwara, kalian bisa nilai sendiri. Simak kisahnya sambil seruput Koptagul, wak!

Ceritanya begini, puang. Ada proyek tas belanja “ramah lingkungan” senilai Rp 2,2 miliar di Minahasa. Lalu, muncul satu sosok yang bikin genre cerita bingung sendiri. Ini aksi, komedi, atau tragedi? Namanya Aipda Vicky Aristo Katiandagho SH MH.

Pangkat Ajun Inspektur Polisi Dua. Rambut panjangnya seperti antena penangkap sinyal ketidakberesan. Tatapannya campuran dosen hukum dan detektif film noir. Sebagai Kanit Pidsus Sat Reskrim Polres Minahasa. Dia bukan tipe “kita lihat nanti.” Sejak Januari 2021, dia sudah menyelam ke program Bupati Minahasa 2020 yang katanya ramah lingkungan, tapi makin digali makin terasa ini proyek ramah kantong tertentu.

Tas Rp 2,2 miliar itu bukan sekadar tas. Itu seperti artefak dari dimensi markup. Harganya melambung tanpa rasa bersalah. Vicky berdiri di tengah pusaran itu sambil bilang, “Ini logika atau ilusi optik?”

Dia bekerja tanpa rem. Bukti dikumpulkan satu per satu seperti meronce tasbih. Saksi diperiksa berbondong-bondong. Dokumen ditumpuk setebal novel Tolstoy. Koordinasi dengan BPKP Perwakilan Sulut dilakukan untuk audit kerugian negara. Ini bukan investigasi ecek-ecek. Ini investigasi yang kalau diteruskan bisa bikin kursi empuk mendadak panas.

Lalu datang momen yang seharusnya jadi klimaks kemenangan. Pada 5 September 2024, kasus naik ke tahap penyidikan. Musik harusnya naik, kamera zoom, penonton tepuk tangan. Tapi ini Indonesia, negeri MBG, wak. Plot twist datang tanpa aba-aba.

Alih-alih diapresiasi, Vicky justru dimutasi ke Polres Kepulauan Talaud. Mutasinya nun jauh di sana, di seberang lautan. Alasannya? Lebih misterius dari harga tas itu sendiri. Lebih misteri Abu Janda itu zionis atau bukan sih. Seperti pemain bola yang sudah di depan gawang, eh Malaysia dibantai Vietnam 1-3.

Tapi Vicky bukan figuran. Dia bikin video curhat ke Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Bukan curhat biasa, ini monolog penuh nyali. Videonya viral. Dia minta mutasi ditinjau ulang dan tetap boleh melanjutkan penyidikan yang menyentuh “orang-orang penting.” Kalimat itu seperti mengetuk pintu yang selama ini dikunci rapat.

Sayangnya, sistem punya logika sendiri. Dalam birokrasi, kadang yang terlalu benar justru terasa paling mengganggu. Ketika integritas bertabrakan dengan kenyamanan, yang sering dikorbankan adalah yang tidak mau diam.

Di titik itu, Vicky mengambil keputusan yang bikin sejarah kecil, mundur. Bukan karena kalah, tapi karena menolak ikut bermain di papan yang miring. Pengunduran dirinya diajukan Juni 2025, disetujui Maret/April 2026. Video pamitannya bukan sekadar perpisahan, itu manifesto.

Ia berjalan hormat, bersujud syukur, lalu berkata, “Terima kasih Polda Sulut, Terima kasih Polres Minahasa, Terima kasih Polres Kepulauan Talaud, Terima kasih ZAZG. Kapanpun baju coklat ini bisa tanggal… tetapi jiwa, SEKALI BHAYANGKARA SELAMANYA BHAYANGKARA. I LOVE KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA. I Quit.”

“I Quit”-nya bukan tanda menyerah. Itu deklarasi merdeka.

Yang paling absurd sekaligus indah, setelah itu, Vicky tidak jadi pemain belakang, tidak pensiun mewah. Dia jadi pedagang kopi. Dari penyidik miliaran jadi penyeduh kejujuran. Dari membongkar anggaran ke meracik rasa.

Sindiran “lebih baik jadi tukang kopi dari pada tunduk pada penjilat” itu tajam seperti lidah Trump. Sederhana tapi kena. Seorang penyidik yang sudah kumpulkan bukti, periksa saksi, koordinasi audit, bahkan bersuara ke pucuk pimpinan, semua ditinggalkan demi kebebasan untuk tetap jujur.

Di negeri di mana banyak orang bertahan demi jabatan. Vicky justru keluar dengan kepala tegak. Dia tidak mundur, wak. Dia naik level. Dari aparat menjadi cerita. Cerita seperti ini tidak mati. Ia hidup di warung kopi, di kepala orang-orang, dan di hati mereka yang masih percaya, keberanian itu nyata.

Aipda Vicky Aristo Katiandagho. Atau sekarang, Kapten Kopi Pemberani.

Oleh : Rosadi Jamani
[ Ketua Satupena Kalbar ]

#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |