Investor Global Putar Haluan, Rotasi Besar Dimulai: Ini Emiten Untung

2 hours ago 2

Susi Setiawati,  CNBC Indonesia

15 January 2026 10:51

Jakarta, CNBC Indonesia - Danal asing mulai mengalir lebih deras ke pasar saham negara berkembang. Ini menjadi sinyal rotasi dari saham-saham bertema growth ke saham value.

Investor global perlahan meninggalkan saham-saham growth yang valuasinya sudah mahal dan mulai beralih ke saham value yang dinilai lebih defensif serta menawarkan margin of safety lebih menarik.

Terbukti dari pergerakan MSCI Emerging Markets Index yang naik sekitar 30% sepanjang 2025, sementara indeks untuk pasar maju mencatat kenaikan lebih moderat sekitar 17%, sehingga ini menjadi tahun terbaik relatif pasar saham negara berkembag sejak 2009.

Indonesia menjadi salah satu tujuan utama rotasi tersebut. DBS Group Research menyatakan pandangan positif terhadap pasar saham Indonesia, didukung oleh perbaikan fundamental makro, kebijakan moneter yang masih akomodatif, eksposur tarif yang relatif terbatas, serta valuasi saham yang masih atraktif secara rasio PEG dibandingkan negara di Asia lain.

DBSFoto: DBS

DBS bahkan memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi menuju level 9.500 pada tahun ini. Dalam sebulan terakhir sampai perdagangan Rabu kemarin (14/1/2026) dana asing sudah masuk pasar saham RI sekitar Rp14,50 triliun.

Menariknya, rata-rata nilai transaksi harian sudah lebih dari Rp20 triliun setiap hari-nya, bahkan beberapa kali pernah sampai lebih dari Rp30 triliun. Aktivitas pelaku pasar yang semakin ramai di bursa ini rasanya seperti mengulang masa pemulihan setelah pandemi Covid-19.

Dalam fase rotasi dari growth ke value ini, investor kemudian mulai lebih selektif memilih saham yang tidak hanya murah secara valuasi, tetapi juga memiliki fundamental bisnis yang solid dan arus kas yang kuat.

Di Indonesia, peluang tersebut terlihat cukup jelas pada sejumlah saham berbasis komoditas dan konglomerasi defensif yang valuasinya masih dinilai murah. Sementara secara sektoral bisnis, saham perbankan dan properti juga mulai dilirik di era suku bunga turun.

Saham komoditas

Masuknya dana asing terlihat jelas pada pergerakan saham-saham berbasis komoditas, terutama yang masih ada kaitannya dengan metal.

Hal ini seiring harga emas sampai perak baru-baru ini kembali pecah rekor. Komoditas metal lain juga mengekor, seperti nikel, tembaga, dan alumunium.

Nikel tercatat menjadi salah satu yang bergerak paling liar sejak akhir tahun lalu, baru-baru ini berhasil tembus US$ 18.000 per ton yang merupakan level tertinggi dalam tiga tahun.

Berkat itu, ada sekitar lima saham yang masuk top buy asing seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Astra International Tbk (ASII), PT Petrosea Tbk (PTRO), dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA).

Dari segi bisnis ANTM berhubungan dengan emas dan nikel, ASII secara bisnis merupakan holding, tetapi core-nya otomotid dan bisnis anak usahanya PT United Tractor Tbk (UNTR), yang baru-baru melebarkan sayapnya lebih banyak ke emas, setelah mengakuisisi Tamaban Doup.

PTRO meskipun tidak secara langsung ada bisnis mineral, tetapi memiliki eksposur bisnis ke mineral melalui kontrak jasa tambang dan EPC. Sementara MDKA tentu saja berhubungan dengan tembaga, selain itu anak usaha-nya EMAS yang baru IPO berfokus pada bisnis emas.

Lima saham itu sebenarnya secara valuasi sudah tidak mulai murah lagi, tetapi momentum harga yang sedang naik tampaknya masih bisa dinikmati pelaku pasar untuk mendulang cuan.

Saham konglo defensif yang valuasi masih murah

Berikutnya, pilihan saham konglo yang lebih defensif dan valuasi yang murah juga menjadi pilihan, termasuk yang baru-baru dari saham grup Boy Thohir yang mulai manggung.

Masih ada beberapa saham konglo murah dari grup Djarum sampai grup Salim yang belum bergerak. Kami meyakini tahun 2026 masih akan menjadi tahun konglo di mana ekspansi seperti merger dan akuisisi akan banyak terlibat di dalamnya.

Dalam konteks rotasi pasar saat ini, memilih saham konglomerasi yang masih memiliki cerita fundamental yang jelas atau diperdagangkan pada valuasi yang atraktif menjadi langkah yang relatif masuk akal.

Berikut beberapa pilihan saham konglo yang masih murah :

Saham Perbankan

Berikutnya, sektor perbankan juga seharusnya masih akan menjadi pilihan. Meskipun tahun lalu geraknya masih tertinggal dari saham konglo, tampaknya tahun ini bisa beda cerita.

Efek penurunan suku bunga yang sudah makin terasa pada suku bunga simpanan dan kredit perbankan, akan menurunkan cost of fund yang membuat biaya operasional lebih lancar, serta meningkatkan minat nasabah untuk ambil kredit.

Terkhusus saham BUMN, dividen juga dinilai semakin menarik dengan potensi yield mencapai lebih dari 7%. Hal ini karena penurunan harga tahun lalu membuat valuasi juga semakin atraktif, seperti terlihat di bawah saham bank Himbara mayoritas dihargai PBV yang lebih rendah dari rata-rata lima tahun:

Saham Properti

Terakhir, dari sektor properti juga menawarkan peluang yang menarik sebagai pilihan saham defensif dengan valuasi yang relatif murah.

Saham-saham properti sudah lama tertinggal selama era suku bunga tinggi, ketika biaya pendanaan mahal dan permintaan kredit cenderung tertahan. Namun, memasuki tahun ini, seiring munculnya harapan penurunan suku bunga dan ekspansi kredit perbankan yang lebih agresif, sektor properti mulai dilirik kembali pasar.

Perbaikan likuiditas perbankan membuka ruang bagi peningkatan penyaluran KPR dan kredit konstruksi, yang pada akhirnya berpotensi mendorong penjualan dan arus kas emiten properti.

Selain suku bunga turun, dari sisi kebijakan fiskal juga terdapat pelonggaran untuk sektor properti seperti perpanjangan insentif PPN DTP 100% hingga 2027 untuk pembelian rumah di bawah Rp5 miliar dan KUR perumahan dengan subsidi bunga 5%.

Ditambah lagi, valuasi sebagian besar saham properti saat ini masih berada di bawah rata-rata historisnya, sehingga menawarkan margin of safety yang relatif menarik bagi investor yang mencari saham defensif di tengah volatilitas pasar.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(saw/saw)

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |